16) Si Anak Malang

11 3 0
                                        

Kedua kaki itu cukup panjang untuk berlari, tapi tak cukup kuat untuk memanjat lebih tinggi. Seluruh tubuhnya bergetar. Giginya bergemeletuk. Peluh membasahi pakaiannya yang telah dikenakan selama beberapa hari terakhir.

Malang sekali. Usianya bahkan belum mencapai sepuluh tahun. Agaknya ia tersesat dari sebuah rombongan atau semacamnya. Ia hanya memiliki pilihan untuk lari dan bersembunyi.

Sesuatu yang ia hindari lantas datang dari kejauhan. Kedua kakinya ramping. Taring demi taring seakan siap untuk mencabik. Kedua netranya menyisir pemandangan dengan waspada. Kemudian, datang kawannya yang lain. Hewan-hewan itu sudah pasti mengincar si anak laki-laki.

Anak itu berdoa. Ia terlihat seakan berbisik pada pohon di hadapannya. Memejamkan mata. Memeluk dahan. Menunggu.

Hari sudah hampir gelap ketika dua serigala itu akhirnya menyerah. Sayangnya, kepergian mereka belum tentu berlaku untuk sementara. Ingin sekali sang pohon berkata pada anak itu untuk bertahan lebih lama.

Si anak menangis. Mungkin itu alasannya ia masih berada di atas dahan. Ada bagusnya, lah. Si pohon lega karena anak itu kemudian tertidur di sana.

"Hera! Hera! Astaga. Bertahanlah, Nak!"

Ternyata, nama bocah itu Hera. Nama yang bagus menurut si pohon. Pagi itu satu orang datang bersama orang-orang berseragam. Pria itu lantas memeluk Hera di tengah tangis haru. Hera tak hanya lemas; ia cukup linglung karena kurangnya asupan air. Hera hendak mengatakan sesuatu saat kelopak matanya perlahan menutup dan tubuhnya kian lunglai.

Ah, syukurlah. Setidaknya Hera kembali pada orang terdekatnya.

◊▷◁◊

Jujur, aku masih mencerna kenyataan baru ini. Aku ... punya keluarga?

Aku tahu, memang ada banyak kemungkinan di alam semesta yang luas ini. Kami lupa sebutan kami di planet asal—bukan manusia, tentu saja. Hanya saja, ikatan di antara kami kian terasa.

Omong-omong cerita yang baru saja kusampaikan kudengar dari sang laci semasih ia menjadi sebuah pohon. Menurutku kisah ini perlu kusampaikan pada kalian. Kurasa, apa yang ia alami cukup mirip dengan pengalaman Ndi beberapa tahun lalu ... yang akan kuceritakan di lain waktu.

◊▷◁◊

Tema hari keenam belas: Buatlah cerita dengan tokoh utama seorang anak kecil yang sedang bersembunyi dari kejaran hewan buas. Tambahan, anak kecil di sini berumur sekitar 5-13 tahun ya.

Sang PengamatCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang