"Ikut aku!" Paksa Sean menggenggam erat tangan sang adik, sementara ratu Karina mencari keberadaan raja Ethan.
"Apa yang terjadi?"
"Kurasa, seseorang yang kemarin menyerang kita telah datang kemari."
Mendengar itu, Sera menghentikan langkahnya membuat Sean ikut menghentikan langkahnya.
"Mustahil dia mengetahui keberadaan kita. Saat di hutan, kita memakai jubah yang menutup lambang kerajaan Luna, bahkan ketika aku terjatuh dari kuda. Aku memegang lengan untuk menutup lambang kerajaan," Jelas Sera, sementara Sean hanya terdiam.
"Jika dia tau, maka ini adalah sebuah rencana."
Ucapan Sera sukses membuat Sean terkejut bukan main, awalnya ia sangat ragu dengan ucapan sang adik. Namun setelah dipikir-pikir, mungkin ada benarnya.
Ia menyadari kejanggalan yang terjadi pada waktu itu, mulai dari batang pohon yang menghalangi jalan. Setelah ia pikir, tidak ada hujan dan angin kencang dalam dua hari itu hingga penyerangan dari seseorang tak dikenal di tengah hutan Asra.
Mereka terdiam di lorong ruangan yang sepi, Sera memastikan keadaan sang kakak sementara Sean masih bergulat dengan pikirannya sendiri.
Sedetik kemudian Sean berlutut seraya memegang kepalanya, sebuah ingatan kuat melintas di pikirannya.
Ingatan saat kerajaan Luna dibawah pimpinan mendiang raja Fedric William, raja yang dikenal kejam karena haus kekuasaan.
Sean meringis seraya memukul kepalanya, berharap ingatan tersebut kembali hilang. Jujur, ia sangat membenci ingatan itu, karena kerajaan Luna dikenal dengan raja yang baik dan bijaksana, namun karena keserakahan mendiang raja Fedric William, pada masa itu kerajaan Luna menjadi dibenci oleh rakyat.
"Apa kau baik-baik saja?" Sera ikut berlutut didepannya, tangannya mendekap bahu sang kakak lalu menarik kepala sang kakak kedalam dekapannya.
"Yang mulia..." Ucap pelan seorang pelayan membuat Sera mendongakkan kepalanya seraya menenangkan sang kakak.
"Raja menunggu kalian di ruangannya, mari ikuti saya karena situasi sedang tidak baik-baik saja,"
"Kau pergi saja dahulu, aku dan pangeran akan menyusul,"
"Tapi ini adalah perintah dari raja, raja menyuruh saya untuk menjemput kalian,"
"Baiklah, jika ini adalah perintah dari raja," balas Sera dengan anggukan lalu membantu sang kakak untuk berdiri.
Lagi.. mereka kembali bertemu dengan ruangan ini. Ruangan dengan nuansa cat berwarna putih dan biru dengan sebuah pigura besar berisi foto keluarga raja Ethan William di dinding ruangan tersebut.
Ruangan yang terkadang bersuasana menyeramkan dan mengintimidasi, namun juga terkadang bersuasana menyenangkan dan hangat.
Pintu kayu dengan ukiran bunga terbuka pelan, melihatkan ratu yang terduduk menatap sendu sementara raja yang bolak-balik berjalan seraya bergulat dengan pikirannya.
"Yang mulia.." suara lembut Sera membuyarkan lamunan raja dan ratu. Suara lembut tersebut membuat ratu beranjak dari duduknya dan menghampiri keduanya yang masih terdiam di pintu ruangan.
"Kalian baik-baik saja?" Kini bukan ratu yang bertanya, tetapi raja.
"Kami baik-baik saja, tetapi apa yang sebenarnya terjadi disini?" Kini Sera bertanya kembali.
Raja menghela napas lalu berbalik badan, berjalan kearah jendela ruangan. Helaan napas kembali terdengar sebelum raja membuka mulutnya.
"Apa kau ingat dengan penjaga hutan Asra?" Sera mengernyitkan dahinya tatkala mendengar pertanyaan raja, pikirannya tertuju pada sosok yang menyerangnya di hutan.
"Apakah ia adalah orang yang sama ketika aku dan Sera diserang didalam hutan?" Kini Sean yang membuka mulutnya.
Raja menjentikkan jarinya tanda jawaban, ia berbalik badan menghampiri mereka bertiga.
