08

492 32 7
                                        

"Gue ngerasain jantung nih suka berdebar. Tetapi, gue nggak tahu artinya apa."

***


"Perasaan senyum-senyum mulu. Lagi patah hati ya?"tanya Daksa.

Lavelyn memutar bola matanya malas. "Dimana-mana orang senyum tuh tandanya lagi bahagia. Lagi jatuh cinta. Ngaco mulu lo, Kak."

"Ya biar beda aja gitu,"ucap Daksa sambil tertawa.

Lavelyn segera duduk di kursi untuk segera menikmati sarapan. "Gimana hotel?"

"Lancar jaya. Apalagi ada Jilian. Makin semangat kerja deh gue. Eh, kemarin pulang kerja gue lihat Asta ke toko bunga,"ujar Daksa.

Wajah Lavelyn seketika berseri. "Serius? Beli bunga apa dia?"

"Nggak tahu gue. Jelasnya, bawa bucket bunga gede sambil senyum-senyum,"jawab Daksa.

Lavelyn menopang kedua tangannya. "Kayaknya bunga buat gue deh."

"Ngarep lo,"desis Daksa.

Lavelyn terkekeh. "Nggak ada salahnya gue berharap. Lagian gue lagi masa pdkt sama dia."

"Dek, gue tahu lo suka sama Asta lama banget. Tetapi, gue rasa nggak gini juga. Nggak mungkin Asta mau pdkt sama lo,"heran Daksa tampak tidak percaya.

Lavelyn memicingkan mata. "Nggak percaya sama gue? Lo jadi Kakak gue berapa tahun? Ada nggak, gue pernah bohong?"

"Ya nggak pernah sih. Tetapi, rasanya nggak mungkin. Secara Asta jaga pandangan dari cewek. Lo malah bilang lagi pdkt sama dia. Nggak mungkin banget,"kekeh Daksa dengan kepercayaannya.

Lavelyn mengibaskan tangannya ke udara. "Terserah lo deh. Jadi males sarapan gue."

"Eh, mana boleh gitu. Nggak ada ya ceritanya skip sarapan cuma karena males,"ucap Paula.

Lavelyn tersenyum. "Nggak kok, Ma. Marahin aja tuh Kak Daksa. Pagi-pagi udah bikin badmood. Masa dia nggak percaya aku pdkt sama Astalian."

"Daksa, kamu nih. Harusnya percaya dong. Adik kamu tuh beberapa hari lalu habis dapet confess dari Asta. Pokoknya bilang tungguin dia percaya diri buat rasain cinta. Apalagi kejadian kemarin ya, DEk? Itu loh yang kamu nangis terus Asta nawarin peluk,"ucap Paula.

Lavelyn terkekeh ringan. "Ah, Mama. Jangan di bahas masalah nangisnya. Aku malu."

"Ngapain malu. Nangis itu wajar. Itu menandakan kamu beneran tulus suka sama Asta. Nggak usah malu. Perasaan kamu valid loh. Begitupun perasaan Asta yang masih ngambang. Pokoknya kamu terus aja dukung Asta supaya dia lebih percaya diri dan bisa mengekspresikan perasaannya. Anak Papa nggak boleh patah semangat,"nasehat Galen.

Lavelyn mengangguk. "Pasti aku akan semangat dalam mendapatkan hati Astalian."

"Hati kok diambil. Maruk lo sama organ tubuh sendiri,"sindir Daksa dengan mimik wajah mencibir.

Paula menepuk pundak Daksa. "Kamu nih suka banget isengin adiknya. Nggak boleh gitu, Daksa. Kita sebagai keluarga wajib support usaha keras Lavelyn. Dia aja dukung kamu sepenuhnya sama Jilian. Bahkan bantuin kamu waktu nembak Jilian 4 tahun yang lalu."

"Kalau misalnya Asta cuma php-in Lavelyn gimana? Percuma dong suka bertahun-tahun?"

Galen menggeleng. "Di dunia ini nggak ada yang nggak mungkin. Kalaupun pada akhirnya Asta bukan labuhan terakhir adik kamu. Setidaknya dia bisa rasain jatuh cinta yang amat bahagia. Urusan patah hati itu bisa di obati dengan adanya kita sebagai keluarga untuk menghibur. Gitu aja kok repot kamu tuh."

Cinta Cowok Idaman [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang