06 || Pangeran Tetangga

31.6K 2.3K 1.6K
                                        

Cerita ini tidak gratis, kamu harus bayar dengan vote dan komen sebelum baca!

Cerita ini tidak gratis, kamu harus bayar dengan vote dan komen sebelum baca!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

.

.
.

Alsya mengendap-endap di tepi dinding rumahnya seperti ingin kabur. Kedua kakeknya sedang mengobrol soal pekerjaan di ruang kerja, sedangkan kedua orangtuanya berada di dapur sedang masak bersama untuk membuatkannya makan siang.

Setelah berhasil keluar dari rumah, Alsya langsung berlari ke arah pos satpam di dekat gerbang rumah yang baru ia tinggali sejak seminggu yang lalu.

"Pssttt, Payung!"

Alsya terperanjat kaget ketika ada suara seseorang dari arah pos ronda. Ia pun menoleh. Bibirnya seketika mengerucut ketika melihat Yonio dan satu orang satpam berada di sana.

"Om Yuni ngapain di situ?" tanya Alsya seperti berbisik.

"Aca ngapain di situ?" balas Yonio balik bertanya. Pria dua puluh empat tahun itu terkekeh, lalu menghampiri Alsya.

"Aca mau main, Aca mau cali teman," jawab Alsya.

"Papa sama Mama tahu?"

Alsya menggeleng. Bocah tersebut memposisikan jari telunjuknya di depan bibir.

"Ssttt, Om jangan kasih tahu ke Papa Mama, Aca kelual lumah diam-diam," jawab Alsya.

"Nakal, ya, kamu. Nanti kalau dicariin gimana?"

"Aca cuma sebental," jawab Alsya lagi.

"Om temani, ya?" tawar Yonio. Tidak mungkin ia membiarkan anak kesayangan majikannya itu keluar dari rumah sendirian. Bisa diamuk Alzhei nanti.

"Um, otey." Alsya pasrah, daripada ia diadukan kepada orang tuanya.

Yonio membukakan pintu gerbang. Sebelum itu ia mengirimkan pesan kepada Alzheigara untuk meminta izin. Masalah diizinkan atau tidak itu urusan belakangan, yang terpenting ia sudah meminta izin, pikirnya.

Alsya berjalan lebih dahulu. Baru empat langkah kakinya berpijak dari gerbang, kakinya sudah berhenti lagi.

"Nggak jadi?" tanya Yonio.

Alsya tidak menjawab. Ia justru menunjuk ke arah seorang anak laki-laki yang sepertinya seumuran dengannya. Anak laki-laki itu seperti sedang mencari sesuatu di antara tanaman di depan rumah tetangganya.

"Om Yuni, itu siapa?"

"Yuni Yuni Yuni, Yuni emak gue," gerutu Yonio dengan suara pelan. Laki-laki itu kemudian menoleh ke arah yang ditunjuk Alsya.

 𝐔𝐌𝐁𝐑𝐄𝐋𝐋𝐀Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang