"Gak jadi nih mabal-nya?" tanyaku menggodanya.
Eka mendengus, "Bercanda doang, elah. Senakal-nakalnya aku, gak mungkin nekat cabut kayak teman kamu yang ini." ia mendelik ke arah Azra yang duduk di belakangnya, membuat Azra menoleh dengan ekspresi bingung.
"Tumben gak ngamuk, Zra. Kamu disindir Eka, tuh." candaku. Padahal biasanya ketika disindir sedikit saja oleh Eka ia bakal mengamuk dan berakhir adu mulut tanpa ujung. Membuat telingaku sakit dengan suara melengking Eka.
"Baé, lagi ada yang lebih penting." Azra menyeringai sebelum kembali fokus ke ponselnya. Aku melihat ekspresi tidak percaya di wajah Eka, terlihat seperti tidak terima karena lawannya baru saja mengabaikannya.
Pada awalnya jam kosong terasa menyenangkan di tengah-tengah sibuknya kbm yang kami jalani, tetapi jika terlalu lama kami juga bisa bosan. Berbeda dengan Eka yang berbakat melukis, aku yang bertangan kikuk ini tidak bisa membuat karya seni di jam kosong seperti yang Eka lakukan di mejanya hanya bermodalkan pena seharga Rp2000.
Fanny menghampiriku, mengajakku untuk mengunjungi perpustakaan. Biasanya Eka enggan diganggu untuk diajak ke perpustakaan, jadi aku menyetujui ajakan Fanny tanpa ikut mengajak Eka yang tengah membuat mahakarya.
"Kok gak sama Randy?" aku bertanya begitu kami keluar dari kelas, berjalan di koridor yang terkena hembusan angin panas akibat teriknya cuaca siang ini.
"Dia lagi sama teman-temannya di kelas MIPA." Fanny menjawab dengan tetap menatap ke depan. Fanny adalah cewek berwajah imut yang sedikit lebih pendek dariku, biasanya ia menggunakan gaya rambut twin tail yang menambah kesan imutnya. Meski terlahir dari keluarga superkaya, Fanny tidak serta merta menyombongkan dirinya. Ia pandai memposisikan dirinya sebagai siswa pada umumnya di sini. Meski dari sisi manapun sudah terlihat jelas status sosialnya jauh di atasku atau anak kelas yang lain.
Gedung perpustakaan sebenarnya menyatu dengan gedung utama yang terdiri dari ruang kepala sekolah, ruang tata usaha, ruang guru, dan ruang kesiswaan. Hanya saja mereka terpisah karena perpustakaan sendiri terbagi menjadi dua lantai yang tidak terhubung dengan lantai dua gedung utama. Begitu memasuki pintu kaca buram, rasa sejuk dari air conditioner menerpa tubuh kami, sangat kontras dengan angin panas yang kami rasakan tadi.
Setelah mengisi buku daftar kunjungan, aku mengekor Fanny yang memilih buku bacaan. Hanya Fanny, karena sejak awal niatku di sini hanya untuk ngadem, untung-untung jika ketiduran. Tak perlu waktu lama untuknya mendapatkan buku yang sesuai.
Sayang sekali perpustakaan luas ini sepi, padahal ada banyak opsi untuk menikmati literatur. Seperti sofa, meja bersekat, meja yang luas untuk diskusi, lesehan, bahkan beanbag yang bisa digunakan untuk tidur. Aku menyeretnya satu ke tempat lesehan di depan jendela yang menghadap ke halaman depan sekolah, tepat di sebelah Fanny membaca bukunya. Jalan raya di depan sekolah terlihat jelas dari atas sini, terlihat lancar karena gerbang sekolah sudah ditutup.
"Kamu gak ngambil buku?" Fanny bertanya melihatku memainkan ponsel dengan mata berat. Aku merasa ditenggelamkan ke dalam beanbag yang sangat lembut dan nyaman ini.
"Hmm? Lagi gak minat, nanti aja." balasku seadanya. Ada wifi gratis di sini, mana mungkin aku melewatkannya. Bahkan sejak tadi ada beberapa siswi yang bergerombol di lantai satu hanya untuk menumpang wifi gratis dan malah membuat bising dengan gosip mereka.
Entah sejak kapan, tapi sepertinya aku ketiduran di beanbag yang supernyaman ini. Semoga saja Fanny tidak keberatan, habisnya suhu yang dihasilkan dari air conditioner terasa sangat pas untuk tidur siang.
"Yuna! Eh, tidur?" seseorang menyapaku, membuatku tersentak bangun. Aku panik hingga mataku langsung terasa segar, aku pikir seorang guru yang menegurku.

KAMU SEDANG MEMBACA
Roda Gigi Terkecil Sekalipun
Teen FictionR-15 Masa remaja khususnya SMA, adalah waktu dimana mereka dihadapkan dengan pilihan sulit, soal-soal sulit, bahkan penyesalan terbesar terkadang dimulai dari sini. Namun, faktanya banyak kisah pilu yang disembunyikan dibalik senyuman manis anak-ana...