SMA Negeri Garuda Pertiwi pagi ini diwarnai dengan keributan kecil di tiap kelas membicarakan tentang lengsernya ketua OSIS yang lama, dan pelantikan ketua serta pengurus OSIS yang baru tepat setelah upacara.
Setelah selesai menyanyikan lagu wajib dan nasional serta berdoa, pembaca protokol tidak kunjung memerintahkan pemimpin upacara untuk melapor. Alih-alih, satu pasukan masuk, berjalan dengan langkah tegak maju yang terdengar serempak dan gagah. Bentuk gedung sekolah yang mengelilingi lapangan membuat suara derapan langkah mereka menggema.
Pasukan itu adalah pengurus OSIS yang baru. Mereka kompak mengenakan almamater beludru berwarna ungu sebagai identitas mereka yang begitu kontras dengan siswa biasa. Suara derapan kaki berhenti tepat ketika pengurus OSIS baru itu berada di depan sang saka merah putih.
Pembaca protokol menyebutkan nama-nama anggota yang dilantik dan posisi mereka dalam organisasi siswa intra sekolah SMAN Garuda Pertiwi untuk masa bhakti 2022-2023. Setelah mengikrarkan sumpah sambil memegang bendera kebangsaan, susunan anggota pengurus OSIS resmi berubah.
"Nama Ketuanya siapa? Kurang kedengaran tadi." tanya Yuna pada Eka yang tengah mengipasi dirinya menggunakan topi. Dari deret belakang pasukan upacara, Yuna tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari mata panda seorang cowok yang berdiri paling depan dari barisan pengurus OSIS yang baru. Alis tebalnya membuat terlihat tegas, tapi sebaliknya mata lelah itu terlihat butuh istirahat.
"Dapa, anak 11 MIPA... MIPA berapa gitu aku lupa." Eka menjawab seadanya, mengeluhkan tentang teriknya matahari yang ia rasakan senin pagi ini.
"Dapa..." Yuna membeo sambil terus menatap si ketua OSIS yang baru.
Tak perlu waktu lama untuk mereka berikrar dan bersumpah di depan bendera kebangsaan itu. Lalu mereka kembali ke tempat mereka di samping barisan kelas 10.
Akhirnya upacara telah selesai, seluruh siswa membubarkan diri menuju kelasnya masing-masing. Khusus untuk para pengurus OSIS yang baru, mereka harus menuju ruang OSIS terlebih dahulu. Mereka semua langsung melepas jas almamater ungu beludru identitas mereka, mengaktifkan kipas di mode tercepatnya lalu menghempaskan diri ke sofa dan lantai, memenuhi ruangan yang ukurannya hanya setengah dari ruang kelas biasa. Bel terdengar berbunyi nyaring pertanda pembelajaran dimulai. Suasana sekolah berangsur-angsur menjadi sepi.
"Ah, ta*! Sial banget di hari pelantikan gini kita malah disuruh kerja pagi buta!" Gilang, bendahara OSIS yang baru ini membanting almamaternya di lantai untuk dijadikan bantal.
"Iya, siapa sih yang ngelakuin!? Caper banget! Buat apa coba!?" Fasya, yang menjabat sebagai bendahara menimpali. Semua pengurus OSIS hari ini kerepotan sejak pagi buta, khususnya para trimitra.
Pagi ini, mereka dipaksa pergi ke sekolah sebelum matahari terbit, mereka diminta memutar otak untuk menutupi sebuah bukti terror berupa vandalisme dengan cat semprot warna merah di dinding kantor kepala sekolah. Sebuah teks yang sebenarnya tidak terlalu besar, namun mencolok akibat kontrasnya warna yang digunakan. Teks itu berbunyi: 'ngaku atau mati'
"Paling juga anak kelas 12. Bukannya dua tahun yang lalu juga?" Fasya bicara lagi. Ini bukan pertama kali terror ini terjadi. Hampir setiap tahun terjadi, dan meski caranya berbeda, timingnya selalu saat mendekati waktu kelulusan. Seolah mereka sengaja hendak mengingatkan seluruh warga sekolah akan sesuatu.
"Iya, anjir, gue inget banget mereka pakai bangkai tikus sama darah sapi! Jijik banget gue sampai gak selera makan selama dua Minggu." Gilang mengingat-ingat kejadian yang terjadi tahun lalu, wajahnya cukup menggambarkan apa yang ia rasakan saat itu. Ia membayangkan dirinya jika menjadi pengurus OSIS sejak dua tahun yang lalu, diperintahkan untuk membersihkan darah sapi yang disiramkan di banyak titik di sekolah.

KAMU SEDANG MEMBACA
Roda Gigi Terkecil Sekalipun
Ficção AdolescenteR-15 Masa remaja khususnya SMA, adalah waktu dimana mereka dihadapkan dengan pilihan sulit, soal-soal sulit, bahkan penyesalan terbesar terkadang dimulai dari sini. Namun, faktanya banyak kisah pilu yang disembunyikan dibalik senyuman manis anak-ana...