Terkadang rasanya leher terbakar hingga pagi
Seperti aku hidup berpasangan dengan api
.
.
.
Jevano terbangun dengan kepala pusing, efek dari mabuk-mabukan semalam. Setengah sadar ia meraba ke nakas guna mencari ponsel nya tetapi teringat bahwa ponsel nya sedang diperbaiki.
"Ah putus lagi aja." Ucap nya teringat apa yang terjadi semalam, sembari keluar kamar, mendapati Mike yang sedang memasak.
"Udah bangun den." Sapa Mike yang terdengar seperti sindiran.
"Pinjem handphone dong Mike, tolong telponin ke bang Jimmy, loe punya nomer nya kan?." Pinta Jevano, sembari meminum air putih.
Mike menunjuk kearah meja makan, memberi kode pada Jevano untuk melakukan panggilan sendiri.
"Cewek gue gak ada info apa apa ke elo?." Tanya Jevano, sembari menghubungi Jimmy, manajer tim esport nya.
"Gak ada, kayaknya Kak Suzy udah bener bener eneg sama loe."
Jevano ingin membalas, tetapi Jimmy sudah mengangkat panggilan nya, membuat Jevano langsung fokus pada sang manajer. Meminta untuk tak latihan hari ini karena harus melakukan sesuatu yang lain.
"Makasih Mike, loe gak ada jadwal ya kan? Temenin gue beli handphone baru ya."
"Lho bukannya kata loe handphone lama masih bisa diperbaikin."
"Emang tapi hubungan gue yang gak bisa diperbaikin kalau gue gak lekas ngehubungin cewek gue."
"Lah kan biasanya elo langsung di blokir."
"Tapi kan kalau nomer baru gak langsung di blokir, juga nanti kalau di blokir gue bisa ngehubungin temen temen nya."
"Ckck nyusahin ya loe berdua kalau lagi berantem. Lagian udah tau prempuan paling sensi masalah tanggal penting, elo nya malah asik asikan sama mantan."
"Anjir, mana gue tau dia dateng juga kan gue ngerayain pesta kejutan buat loe ya, padahal ulang tahun loe juga udah lewat." Jawab Jevano, sembari mencoba nasi goreng buatan Mike.
"Tapi kan gak ada yang nyuruh loe buat beramah-tamah sama mantan."
"Loe sebenarnya temen gue apa temen nya cewek gue sih? Bukannya bantuin cari solusi malah nyudutin."
"Dih kalau ada opsi nikung buat apa gue bantuin loe."
"Brengsek emang."
.
Suzy terkejut mendapati sosok familiar berada didapur nya, sedang sibuk bercengkrama dengan bahan dan alat dapur. Menggunakan celemek dengan rambut dikuncir.
"Siapa yang ngizinin loe buat masuk kesini?." Tanya Suzy dengan nada tak ramah.
*Emang sekarang perlu izin? Aku punya akses juga kok, juga password nya belum kamu ganti kak."
Suzy terdiam sebentar, karena terlalu banyak menangis ia sampai lupa mengganti password apartemen nya. Juga mengambil kartu akses dari Jevano.
"Udah sana balik, ngapain juga loe disini." Kata Suzy masih dengan nada tak ramah.
"Mandi dulu kak, sarapan juga. Nangis semaleman pasti butuh energi ya kan, apalagi mata nya sampe bengep."
"Heh gak ada yang nyuruh loe buat ngomentarin keadaan gue, udah sana pulang, urusin diri loe sendiri juga mantan mantan loe. Oh apa loe peduli sama gue karena status kita udah mantanan? Kayak nya sih gitu."
Jevano berusaha untuk tidak terpancing, meski leher nya serasa terbakar oleh kata kata Suzy yang mengandung bara api. Jevano curiga jangan jangan Suzy kerasukan banaspati alias roh jahat berbentuk api.
"Duduk dulu sih cantik, siapa juga yang bilang kalau kita ini mantanan, kita masih pasangan kok. Udah jangan ngomel ngomel melulu lah kakak cantik. Kalau pagi udah badmood bisa bisa seharian badmood terus."
"Ya gue kan badmood juga gara gara loe ya, anjir lah."
"Yuk brunch yuk, sayang banget makanan disediain tapi gak di makan."
Suzy mendengus, ya meski kesal tapi Jevano benar tentang tak boleh membuang makananan. Tapi bukan berarti hanya karena Jevano memasak makanan kesukaan nya maka Suzy akan mencair begitu saja.
.
Suzy nya pemarah wkwkwkwk, Jevano demen nyari masalah
KAMU SEDANG MEMBACA
Trouble
أدب الهواة8/? BTS x Suzy song fiction Smoga hidup kita trus begini-gini saja Walau sungai meluap dan kurs tak masuk logika Smoga kita mencintai apa adanya Walau katanya skarang ku bisa masuk penjara (Cincin by Hindia)
