33. Gadis berambut pendek
Liburan semester untuk tiga bulan ke depan akan dihabiskan Adira ke Aceh. Dia sudah mendapat izin dari Umma Aira dan juga Baba Zaidan untuk tinggal di Aceh bersama dengan kakek-neneknya.
"Kak lo benaran mau ke Aceh nih?" tanya Aldo mengintip Adira yang sedang membereskan barang-barang yang akan dia bawa.
"Hem."
"Gak usah lah," bujuk Aldo. "Besok aja kalo gue libur panjang."
"Ini libur lama Do. Tiga bulan loh, mending ke rumah nenek," jawab Adira.
"Sama adiknya mah kayak gitu...."
"Gitu gimana?" tanya Adira tidak mengerti dengan sikap manja adiknya yang tiba-tiba keluar saat tahu kalo dia akan liburan kurang lebih satu bulan di Aceh.
"Dua minggu aja deh gimana?" tawar Aldo.
"Kenapa sih?"
"Gue mau ikut, Kak."
"Tinggal ikut," jawab Adira santai.
"Enak banget kalo ngomong. Gue libur sekolah cuman tiga minggu, lo disana satu bulan nantinya. Masa gue kesini sendiri," jelas Aldo.
"Terus?"
"Lo enak masih liburan seminggu lagi."
"Izin seminggu kan gapapa," saran Adira pada adiknya yang ternyata merasa iri karena mendapat jatah libur lebih lama.
"Gak berani," jawab Aldo.
Adira memijat keningnya yang terasa pusing. "Masuk Do! Pusing lihat kamu kayak gitu."
Aldo merengut, tapi tetap berjalan masuk sesuai titah kakaknya. Dia langsung mendudukkan diri di atas kasur milik Adira. "Jangan lama-lama," pinta Aldo dengan wajah memelas.
"Gak janji," jawab Adira.
"Lo gak kangen sahabat lo apa?"
"Enggak. Masih ada internet okey?"
Aldo tak bisa berkata-kata lagi. Dia kembali berdiri dan beranjak keluar kamar tanpa sepatah kata pun. Hal itu membuat Adira hanya bisa menggeleng kepala heran dengan sikap kanak-kanak adiknya.
"Aldo.... Aldo...."
****
Adira hanya diam menunggu dua sahabatnya mengeluarkan suara lebih dulu. Dia sebenarnya tahu tujuan keduanya yang tiba-tiba datang ke rumah tanpa memberi tahunya lebih dulu karena pesan singkat yang memberitahu mereka jika liburan semester pertamanya akan dua gunakan untuk ke Aceh.
Sebuah kota yang sangat jauh dari kotanya saat ini. Bahkan untuk sampai disana, harus menggunakan jalur udara agar lebih cepat sampai.
"Lo gak mau jelasin apa-apa?" tanya Syafa angkat suara lebih dulu. "Lo gak mau ajak in kita sekalian gitu?" tanyanya lagi.
"Kan kemarin udah Fa. Lagian ini emang sedikit mendadak sih! Cuman aku tiba-tiba pengen ketemu nenek-kakek. Terus juga libur kita kan lama. Bulan terakhir baru nanti mulai sibuk organisasi lagi."
"Tapi.... Lo tinggalin kita Ra," ucap Adesya dengan wajah masam.
"Cuman sebulan, Sya. Itu gak lama loh.... Selama itu kan kalian juga bisa habisi waktu bareng keluarga." Adira mencoba memberikan pengertian untuk Adesya yang paling terlihat marah akan keputusan mendadaknya ini.
"Jujur. Awalnya cuman seminggu atau dua minggu aja. Tapi aku butuh waktu sendiri. Dan Aceh pilihanku. Aku harap kalian mau mengerti.... kali ini aja," mohon Adira yang jujur karena tidak mau mereka bertengkar.
Adesya langsung memeluk Adira, "Okey. Jaga diri selama disana ya.... Jangan lupa kasih kabar, gak harus setiap hari... minimal tiga kali seminggu."
"Sama aja itu... minimal seminggu sekali gapapa Ra."
"Kok gitu?" tanya Adesya tidak terima dengan pendapat Syafa. Dia masih memeluk Adira.
Adira mengangguk setuju dengan saran Syafa. "Lagian minimal seminggu bukan berarti aku bakal mengabari kalian seminggu sekali juga, Sya."
