05. Buku
Sepanjang mata memandang hanya ada rak-rak besar berisikan berbagai macam jenis buku. Mulai dari buku penelitian sampai sebuah novel. Bagi pencinta buku, ini lah yang dinamakan surganya kutu buku.
Aroma buku baru dan lama bercampur menjadi satu. Menimbulkan kesan tersendiri bagi setiap orang.
Saat ini Adira sedang menemani dua sahabatnya untuk mencari buku Pengantar Dasar Matematika. Sudah lebih dari 20 menit mereka mencari, tapi tak kunjung ketemu.
"Mending tanya anak HMP," celetuk Adesya.
Adira dan Syafa langsung saling pandang dan kompak berkata, "Tanyain Mas Raden!"
"Udah gue chat, cuman belum dibales."
"Coba cek lagi," saran Adira.
"Harusnya udah dibales," pendapat Syafa untuk meyakinkan Adesya.
Baru saja membuka layar kunci ponselnya, pesan yang tadi dikirim pada sang kakak sudah mendapat balasan.
📩Mas Raden
Ambil sendiri di hmp.
Buat siapa?
✉️Adesya [Anda]
Oke
Syafa
Setelah membalas pesan kakaknya, Adesya segera mengajak mereka untuk ke HMP. "Beneran ada nih?" tanya Syafa memastikan, dia tidak mau jika ini hanya akal-akal Adesya.
"Bener," jawab Adesya. "Kalo gak percaya. Biar gue sama Dira aja, lo cari lagi Fa."
"Enak aja, kita kan satu kelompok," tolak Syafa.
Mereka membutuhkan buku itu untuk tugas kelompok yang baru saja di berikan oleh dosen pengampu.
****
Ruangan ukuran 4×4 meter dengan cat berwarna dasar putih dengan beberapa gambar tentang matematika. Siapa yang masuk ke dalam ruangan ini pasti sudah bisa menebak jika ini adalah ruangan HMP.
"Yang menggambar siapa?" tanya Adira yang penasaran. Ini adalah kali pertama dia datang ke ruangan itu, setelah menjadi mahasiswi tetap.
"Temen," jawab Raden.
"Kirain Mas Raden," celetuk Syafa.
"Gambar aja gak bisa, Fa," ujar Adesya.
Mereka sedang menunggu Raden yang sedang mencari buku Pengantar Dasar Matematika. "Udah diambil sama yang punya."
"Yang punya siapa, Mas?" tanya Adesya.
"Abid."
"Yang mana sih?" tanya Adesya.
"Butuh banget?" tanya Raden pada Syafa.
"Iya, Mas. Buat tugas deadline lusa," jawab Syafa.
"Bentar, gue tanya ke orangnya dulu."
"Jangan lama-lama," pinta Adesya.
Ketiga gadis itu memilih menunggu Raden yang sedang menelepon temannya. Karena sudah hampir waktunya sholat dhuhur, Adira pamit ke masjid. "Kalian gak sholat kan?"
"Iya," jawab Adesya.
"Aku ke masjid dulu ya. Maaf gak bisa temani kalian," ucap Adira tidak enak hati.
"Bareng, Ra," ujar Raden.
"Bukunya Mas?" tanya Adesya dan Syafa kompak.
"Ada. Ayo ke masjid dulu," ajak Raden.
"Gak bohongkan?" tuding Adesya.
"Kagak. Lagian kebiasaan kalo butuh ngomongnya mendadak," heran Raden.
"Jangan salahkan kami, Mas. Dosennya aja yang suka gitu," jawab Syafa.
Mereka akhirnya pergi ke masjid bersama. Saat akan naik ke tangga masjid, Adira tersandung dan hampir terjatuh. Karena itu dia tidak sengaja menyenggol orang. "Maaf," ucapnya tulus.
"Lo gapapa?" tanya orang yang Adira senggol.
"Gapapa, Kak."
"Kalo ngomong gak bisa natap mata ya?" tanya orang itu.
Karena merasa heran, Adira mengangkat pandangannya. "Kak Dylan?"
"Masih inget. Gue kira lo lupa," jawab Dylan dengan santai. "Mau sholat kan?"
Adira mengangguk dengan kepala yang kembali menunduk. "Buruan masuk, udah mau iqomah. Buat yang kemarin sorry, gue banyak tanya."
"Gapapa," jawab Adira. "Kalo gitu, aku duluan kak."
Dylan memperhatikan Adira yang akhirnya menghilang di balik tembok tempat wudhu perempuan. Lalu dia masuk ke tempat wudhu untuk mencuci kaki sebelum ikut masuk ke dalam masjid.
Ketika Dylan masuk, sholat sudah di mulai. Karena tidak mau mengganggu teman-temannya yang sedang beribadah, dia menunggu di shaf bagian belakang. Hal ini bukan sekali dua kali dia lakukan. Sejak mengenal Abid, dia selalu menemani Abid beribadah jika dia sedang longgar seperti sekarang.
****
Selesai sholat Adira melipat mukena miliknya. Dia selalu membawa mukena sendiri. Ini adalah pembiasan dari Umma Aira yang sudah mengajarkannya sejak usianya baru 7 tahun.
"Ra," panggil Adesya.
"Iya?"
"Mau ikut ke perpus lagi?"
"Udah dapat bukunya?"
"Udah, di taruh loker sama Kak Abid. Yang punya ternyata Kak Abid," jelas Adesya.
"Abid?" tanya Adira.
"Lo gak kenal. Bingung gue jelasin nya, bukan temen SMK Mas Raden. Jadi lo gak akan kenal," ucap Adesya.
Adira mengangguk paham. "Kalian gak mau makan dulu?"
"Jadi laper gue," ucap Adesya.
Dengan senang hati, Adira merangkul Adesya. "Makan dulu, terus nugas. Aku juga mau ke perpus lagi. Mau cari buku Kalkulus," jelas Adira.
"Kenapa gak pinjam sekalian, Ra?" heran Adesya.
"Enggak enak. Kalo di perpus ada, pinjam perpus aja."
Syafa menatap datar dua sahabatnya yang sudah membuat dia menunggu lama sendirian. "Ngobrol nya lanjut nanti. Ini mau makan dulu atau langsung?"
"Makan!" jawab Adesya dan Adira kompak.
"Oke. Kita makan ayam geprek level 1, biar gak iri," putus Syafa sebelum Adira mengajak mereka makan seblak lagi.
"Setuju! Adira juga masih harus di pantau pola makannya."
"Aku bukan bocil," kesal Adira dengan wajah kesal yang memerah.
"Kalo gini kayak bocil ya, Sya?" tanya Syafa pada Adesya yang mengangguk setuju.
Wajah bulat putih yang memerah ketika marah, membuat kesan lucu bagi sahabat-sahabatnya.
#07Mei2024
KAMU SEDANG MEMBACA
Terima Kasih Dylan✓
SpiritualNazima Adira Alifa Al-Ghifari, gadis berusia 18 tahun yang baru masuk ke dunia perkuliahan. Di usia yang baru beranjak dewasa ini merupakan masa pencarian jati diri. Di masa ini pula, dia jatuh cinta. Jatuh cinta adalah fitrahnya manusia, setiap man...
