"Sekarang gue pegang kartu lo. Jadi, ikut aturan gue."
***
warning : cw tw // blood, mention of death, and harsh words.
"Mama lupa siapa aku?"tanya Harden menatap perempuan paruh baya di hadapannya.
Perempuan paruh baya tersebut mengerutkan dahi. Seketika tatapannya berubah tajam dan raut wajahnya sarat akan kemarahan. "Untuk apa kamu mencari saya?"
"Aku di sini untuk ketemu sama Serena. Mama apakan Serena sampai seperti ini?"tanya Harden sembari menundukkan kepala melihat ke arah Serena yang ada di dalam gendongannya.
Perempuan paruh baya itu melirik Serena yang tidak sadarkan diri berada dalam gendongan Harden. "Ada hubungan apa kamu sama Anak sialan itu, hah? Pacarmu? Mending kalian putus. Saya nggak sudi pembunuh seperti kamu berhubungan dengan anak sialan ini."
"Mama nggak berubah ya? Kenapa Mama terus membenci aku? Kematian Hardan bukan kemauan aku, Ma. Aku juga terluka karena kejadian itu,"lirih Harden menatap ke arah Mamanya yang membuang muka.
Harden lihat perempuan itu tertawa mengejek. "Pembunuh seperti kamu akan menganggap sepele jika kamu tidak merasakannya sendiri. Jangan berani menatap saya! Saya benci tatapan itu. Pergi kamu dari sini!"
"Setidaknya ikut aku ke rumah sakit untuk menemani Serena, Ma. Pasti ini ulah Mama, kan?"
Pertanyaan yang Hardrn lontarkan membuat Perempuan paruh baya bernama Hana seketika tersenyum sinis. "Untuk apa saya ikut menemani anak sialan ini? Kalau mati, ya sudah tinggal kamu kubur saja."
"Mama nggak capek hidup dengan perlakuan jahat seperti ini? Setidaknya punya rasa simpati, Ma. Serena juga manusia. Mama nggak malu numpang di rumah Serena, menjadikan Serena sebagai penghasil uang, dan seenaknya menyiksa dia? Dimana hati nurani Mama sebagai seorang Ibu?"
Hana menatap sengit pada Harden. Seketika leher Harden di cekik dengan erat Hana sampai tubuh Harden membentur tembok. Kedua tangannya yang menggendong Serena seketika terlepas mengakibatkan tubuh Serena terjatuh ke lantai. Sekuat tenaga Harden mencoba melepaskan cengkraman kuat tangan Mamanya di lehernya.
"Kamu tidak pantas untuk hidup! Lebih baik kamu mati! Jangan pernah temui saya lagi! Kamu itu anak pembawa sial! Gara-gara kamu saya di ceraikan oleh Jeremy! Gara-gara kamu, saya di benci oleh Daksa! Mati kamu, Harden! Mati! Harusnya Hardan masih hidup sampai sekarang! Gara-gara kamu hidup saya hancur!"
Harden menepuk-nepuk kedua tangan Mamanya. Air matanya menetes setiap kali menahan rasa sakit karena cekikan Hana di lehernya mengakibatkan Harden sesak nafas. Harden memejamkan mata sejenak, memikirkan bagaimana caranya bisa lepas dari belenggu Mamanya dan segera membawa Serena ke rumah sakit.
"Maafin aku, Ma."
Bruk!
Harden dengan sekuat tenaga mendorong tubuh Mamanya hingga wanita paruh baya tersebut meringis kesakitan sebab lengannya membentur kursi. Sejenak Harden mengambil nafas dan segera menggendong Serena keluar dari rumahnya. Tidak ia pedulikan teriakan kemarahan Mamanya. Fokus Harden sekarang adalah segera membawa Serena ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan.
Mengenai Lavelyn, Harden bisa mengurusnya nanti. Nyawa Serena sekarang sangat penting. Sungguh, Harden merasa bersalah. Serena tidak pantas menerima semua perlakuan jahat Mamanya. Jika saja Harden tahu lebih cepat, mungkin ia akan menjauhkan Serena untuk selama-lamanya dari hidup Mamanya.
.
.
Harden bernafas lega saat Serena di pindahkan ke ruang inap. Ia pandangi wajah Serena yang masih belum sadarkan diri. Beberapa bekas luka di pergelangan tangan bahkan di wajahnya, membuat Harden meringis. "Maaf. Andai gue lebih peduli sama keadaan lo dan tahu Ibu Tiri lo itu adalah Mama gue. Mungkin, lo nggak akan dapat kesakitan ini. Gue malu sama diri sendiri."
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Cowok Idaman [END]
FanfictionIni kisah Lavelyn Areesha Hinaya mengejar lelaki idaman yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Namanya Astalian Harden Altama. Laki-laki yang bahkan tidak pernah menatap ke arahnya, tidak ingin di sentuh, irit bicara, dan selalu mengali...
![Cinta Cowok Idaman [END]](https://img.wattpad.com/cover/361119755-64-k786939.jpg)