"Bener loh?" Adesya melepas pelukannya lalu menyodorkan jari kelingkingnya pada Adira. "Insyaallah aku usahakan ya."
Adesya mengangguk senang.
*****
Anak-anak kecil saling mengejar sambil tertawa dengan riang. Para orang tua, hanya mengawasi mereka dari jauh.
Dylan berjalan sambil melihat-lihat, dia sudah membuat janji dengan gadis yang akan dijodohkan padanya. Seharusnya, mereka bertemu semalam. Namun, karena gadis itu berhalangan hadir mereka sepakat mengundurnya hari ini.
Sejujurnya Dylan tak menyangka jika gadis itu akan memilih taman sebagai tempat pertemuan keduanya. Apalagi di jam tiga sore, terik matahari masih cukup terasa terik.
"Gue belum kasih kabar," gumam Dylan.
Dylan mengeluarkan ponselnya yang sejak tadi dia abaikan. Ketika layar menyala, sudah ada beberapa pesan masuk dari gadis bernama Jemima-gadis yang dijodohkan.
📩Jemima
Selamat sore, Kak Dylan. Maaf nanti sedikit terlambat.
✉️Dylan [Anda]
Sore. Tak masalah.
Setelah membalas pesan tersebut, Dylan kembali memasukkan ponselnya. Dia kembali berjalan menyusuri taman tersebut dan setelah beberapa menit mengelilingi taman sendirian. Dylan mencari tempat duduk yang kosong, tapi sialnya semua tempat duduk yang disediakan di taman sudah diduduki.
Tidak mau ambil pusing, Dylan duduk lesehan di bawah pohon. Karena bosan, Dylan memainkan ponselnya. Dari pesan terakhir yang dikirimnya tadi belum ada balas, tapi pesan tersebut sudah dibaca.
Baru saja membuka aplikasi permainan online, seorang perempuan berambut pendek berjalan mendekat ke arahnya.
"Permisi," ucap perempuan itu sopan. "Benar dengan Kak Dylan?"
Dylan diam memandang perempuan itu sebentar, "Jemima?"
Perempuan itu tersenyum senang, "Iya Kak. Maaf udah buat kakak nunggu lama."
"Gapapa," jawab Dylan singkat. "Sorry, semua tempat penuh."
Jemima mengangguk, "Gapapa. Udah biasa kok...." Jemima ikut duduk di samping Dylan. Tindakan itu sedikit membuat Dylan terkejut.
"Udah biasa?"
"Iya. Sering kok ke sini, tempatnya sejuk kalo udah mulai sore. Bisa lihat sunset juga," jelas Jemima tanpa di minta.
"Oh iya... kita belum kenalan resmi kak," ucap Jemima mengulurkan tangan pada Dylan.
Dylan diam tak bergerak, lalu berkata; “Kata teman gue. Yang boleh menyentuh perempuan itu cuman mahramnya. Karena perempuan itu bagaikan ratu."
Jemima tetap tersenyum dan menarik tangannya kembali. "Dari teman muslim kakak?"
Dylan mengangguk, dia merasa sedikit bersalah. Tapi dia juga merasa perkataannya baru saja itu benar.
"Baru kali ini ada yang menerapkan hal itu selain seorang muslim. Aku yakin, teman kakak adalah muslim baik."
"Bener... sangat baik."
Kedua sama kembali diam, mereka sama-sama menikmati pemandangan matahari tenggelam. Taman ini terletak di pinggir kota. Walau jauh, taman ini selalu ramai pengunjung.
Karena merasa terlalu lama hening, Dylan menoleh ke Jemima yang tersenyum manis menatap matahari terbenam.
"Gadis ini terlalu baik untuk saya sakiti Tuhan," batin Dylan.
#16Juli2024
Assalamualaikum
Hai! Gimana? Bagus gak? Ada typo lagi gak? Kalo ada tanda i :)
Terus udah vote belum? Belum? Yuk Vote dululah...
Wah makasih ya udah vote sama komen
KAMU SEDANG MEMBACA
Terima Kasih Dylan✓
SpiritualNazima Adira Alifa Al-Ghifari, gadis berusia 18 tahun yang baru masuk ke dunia perkuliahan. Di usia yang baru beranjak dewasa ini merupakan masa pencarian jati diri. Di masa ini pula, dia jatuh cinta. Jatuh cinta adalah fitrahnya manusia, setiap man...
