05

252 54 6
                                        

Dan jika bicara tentang masa depan aku pun bingung tak punya tebakan
Lagu cinta untuk akhir dunia lihat kami nyanyikan ini bersama

.

.

.

Minggu ini Jevano kembali ke kediaman orang tua nya yang berada di kota sebelah, untuk memenuhi undangan pernikahan dari sepupu nya. Biasanya Jevano pulang dengan kemauan sendiri saat menjelang libur turnamen dan sisa nya pulang dipaksa oleh Suzy, malah Suzy lebih rajin mengunjungi orang tua nya daripada ia selaku putra kandung.

Orang tua nya memiliki 3 anak yang semua nya laki laki dan sibuk di ibu kota. Membuat Suzy yang merupakan anak tunggal dari duda super sibuk pun rela menghabiskan waktu akhir pekan nya untuk berkunjung ke rumah orang tua Jevano. Pun Bunda Jevano lebih menyayangi Suzy daripada para putra nya, mungkin efek tak kesampaian memiliki anak prempuan.

"Suzy kenapa gak diajak sih Vano?." Tanya Bunda, begitu Jevano bergabung di ruang tengah.

"Mereka kan putus lagi Bund." Sahut Jonathan, adik Jevano yang merupakan mahasiswa baru di universitas nya.

"Kamu ngapain lagi sih Vano?." Tanya Bunda, kali ini dengan nada penuh interogasi.

"Tau, loe bikin Suzy naik darah lagi pasti." Sahut Javier, abang nya yang berbeda usia 5 tahun.

"Kalian tuh udah 3 tahun, harusnya mikir lebih kedepan buat hubungan bukannya kamu cari marah melulu Vano." Sambung Bunda lagi.

"Dia gak mau nikah itu bund, dia cuma mau stuck pacaran aja. Daripada gitu kan mending aku aja sama Suzy."

"Iya tau bund, abang tuh pacaran demi hasrat bukan demi masa depan, soalnya hobi nyosor Kak Suzy dan gak tau tempat sampe kena omel. Mending Kak Suzy sama aku ya kan biar tetep privat."

"Loe berdua gak laku ya sampe mau ngerebut bini dari saudara sendiri." Sahut Jevano.

Bunda hanya geleng-geleng, untung saja dia seorang dengan pemikiran terbuka dan cukup modern. Kalau tidak mungkin sudah jantungan karena  celetukan asal bunyi dari anak anak nya.

.


Jevano cukup terkejut begitu melihat Suzy muncul di halaman rumah nya, bersama dengan ojek online dan koper, sudah seperti datang dari kota sebrang saja.

Mengingat ia masih diblokir dan saat Jevano menghubungi nomer baru tak juga dibalas, membuat Jevano berpikiran bahwa Suzy enggan untuk menemani nya.

"Gue kesini bukan buat loe tapi karena Bunda nyuruh gue, jangan kepedean."  Sembur Suzy dengan nada judes.

"Yaelah kak, baru nyampe udah tantrum, turun dulu ayo kedalem, pasti sayang nya aku lelah karena perjalanan jauh naik kereta. Padahal kan dikirim pesan, yang kamu mau berangkat sama aku gak, eh tapi aku kan di blok ya, dikirim pesan dari nomer baru pun sama aja gak direspon."

"Bacot banget lah si Jevano ini, ngajak berantem gak dimana mana."

"Astaga, emang Jevano si paling serba salah." Kata Jevano, sembari membantu Suzy membawa barang bawaan nya.

Begitu mereka masuk, disambut oleh keluarga Jevano versi lengkap karena sang Ayah sudah pulang kerja.


.

Suzy terkejut bukan main saat melihat seseorang yang sangat familiar muncul bersama orang yang Jevano kenalkan sebagai adik bungsu dari ayah nya.

"Papa."

"Suzy."

Ya ada ayahnya, si duda tampan datang bersama dengan tante dari Jevano yang usia nya mungkin tak terpaut jauh dari Suzy. Seingat Suzy, ayah nya izin untuk keluar kota karena ada undangan pernikahan tapi siapa sangka ternyata pernikahan sepupu Jevano.

"Mampus loe kak, diumur segini punya adek bayi." Bisik Jevano.

"Jevano loe emang ngeselin ya." Balas Suzy dengan berbisik.

"Eh tapi sepupuan masih bisa nikah ya kan?." Tanya Jevano lagi, kali ini dengan suara agak besar.

"Eh, Suzy anak kamu ay?." Tanya Tante Jevano pada ayah Suzy.

"Iya, ini anak gadis aku satu satu nya." Jawab Ayah Suzy.

Suzy masih terlalu syok sebenarnya, tapi mencoba memasang wajah semanis mungkin. Meski rasanya ia ingin memukul wajah Jevano yang terlihat sangat menjengkelkan.

.

TroubleTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang