Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Selamat hari raya "IDUL ADHA"
Siapa yang besok mau korban juga? Cung sini!
Happy reading guys!
22. Kenalan Baru
Adesya mengantar Aldo ke kamar sang kakak lebih dulu. Sebelum itu, dia sudah meminta Adira untuk pergi lebih dulu ke kamarnya. Karena sudah ada Syafa yang menunggu mereka. Dia tidak enak jika harus membuka Syafa menunggu lebih lama sendirian.
"Duluan aja Ra. Gue anter Aldo ke kamar Mas Raden dulu."
"Maaf repoti kamu," ucap Adira. Gadis itu merasa tidak enak hati karena sahabatnya harus mengantar adiknya ke kamar Raden. Jika biasanya Aldo akan masuk sendiri, hari ini berbeda karena Raden sedang ada temannya.
"Aman kok," jawab Adesya. Lalu Adesya langsung mengajak Aldo ke kamar Raden, "Ayo Do!"
"Iya Kak Sya," jawab Aldo. Sebelum itu, dia berpesan pada kakaknya, "Kalo mau pulang telpon aja. Jangan chat gak akan kebales Kak, sibuk mabar nanti."
"Iya. Udah sana ikutin Adesya. Jangan nakal," ucap Adira.
"Gue bukan bocil Kak," sahut Aldo sambil jalan mengikuti Adesya yang sudah jalan lebih dulu. Tapi langkah Adesya pelan, sehingga Aldo dengan mudah menyusul teman kakaknya itu.
Tok tok tok, Adesya yang mengetuk pintu. Dia tidak langsung masuk setelah mengetuk pintu, karena dia sadar ada laki-laki lain yang ada di dalam kamar sang kakak. Karena itu, Adesya memilih menunggu sampai pintu kamar dibuka oleh pemiliknya.
"Kenapa?" tanya Raden yang membuka pintu. Tapi pertanyaan itu seketika menguap dan dia lupa pada adiknya, karena Raden mendapati Aldo, "Gue kira lo bercanda," ujar Raden.
Lalu Raden mempersilahkan Aldo untuk masuk, “Masuk aja Do! Kenalan dulu sama temen-temen gue."
"Iya Mas," jawab Aldo.
Sebelum masuk ke kamar, Aldo mengucapkan terima kasih pada Adesya, "Makasih Kak Sya. Gue jadi repotin," ucap Aldo tulus.
"Sama-sama, gue balik ke kamar. Anggap rumah sendiri." Aldo mengangguk dan tersenyum manis. Jika Adesya adalah teman perempuan yang satu sekolah dengan Aldo, pasti sudah lompat-lompat sangking senangnya melihat senyum Aldo.
"Masih disini?" heran Raden yang baru sadar dengan kehadiran adiknya.
Adesya yang sudah terlanjur kesal pada kakaknya, hanya tersenyum tak berniat menanggapi. Lalu berlalu pergi kembali ke kamarnya.
"Cewek emang beda," gumam Raden.
"Kan mereka spesial Mas," sahut Aldo.
"Iya ya. Ayo masuk!"
Mereka segera masuk, lalu Raden mengenalkan Aldo pada teman-temannya.
"Siapa Den?" Malik bertanya karena Raden datang dengan remaja laki-laki yang wajahnya terlihat familier, tapi tidak tahu siapa.
"Adek sepupu lo?" tebak Dylan.
"Salah semua," jawab Raden. "Dia adiknya Dira. Namanya Aldo. Dan mereka temen-temen gue Do."
"Yang itu namanya Malik. Terus sampingnya, Dylan. Dan terakhir temen gue yang paling ganteng dan kalem Abid."
"Kalo Kak Abid gue dah pernah kenalan, Mas. Mie ayam jualannya Kak Abid enak soalnya," ucap Aldo.
Malik dan Dylan langsung melotot ke arah Abid. Karena dipelototi Abid bertanya, "kenapa?"
"Menang banyak lo," teriak Malik. "Dylan yang maju duluan aja gak tambah deket kok. Lah lo langsung adiknya cok."
Plak!
"Bjir! Kenapa nabok gue cok?" teriak Malik.
"Beli obat sana!" usir Dylan dengan santai bagaikan tuan rumah.
Raden langsung meminta maaf dengan berbisik, "Sorry Do. Temen gue yang bener cuman satu."
Aldo tertawa, "Gapapa. Malah enak kalo gini."
"Jadi Kakak bertiga suka sama Kak Dira?"
"Iya!"
"Enggak!"
Dylan dan Malik menjawab bersamaan tapi dengan jawaban yang berbeda. Sedangkan Abid hanya diam tidak mau ikut campur.
"Saran gue mundur aja Kak."
"Kenapa?" tanya Dylan.
"Saingan kalian terlalu masyaallah untuk dapatin Kak Dira," ucap Aldo jujur.
"Udah ada calon?" Kepo Malik.
"Wah! Jangan salah, Kak Dira banyak yang naksir."
"Wah ngeri! Mundur aja Lan," saran Malik.
"Kok jadi ngomongin Kak Dira. Gue kesini mau ngajak Mas Raden mabar."
"Main juga lo?" tanya Malik.
"Ayolah mabar. Aldo mayan jago," ucap Raden.
****
Adesya kembali dengan wajah suram, dia langsung menjatuhkan dirinya dengan kasar di kasur. Syafa dan Adira yang melihat dibuat ngeri, syukurnya kasur Adesya tidak keras.
"Kenapa lo?" tanya Syafa, "Tadi pas jemput Dira senyam-senyum, balik-balik suram kayak TPU."
"Mas Raden nyebelin. Masa gue yang gedenya segini dilupain."
"Mau PMS kayaknya," bisik Syafa pada Adira.
"Coba ceritain dulu," pinta Adira.
Adesya lalu bangkit dan duduk menghadap pada dua sahabatnya. Dia mulai menceritakan apa yang terjadi tanpa di tutup-tutupi.
Setelah mendengar cerita Adesya, kedua sahabat gadis itu kembali saling pandang. "Bener Fa, emang mau PMS," bisik Adira.
Adesya memang akan sangat mudah merajuk jika sudah mendekati fase menstruasinya. Paling parah adalah saat masa menstruasi, karena Adesya akan menjadi gadis yang pemarah dan tidak bisa diajak bercanda dikit.
"Lo mau haid kan?" tanya Syafa dan Adesya mengangguk.
"Harusnya tiga hari lagi kalo gak mundur," jawab Adesya.
"Banyak-banyak minum air putih, Sya."
"Apa hubungannya Ra?" tanya Syafa.
"Biar sehat. Adesya kalo mode marah kan gak mau minum air putih, selalu es teh jumbo. Kasian organnya," jelas Adira.
"Bener juga," ucap Syafa setuju.
Jika ada yang mendengar obrolan ketiga gadis itu, mereka tidak akan percaya jika mereka adalah mahasiswa. Dengan topik yang sangat random seperti hari ini sangat menghibur mereka. Hal itu juga sedikit membuat mereka lupa akan tugas yang menanti ketika sampai di rumah.
#16Juni2024
KAMU SEDANG MEMBACA
Terima Kasih Dylan✓
SpiritualNazima Adira Alifa Al-Ghifari, gadis berusia 18 tahun yang baru masuk ke dunia perkuliahan. Di usia yang baru beranjak dewasa ini merupakan masa pencarian jati diri. Di masa ini pula, dia jatuh cinta. Jatuh cinta adalah fitrahnya manusia, setiap man...