Suasana berubah menjadi mencekam ketika raja mengeluarkan pisau dari balik pakaiannya.
"Apakah kalian mengetahui lambang ini?" Tanya raja seraya menyerahkan pisau meletakkan pisau tersebut di meja. Dengan bingung, mereka berdua memperhatikan secara teliti lambang tersebut.
"Ini lambang kerajaan-" belum sempat menjawab, suara ketukan pintu membuat mereka serempak menoleh ketika memperlihatkan seorang pelayan dengan napas terengah-engah.
"Yang mulia raja Ethan, tuan Valen ingin menemui anda," ucap pelayan tersebut lalu menunduk hormat.
"Panggil dia kesini," balasnya cepat lalu kembali fokus kepada keluarganya yang masih terlihat bingung, sementara pelayan tersebut pergi untuk memanggil tamu tersebut.
"Bawa pisau ini, Sean. Pastikan pisau ini tidak dicuri," titah raja seraya menyuruhnya untuk pergi dari ruangan.
Pintu kembali terbuka, melihatkan seorang pria bertubuh tinggi tengah menunduk hormat dengan senyum tipis terukir diwajahnya.
Valen Dawson William, putra kedua dari mendiang raja Dawson Fedric William dan adik dari raja Ethan Dawson William.
"Lama tidak bertemu denganmu, putra-putri mu telah tumbuh dengan baik," Valen memulai perbincangan hangat, tampak senyuman terukir dari wajah mereka berdua.
"Aku sangat bangga denganmu kak, kau berhasil mendidik mereka dengan baik bahkan di usia putrimu yang masih sangat muda," sambungnya.
"Terimakasih, bagaimana keadaan kerajaan Sky?"
"Cukup baik, sedang ada perbaikan setelah terjadinya badai di pemukiman," balasnya dengan meneguk secangkir teh.
"Kuharap kau akan mengajak putra mu kemari, aku sangat ingin bertemu dan memperkenalkannya pada Sean," ucap raja Ethan dibalas senyuman oleh Valen.
"Terimakasih telah meluangkan waktumu untuk berkunjung kemari, lain kali aku akan mengunjungi kerajaan Sky dan akan kubawa Sean," ucap Ethan seraya melambaikan tangan tatkala Valen menaiki kereta kudanya.
Senyuman yang terukir perlahan memudar, pikirannya kembali tertuju pada pisau yang ia berikan pada putranya. Rasa cemas kembali menyelimuti pikirannya.
"Hilangkan pikiran itu," ucapnya pelan.
Di sisi lain, pangeran dari kerajaan Luna masih kebingungan dengan pisau tersebut, di tatapnya dengan teliti pisau tersebut tanpa melewatkannya sedikitpun.
Pisau dengan bewarna hitam dengan ujung yang tumpul, sepertinya pisau ini menancap pada pohon.
Sean bergeming, manik biru itu membulat ketika menyadari sesuatu yang sama dengan pisau ini. Namun ia tidak dapat memastikan karena tidak ada bukti yg kuat.
Ia kembali meletakkan pisau tersebut kedalam kotak dan menyimpannya dibawah ranjang.
Tatapannya beralih kepada sebuah kain putih yang kotor di samping kotak tersebut, diambilnya kain tersebut dengan hati-hati.
Rasa bingung kembali muncul ketika mendapati isi dari kain tersebut, sebuah surat yang sudah usang, dua tangkai mawar hitam dan satu tangkai mawar putih.
Tak mau ambil pusing, ia kembali membungkus kain tersebut dan menyimpannya kembali, ia tidak ingin memberitahu hal ini kepada anggota keluarganya lainnya. Terutama kepada raja dan ratu.
"Ku harap, ini bukan pertanda buruk."
~~~~~~~~~~
Terimakasih buat yang sudah membaca🫶🏻🫶🏻
Jangan lupa vote yaa🤩🤩
Blood Ties on wp
03.04.2024
KAMU SEDANG MEMBACA
BLOOD TIES
FantasyKisah pangeran Sean yang memiliki sifat pemberani dan penyabar lalu memilki seorang adik perempuan bernama Sera yang memiliki sifat ragu namun juga pemberani. Mereka berasal dari kerajaan Luna, kerajaan yang sangat dihormati oleh kerajaan-kerajaan l...
