Ini kisah Lavelyn Areesha Hinaya mengejar lelaki idaman yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Namanya Astalian Harden Altama. Laki-laki yang bahkan tidak pernah menatap ke arahnya, tidak ingin di sentuh, irit bicara, dan selalu mengali...
"Seberapa keras lo mencoba membuat dia menjauh dari hidup sahabat gue. Semesta akan selalu menunjukkan rencana busuk lo."
***
Lavelyn bernafas lega saat laporan Astama Fair sudah ia letakkan di atas meja kerja Astalian tepat pukul 07:30 WIB. "Akhirnya beres juga kerjaan gue. Pasti Harden bangga karena gue gercep banget. Iyalah gue kan mau jadi cewek idaman dia."
"Baru aja di omongin udah chat aja. Ya ampun kalau gini tuh jadi ingat dulu waktu kuliah si Harden ogah banget balas chat gue. Boro-boro mau chat duluan waktu sekelompok bareng. Baru kali ini dia sering chat gue duluan. Suatu kemajuan baik untuk hubungan romansa ini,"ungkap Lavelyn sembari mengembangkan senyum.
Tangannya asyik berselancar di layar ponsel menampilkan obrolan chat dengan Harden. Bibir gadis ini tidak berhenti mengukir senyum membaca setiap deretan kalimat yang di kirim oleh Harden. Seakan menjadi magnet penyemangat untuknya. Sesekali ia menempelkan tangan yang bebas di pipi sebab gemas akan balasan Harden. "Kamu tuh harusnya udah nggak bisa di sebut cowok idaman lagi. Tetapi, suami idaman. Aaa Mama mau nikah sama Harden."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Asta,"panggil Serena membuat langkah Harden terhenti.
Serena tersenyum simpul. "Kali ini lo suka sama cara kerja gue, kan? Pasti akan banyak sponsorjoin dan puas sama Astama Fair. Secara rundown dan konsep eventnya bagus banget."
"Iyaa itu semua berkat ide dan kerja keras dari seluruh tim Astama Group. Apalagi Lavelyn banyak membantu dalam proses pembuatan laporannya,"ucap Harden.
Senyum Serena sirna ketika nama Lavelyn lagi dan lagi disebut. Seakan usaha keras untuk membuktikan bahwa kemampuannya patut untuk di puja tidak begitu penting. "Bisa nggak, jangan sebut nama cewek itu terus?"
"Kenapa? Lo kesel? Marah? Untuk apa? Memang seharusnya gue banyak memuji Lavelyn atas effort dia. Kalau perlu, Astama Fair akan gue serahkan ke dia,"ujar Harden.