08 || Aca Merajuk

22.8K 1.5K 767
                                        


Alsya terus menelisik penampilan mamanya dari atas sampai ke bawah

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Alsya terus menelisik penampilan mamanya dari atas sampai ke bawah. Kemudian beralih ke arah papanya. Di mana hadiah untuknya? Ia tidak menemukan apa pun yang bentuknya berupa hadiah.

"Di mana hadiah untuk Aca?" tanya anak yang baru naik kelas II SD tersebut.

"Kemari, Sayang," pinta Visya. Alsya pun mendekati mamanya.

Visya melirik Alzhei untuk meminta bantuan melalui tatapannya.

"Coba Aca tebak, di perut Mama ada apa di dalamnya?" tanya Alzhei mengulum senyum.

Alsya terdiam sambil berpikir, setelah itu baru ia menjawab, "Kata Bu Guru, di dalam perut manusia ada berbagai macam organ tubuh. Em ... contohnya hati," jawab Alsya dengan sangat percaya diri.

Agraven terkekeh. "Sejak kapan hati jatuh ke perut, anak manis?" celetuknya dengan terkekeh.

"Sejak Aca yang bilang," jawab manusia paling muda di sana. Giginya yang rapi langsung terlihat ketika ia tersenyum lebar.

"Pantas aja Aca dapat peringkat kedua dari belakang," ledek Galva. Seketika wajah Alsya cemberut.

"Geva diam aja, deh," balas Alsya. Sejak anak kecil itu masuk sekolah dasar, ia mengganti panggilan Galva dari Akek Gava menjadi Geva. Entah apa artinya, cukup Alsya dan kakeknya itu saja yang tahu. Alzhei saja tidak diberitahu apa alasannya.

"Sekarang, di perut Mama ada ...." Alzhei menggantungkan ucapannya.

"Ada apa?" tanya Alsya sudah tidak sabar.

"Ada dedek bayi," sambung Alzhei.

Ruangan kerja Agraven mendadak hening.

Mata Alsya mengerjap berkali-kali. "Dedek bayi?" gumamnya.

Visya mengangguk dengan bibir tersenyum.

"Rav, kita bakal punya cucu lagi?" tanya Galva. Agraven mengangguk spontan. Ia masih terkejut, tapi ia ikut merasakan senang luar biasa seperti yang dirasakan Alzheigara, anaknya.

Agraven dan Galva sudah berkali-kali mengucapkan selamat kepada Alzhei dan Visya. Namun, si kecil Umbrella Alsya belum juga bereaksi apa-apa.

Visya pun berjongkok di depan putrinya.

"Aca nggak senang, hm? Aca bakal punya adek bayi, loh," ucap Visya.

Alsya perlahan menggeleng. Bibirnya mencebik kesal dan perlahan bergetar. Matanya juga mulai berkaca-kaca.

"Aca ndak mau punya adek bayi!" pekiknya. Detik berikutnya ia berlari keluar dari ruangan Agraven.

"Aca!"

"Ca!"

"Sayang!"

Semua orang memanggil, tapi satu pun tidak Alsya pedulikan. Ia terus berlari menuju ke luar rumah.

 𝐔𝐌𝐁𝐑𝐄𝐋𝐋𝐀Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang