"Ndi, bangun. Arindi!"
Kau terbangun dan mendapati dirimu tengah bersandar pada sebuah pohon tinggi. Kau mengerjapkan mata.
"Sherina?"
Gadis itu, dengan pakaian yang masih sama tomboinya—begitu pun denganmu—terlihat waspada sekaligus panik. "Ya. Ini aku."
"Kenapa kita ada di—"
Belum sempat kau menyelesaikan kalimat, sebuah getaran membuat kalian berdua bangkit berdiri. Sebuah kedatangan, tepatnya.
Kalian pun bersembunyi di balik pohon berbatang lebar. Langkah demi langkah dilakukan agar dedaunan kering tak beradu dengan bagian bawah sepatu.
Lalu, kalian menunggu.
Seekor hewan—yang begitu asing—melangkah mendekat. Lamban. Bahaya. Tiap langkahnya menimbulkan getaran, tapi kini jelas ia lebih menjaga langkahnya agar tak terlalu destruktif.
Kalian berdua bergidik selagi mengintipnya. Tak hanya besar. Hewan itu berkulit tebal, bertanduk, juga bertaring.
Ia menggeram, mendekatkan wajahnya ke tanah seakan mencoba mencari jejak-jejak kalian berdua.
Tunggu. Tunggu. Kenapa aku menyaksikan ini, ya? Ini dunia macam apa?
Hei. Aku bertanya pada gagang dan laci. Hei. Kenapa jadi begini? Apa klian juga melihat mereka? Ndi dan Sherina? Jawablah aku.
Tidak ada jawaban. Semoga sih ini hanya 'mimpi' atau semacamnya.
Halo?
Oh, sial. Oh, tidak.
Ndi, kenapa kau malah menghampiri monster itu???
"Hei, kau."
Di belakangmu, Sherina masih bersembunyi seraya mencari benda yang bisa digunakan untuk memukul ... atau mungkin menusuk.
Kau berhasil meraih perhatian si hewan besar. Kedua matanya janggal—kelopaknya memiliki totol yang aneh. Tentu saja ia lantas menunjukkan taringnya, berikut air liur yang keluar setetes demi setetes.
Dan ... apa? Kau tersenyum?
"Ya, kau. Ini rumahmu, ya? Aku dan kawanku cuma mampir. Hehe."
Ndi, lari! Monster itu hendak melahapmu!
Kau tetap bergeming. Tak pula menyiapkan sesuatu di balik punggungmu. Aduh, apa sih yang ada di pikiranmu, Ndi?
Eh, apa? Tunggu. Taring demi taring hewan itu lepas? Begitu saja?
"Sher, sini. Tersenyumlah yang lebar dan kesemua taringnya nanti akan lepas."
"Hah?"
"Sini, percaya padaku. Dia persis seperti makhluk mitos yang ceritanya pernah kubaca."
"Mitos yang ... mana?" Sher mendekat ke arahmu meski belum mengenyahkan dahan pohon yang ia sembunyikan di balik punggung. Seperti dirimu, ia mencoba untuk tersenyum lebar.
Dua taring lain lepas. Jatuh begitu saja menuju tanah.
"Aku lupa judul ceritanya. Yang jelas, kalau kita bersikap tidak ramah, ia juga akan bersikap tak ramah. Kepribadiannya seperti cermin."
EH?
"Ini ... lama-lama gigi kita kering kalau tersenyum terus begini, Ndi."
"Tentu tidak. Ikuti aku." Kedua kakimu bergerak seakan alunan musik bertempo lambat dimainkan. Kau mendekati monster itu seraya ... berdansa? Ditambah gerakan bahumu membuatnya menggerak-gerakkan kepala seolah hewan besar itu sedang bermain.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sang Pengamat
Ciencia FicciónWinner DWC NPC 2024 ●●● Ketika aku utuh, aku sangat ramah. Namun, bila aku terbagi menjadi kepingan, aku bisa sangat membahayakan. Siapa aku? Aku hanya sang pengamat. ●●● [Karya ini diikutsertakan dalam Days Writing Challenge NPC 2024]
