Bab 8 Kalung yang hilang

577 35 0
                                        

Pada suatu sore setelah seminggu berlalu, Wu Qiqiong datang ke klinik untuk mengambil resep seperti biasanya.

Jiang Xiaoshuai perlahan melepaskan perban di sekitar kepalanya. Bulu mata keritingnya berkedip sedikit dan dengan sinis berkomentar, "Kepalamu yang sialan ini semakin kuat sekarang. Baru beberapa hari sudah mulai terbentuk kerak."

Wu Qiqiong tertawa ringan, "Berapa lama lagi aku akan pulih sepenuhnya?"

"Kurang lebih seminggu lagi!"

Wu Qiqiong mulai berguman lagi.

"Apa yang kau rencanakan?" Jiang Xiao menendangnya keras. "Kau tidak sedang memikirkan cara untuk megantam kepalamu di pertemuan berikutnya kan? Aku akan mengatakannya dengan jelas! Jika kau melakukannya lagi, carilah obatmu sendiri, jangan datang ke tempatku. Karena sangking seringnya kau datang, aku mulai curiga apakah aku yang sebenarnya kau sukai bukannya dia."

Wu Qiqiong menggaruk lehernya dan tertawa canggung.

Saat resep selesai, petir menyambar. Wu Qiqiong sebenarnya ingin melanjutkan percakapannya. Namun melihat kondisi cuaca, dia tidak bisa tinggal lebih lama. Dia dengan cepat mengenakan mantelnya dan menuju ke pintu. Jiang Xiaoshuai segera menariknya kembali dan memberikan payung kepadanya.

"Terima kasih. Aku akan mengembalikannya besok."

Dengan itu, dia melangkah ke jalan saat petir menyambar di langit.

Jiang Xiaoshuai tidak pulang ke rumah. Dia memutuskan untuk menginap semalam di klinik. Dia menutup semua jendela dan pintu dan menuju ke kamar tidur. Hujan mulai turun. Tetesan air hujan menghantam jendela dan membuat suara pitter-pattering. Tidur tidak ada dalam pikirannya. Dia duduk bersila di depan komputernya. Suara ketikan pada keyboard berpadu dengan suara petir dan hujan di luar.

Selama 3 hingga 4 jam berlalu, mata Jiang Xiaoshuai memerah karena berjam-jam di depan komputer. Akhirnya, Jiang Xiaoshuai mulai merasa mengantuk dan jatuh ke bantal untuk tidur.

Tak! Tak! Tak!

Tiga ketukan keras terdengar dari pintu.

Tak tak tak tak tak......

Sebuah massa dentuman drum yang intens terdengar.

Sialan! Jiang Xiaoshuai merasa kesal. Siapa yang datang mengetuk pintu pada jam segini? Dia mengenakan sandal kayu dan berjalan ke pintu dengan agresif. Dia berteriak ke arah pintu.

"Siapa?!"

"Xiaoshuai! Ini aku!" Suara Wu Qiqiong terdengar putus asa.

Jiang Xiaoshuai terhenti. Orang bodoh ini tidak kembali dari upaya bunuh dirinya lagi, kan?

Dia membuka pintu. Wi Qiqiong berdiri dalam kondisi sempurna. Perban di dahinya masih ada. Hanya sepatunya yang basah kuyup.

"Kupikir kau akan pergi main batu bata di hujan begini."

"Kau lucu. Sudah jam 1 pagi sekarang, mengapa aku akan mencarinya?"

"Aku meminjam uang dari ibuku untuk membeli kalung itu. Karena Yue Yue tidak menginginkannya, aku berencana untuk mengembalikannya besok dan mengembalikan uang kepada ibuku. Tapi setelah mencarinya, aku menyadari kalung itu hilang. Aku pikir mungkin aku meninggalkannya di tempatmu. Aku melihat cahaya di kamarmu masih menyala dan mengira kau masih terjaga. Barulah aku mengetuk pintumu."

Jiang Xiaoshuai menggaruk kepalanya dengan kesal dan memberi isyarat kepada Wu Qiqiong untuk masuk ke dalam.

Wu Qiqiong mencari ke sana ke mari, di setiap sudut, selama setengah jam. Dia bahkan menggunakan senter untuk mencari di saluran pembuangan. Namun tidak ada tanda kalung itu.

"Kapan terakhir kali kau melihatnya?" tanya Jiang Xiaoshuai.

Wu Qiqiong berusaha keras mengingat. "Mungkin saat aku memberikannya padanya. Setelah itu, aku tidak memperhatikannya lagi."

Jiang Xiaoshuai menjadi curiga. Dia meminta Wu Qiqiong menceritakan seluruh ceritanya. Setelah mendengarnya, dia memahami segalanya. Dia tertawa sinis dan menatap Wu Qiqiong dengan serius.

"Berhenti mencari. Kau tidak akan pernah menemukannya."

"Kenapa?" Wu Qiqiong bingung.

Jiang Xiaoshuai tahu dia agak lambat, dan memutuskan untuk memberitahunya dengan jujur.

"Dia menyelundupkan kalungmu. Mengerti?"

Wu Qiqiong menggeleng tidak setuju. Matanya penuh dengan tekad. "Itu tidak mungkin. Dia sudah mengatakan dia tidak menginginkannya, dan aku menyimpannya di tasku. Dia tidak mungkin mengambilnya lagi dari tasku, kan?"

"Kita tunggu dan lihat saja."

Wu Qiqiong optimis tentang hal itu. "Tidak masalah jika dia mengambilnya. Mungkin hatinya menjadi lembut setelah upaya bunuh diriku. Jadi dia menerima kalung itu secara diam-diam."

Jiang Xiaoshuai memberi pukulan keras ke kepala Wu Qiqiong dan menggeram, "Jika aku Dewa Petir, aku akan menyambarmu sampai mati!"

(BL Terjemahan) Counter AttackTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang