>11<

87 20 0
                                        

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Selamat sore ...

Apa kabar? Semoga kalian sehat selalu ... aamiin.

Gimana sama bab-bab sebelumnya? Cukup menghibur atau kurang?

Semoga cukup ya ... dan jangan lupa buat klik vote (☆) sekarang juga ... udah? Makasih udah klik vote hehehe.

Satu lagi ... jangan lupa tinggalkan komen kalian disini ... juga share cerita ini ke temen-temen kalian.

Selamat membaca ...

11. Ketahuan

Seisi kantin yang tadinya riuh seketika menjadi senyap, membuat Adesya dan Syafa saling pandang. "Kenapa?" tanya Adesya.

Syafa hanya mengedikkan bahu, karena dirinya sama seperti Adesya yang tidak tahu apa-apa.

"Assalamualaikum," salam Adira yang baru datang.

"Wa'alaikumussalam."

"Duduk sini." Adesya bergeser agar Adira dapat duduk disampingnya. "Dir lo tau gak, kenapa anak-anak tadi seketika diem?"

"Emang pada diem? Kayaknya bisa aja," jawab Adira yang memang saat dia masuk, semua terlihat seperti biasa.

"Iya loh. Gue sampe heran, kalo ada dosen aja mereka biasa aja."

"Paling lihat Kak Dylan masuk," tebak Adira.

"Lo bareng Kak Dylan?" tanya Syafa yang sejak tadi diam. Adira mengangguk. "Kenapa memangnya?"

Adesya yang mendengar ucapan Syafa langsung menatap Syafa. "Oh pantas! Pada panas ternyata," ucap Adesya yang sudah paham.

"Panas? Kan emang musim kemarau, Sya. Wajar kalo panas."

Syafa seketika lemas mendengar ucapan Adira yang terlewat polos. "Sya! Jelasin ke Dira!" titahnya.

"Jelasin apa?" tanya Adira. Dia langsung menghadap pada Adesya, meminta penjelasan pada gadis itu.

Dengan senang hati Adesya menjelaskan sebuah fakta tentang kakak tingkat merekan yang bernama Dylan Domanic.

Dylan Domanic adalah mahasiswa tingkat akhir yang terkenal dengan ketampanannya. Bukan hanya karena wajahnya yang tampan, tapi juga sikapnya yang terkenal sangat ramah dari pada ketiga sahabatnya. Dylan juga di juluki si pintar ke-3.

Karena itu, Dylan memiliki banyak sekali penggemar. Walau ramah, Dylan belum pernah terlihat dekat dengan seorang gadis.

"Dan lo Ra!" tunjuk Adesya. "Lo adalah perempuan pertama yang jalan sama Kak Dylan.

Syafa mengangguk, menyetujui ucapan Adesya. "Gue kasih saran aja. Jangan pernah jatuh hati sama Kak Dylan," tegas Syafa.

Adira mengangguk yakin. "Karena Kak Dylan beda kan?" tanya Adira.

"Iya," jawab Syafa dan Adesya dengan kompak.

"Kalo itu aku tau. Yang jadi masalah kali ini adalah aku gak jalan sama Kak Dylan. Itu harus di garis bawahi," tegas Adira.

****

Di meja lain, Dylan langsung di interogasi oleh teman-temannya. Baru memisahkan diri sebentar dengan yang lain, Dylan sudah kembali jadi topik panas beberapa hari ke depan.

"Lo beneran suka dia?" tanya Malik to the point.

"Kenapa?" Dylan bertanya balik, dia merasa tidak ada yang salah dengan jalan ke kantin bersama. Hal ini termaksud wajar, bukan hanya dia yang ke kantin berdua. Lagi pula dia dan Adira jalan masing-masing, bukan jalan bersisian.

Terima Kasih Dylan✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang