>35<

73 16 0
                                        

Assalamualaikum, selamat malam. Sorry ya guys misalkan kalian bakal nemu banyak banget typo, soalnya aku belum sempet cek ulang. Hari ini tuh banyak banget drama dari bangun tidur sama ini mau tidur lagi...
Tapi walau gitu, tetep harus update kan... kalo ga update kasian nanti gantung hehehe
Selamat membaca

35. Aceh

Aceh. Apa yang kalian pikirkan jika mendengar nama kota ini? Bagi Adira Aceh adalah kota kelahiran Baba Zaidan dan Amma Jihan. Kota ini juga menyimpan banyak kenangan untuk orang yang tinggal bahkan hanya sebatas singgah. Kota yang menjadi list tujuan pertama ketika libur panjang tiba.

Sudah sebulan lebih Adira tinggal di Aceh bersama kakek-neneknya. Dia sangat menikmati liburannya kali ini. Namun, liburan pasti akan ada akhirnya. Sekarang sudah waktunya dia pulang.

Selama disini, Adira benar-benar meninggalkan ponselnya. Dia hanya akan memberi kabar tanpa membalas pesan yang dikirim padanya.

"Dira masih mau disini," rengek Adira pada Nenek Azrina.

Sedangkan Baba Zaidan yang menjemput putrinya langsung karena Adira terus meminta mundur untuk kepulangannya. "Kakak gak kasihan Umma? Umma udah nunggu kakak dari seminggu lalu... katanya mau pulang tapi batal terus."

"Benar kata Baba. Dira sudah lama di sini, kasihan Umma sudah rindu pada putrinya," bujuk Nenek Azrina. "Nanti, kalau Dira libur lagi. Boleh main kesini lagi."

"Benar nek?" Nenek Azrina mengangguk. "Baba dengarkan?" tanya Adira pada baba Zaidan yang mengangguk. "Kakak boleh kesini lagi."

Mendengar izin langsung dari Baba Zaidan, Adira merasa sangat senang. Dia langsung memeluk Baba Zaidan, "Terima kasih, Ba. Dira mau berberes dulu. Malam semua."

Setelah mengatakan itu Adira berlari ke kamar yang dia tempati selama sebulan ini. Para orang tua hanya memaklumi tingkah Adira yang kadang masih seperti anak kecil.

****
Tuk!

Baba Zaidan menoleh karena terkejut dengan suara benturan gelas dan meja di malam yang sunyi. Ternyata pelakunya adalah Nenek Azrina. "Kenapa Umma belum tidur? Ini sudah malam," tanya Baba Zaidan.

"Putra Umma saja belum tidur. Bagaimana Umma bisa tidur?" tanya Nenek Azrina membalik pertanyaan Baba Zaidan. "Apa yang menganggu pikiran?"

Baba Zaidan mengangguk.

"Adira?" tebak Nenek Azrina.

"Iya Umma. Zai hanya takut... takut jika kisah Samu dan Jihan akan terulang kembali."

"Kenapa harus takut? Ada Allah bersama kita Zai.... Sebagai orang tua, kita memang wajib menjaga anak-anak. Tapi bukan berarti harus mengekang mereka dengan pilihan kita."

"Tapi...."

"Coba dengarkan dulu dari sisi Dira," saran Nenek Azrina.

"Zai inginnya seperti itu. Tapi Dira tak pernah cerita, Zai tahu karena diam-diam mengawasi dari jauh Umma," jujurnya.

"Berarti Zai sudah tahu kan apa yang perlu dilakukan?"

Baba Zaidan mengangguk, lalu mencium tangan Nenek Azrina yang sudah tidak selembut dulu, karena mulai keriput di kikis usia tua. "Terima kasih, Umma."

"Jangan tidur terlalu larut," pesan Nenek Azrina.

"Iya Umma."

Selepas Nenek Azrina pergi, Baba Zaidan jadi merindukan istri tercintanya. Terakhir memberi kabar, tadi pagi saat sampai di bandara.

Ketika dering pertama, Baba Zaidan berniat mematikannya karena takut istrinya sudah tidur. Tapi karena rasa rindu pada sang istri, Baba Zaidan tetap menunggu sampai dering berikutnya yang berganti dengan suara istrinya.

"Hallo! Assalamualaikum Abang! Abang kenapa belum tidur?" Suara lembut milik Umma Aira membuat Baba Zaidan merasakan kerinduan yang lebih. Dia ingin cepat kembali ke sisi istrinya.

"Wa'alaikumussalam. Baru selesai ngobrol dengan Umma. Aldo sudah tidur?"

"Sudah. Bagaimana keadaan Umma dan Aba?"

"Alhamdulillah baik," jawab Baba Zaidan.

"Alhamdulillah."

"Ai!" panggil Baba Zaidan.

"Dalem?"

"Abang rindu sangat."

Tawa Umma Aira pecah karena satu kalimat yang dia dengar dari sang suami. "Ini belum ada 24 jam kita pisah, Bang," jawab Umma Aira setelah tawanya reda.

Baba Zaidan tidak merasa marah karena ditertawakan istrinya. "Tetap saja. Kita jauh Ai," manja Baba Zaidan.

"Abang tak ingat umur nih!"

"Kenapa bawa-bawa umur?" tanya Baba Zaidan. "Abang sadar. Abang sudah tua kan? Sudah cocok juga dipanggil Opa."

"Biarkan anak-anak yang memilih. Abang jangan berkata seperti itu di depan anak-anak. Mereka masih kecil," tegur Umma Aira.

"Kakak sudah besar loh Umma," sanggah Baba Zaidan yang menyebut Adira dengan panggilan kakak.

"Tetap saja. Kakak baru juga lulus, kuliah pun masih agak lama, Bang."

"Tapi kalo jodoh kakak sudah didepan mata. Mau ditolak?"

Pertanyaan Baba Zaidan seketika membuat Umma Aira yang ada diseberang telepon diam tak bisa berkata-kata lagi. "Terserah pada kakak saja. Dan Abang tak boleh ikut campu! Okey?"

"Baik-baik. Disana sudah larut sekali. Segera tidur, terima kasih sudah menemani Abang."

"Abang juga. Habis ini harus langsung tidur!"

"Siap Nyonya Ghifari," jawab Baba Zaidan dengan tegas.

****

Jam satu siang tadi, Adira dan Baba Zaidan sudah kembali ke Jakarta. Mereka sedang mencari jemputan dari Buya Haidan.

"Buya masih lama?" tanya Adira yang sudah menunggu hampir satu jam.

"Lima menit lalu balas kalo sudah deket, Kak. Kakak lebih sabar ya."

"Dira sabar. Cuman Dira ngantuk."

Kedua mata Adira merah dan ada kantung mata, seperti mata panda saja.

"Kakak semalam gak tidur?" Adira mengangguk, "Semalam ada drama korea yang udah Dira tunggu updatenya. Jadi semalaman Dira maraton, hehehe."

Baba Zaidan hanya bisa menggeleng. Ingin marah pada putrinya, tapi tak bisa. Dia tak mau putrinya kembali melarikan diri dengan alasan libur semester yang panjang.

"Gak baik Kak."

"Iya. Dira tau kok, cuman sekali ini doang Ba. Next time enggak, tapi kalo libur kuliah mungkin iya. Umma pasti juga bakal suka kok."

"Eh!" Kaget Baba Zaidan karena Adira membawa Umma Aira. "Jangan dong kak! Nanti Baba dicuekin Umma."

"Hehehe.... gak janji ya Ba."

Baba Zaidan mengangguk pasrah. Dia hanya bisa berharap, putrinya tidak mengajak istrinya untuk menonton drama bersama. Karena jika hal itu terjadi, maka Baba Zaidan akan diabaikan oleh Umma Aira untuk sesaat.

Walau sesaat, tapi Baba Zaidan tetap tidak mau. Bagi Baba Zaidan, waktu bersama Umma Aira itu adalah waktu yang spesial.

#20Juli2024

Terima Kasih Dylan✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang