36

341 26 6
                                        

Flashback

Serena dan Lavelyn duduk berhadapan di cafe depan kantor sembari menikmati coffe latte. Keduanya sesekali saling melirik, saling menunggu siapa yang akan membuka obrolan lebih dulu.

"Oke, gue ngomong duluan,"ucap Serena.

Lavelyn mengangkat bahunya. "Silahkan."

"Gue minta maaf,"ucap Serena menatap Lavelyn yang tersenyum simpul.

Lavelyn menjauhkan gelas dari bibirnya, kemudian meletakkan coffe latte di atas meja. "Maaf untuk apa?"

"Gue minta maaf untuk semuanya,"jawab Serena.

Lavelyn menghela nafas. "Ngapain minta maaf? Bukannya lo seneng akhirnya semua sesuai yang lo mau?"

"Ya, awalnya begitu. Tetapi, setelah gue berpikir selama 2 harian ini. Apalagi ucapan Astalian kemarin buat gue perlahan jadi mikir. Kalau gue gini terus, emangnya apa lagi yang bakal gue capai? Gue nggak munafik untuk bilang bahwa gue selalu pengen dapetin kebahagiaan karena selama ini Ayah nggak pernah bisa ngasih itu. Sama Astalian gue merasa nyaman. Dia tipe cowok gue banget. Meskipun dia cuek. Tetapi, dia peduli sama sekitarnya. Itu yang bikin gue amat obses untuk dapetin dia karena gue pikir bisa dapetin kasih sayang laki-laki lewat Astalian."

Lavelyn menyimak dengan baik sembari melipat kedua tangannya di dada.

"Gue seneng setelah tahu bahwa Mama Tiri gue adalah Mama Astalian. Jadi, gue bisa dengan mudah dapetin dia dengan bikin Astalian merasa bersalah. Nyatanya berhasil. Gue dapetin apartemen dan mobil. Itu hal yang amat membahagiakan karena akhirnya bisa hidup nyaman dan tenang. Tentu gue nggak puas cuma dapetin itu. Makanya gue nekat temuin Ayah dan Mama Astalian supaya punya banyak cara biar dia semakin kasihan dan terikat sama gue. Meskipun lagi dan lagi percuma dan pada akhirnya Ayah dan Mama Astalian masuk penjara."

Serena menjeda ucapannya dengan helaan nafas. "Sejak kedatangan lo ke apartemen memohon ke gue, hati gue rasanya sakit. Itu bikin gue kepikiran banget dan mulai merasa bahwa gue jahat udah bikin Astalian semakin tertekan. Apalagi Ansel mulai jauhin gue. Itu sih yang bikin gue makin mikir bahwa harus berhentiin semuanya sebelum semakin parah. Makanya hari ini gue nemuin lo dan bilang bahwa gue benar-benar kalah dari lo, Lavelyn. Gue minta maaf atas segala kesakitan yang lo rasain. Gue minta maaf sempat mau bakar laporan astama fair supaya Astalian benci sama lo. Gue minta maaf untuk semua hal jahat yang udah membekas di hati lo."

Serena menyerahkan kunci apartemen dan mobil. "Gue serahin ini sama lo. Gue nggak mau lagi nikmatin kemewahan ini. "

"Kenapa secepat ini?"tanya Lavelyn.

Serena mengerjapkan mata. "Gue paham lo nggak sepenuhnya bisa percaya. Tetapi, gue beneran nggak mau lagi bertindak jahat dan manfaatin Astalian. Lo nggak perlu relain dia buat gue karena dari awal Astalian cuma mau sama lo."

Lavelyn menganggukkan kepala. "Lo balikin sendiri kunci apartemen dan kunci mobil. Bukan hak gue untuk terima ini karena dari awal lo berurusannya sama Astalian."

"Oke, gue paham. Setidaknya, tolong jangan menghindari Astalian lagi. Dia cinta sama lo, Lavelyn. Kasih dia kesempatan,"mohon Serena.

Lavelyn mengerutkan dahi. "Kenapa gue harus ngikutin mau lo?"

"Lo jangan bohongi diri sendiri. Gue tahu lo nggak sepenuhnya mau hubungan lo sama Astalian jadi kayak gini. Gue bisa jamin untuk nggak ganggu kalian lagi."

Lavelyn tersenyum simpul. "Apa jaminannya?"

"Gue siap di penjara kalau sampai mengulangi hal yang sama dan gue akan mulai fokus ngerjain pekerjaan gue sendiri tanpa melibatkan lo. Apa itu sepadan?"tanya Serena.

Cinta Cowok Idaman [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang