14. Bersua Lagi

30 7 0
                                        

BAGIAN 14

Take a piece of my heart

And make it all your own

So when we are apart

You'll never be alone


Tifa tidak pernah menyangka akan datang hari di mana Cakra menghubunginya kembali. Kemudian, secara natural mereka mulai menjalin komunikasi dengan intens. Bertukar kabar dan berbagi kesibukan masing-masing. Klise seperti awal mula sebuah hubungan pada umumnya.

Hingga terhitung dua bulan berlalu dan Tifa merasa tak lagi antusias dengan percakapan virtual mereka. Terlebih akhir-akhir ini Cakra kerap memintanya untuk mengirimkan pesan suara. Lelaki itu mengungkapkan bahwa dia ingin mendengar suara Tifa. Hanya saja, perempuan itu tak terbiasa. Rasanya aneh. Tifa tak suka merekam suara lalu mengirimkannya pada orang lain. Menurutnya, akan lebih baik jika bercakap secara langsung.

Bahkan, dia sudah mempersilakan Cakra untuk menelepon jika memang perlu. Akan tetapi, lelaki itu tak menghiraukannya. Justru Cakra akan terus mengirim pesan apabila perempuan itu tak kunjung membalas. Lama-lama hal tersebut membuat Tifa risih. Perempuan itu muak dan jengkel. Dengan teman-temannya saja dia tidak setiap hari berkirim pesan.

Merasa jika lelaki itu melewati batas, mau tak mau Tifa memperingatkannya. Sayang sekali lelaki itu cukup bebal.

Cakra

Tif, akhir tahun ada acara nggak? Aku mau ajak kamu liburan

Maaf mas, liburan ini aku mau habisin waktu sama keluarga

Oh, yaudah
Kalau aku main ke rumahmu aja gimana?

Melihat pesan terakhir yang Cakra kirim membuat kepala Tifa hampir pecah. Dia sudah berusaha menghindar sebisa mungkin dengan mengurangi intensitas balasannya. Akan tetapi, nampaknya dry text yang dia kirim tidaklah mempan. Entah Cakra yang menutup mata bahwa Tifa sudah menolaknya, atau memang lelaki itu pada dasarnya tidak mempunyai rasa peka.

Tifa lantas beranjak dari kasur dan meraih jaketnya. Dia butuh angin segar. Mungkin jalan-jalan sebentar di lapangan dekat kos akan membuat pikirannya lebih jernih. Perempuan itu kemudian memasang earphone, mengantongi ponsel dan beberapa lembar uang yang diambilnya dari dompet. Jaga-jaga kalau nanti berpapasan dengan tukang siomay.

Kurang dari dua menit, Tifa sudah sampai di tempat yang dia tuju. Biasanya, di sana terdapat anak-anak bermain sepak bola. Tak jarang pula warga sekitar yang jogging atau sekadar jalan-jalan sore mengelilingi lapangan, seperti yang Tifa lakukan saat ini.

"Tumben nggak rame," gumam Tifa sembari melangkah dengan konstan. Telinganya yang disumpal earphone menikmati lagu yang diputar, sementara pandangannya berfokus ke jalanan yang dilintasi. Hingga tak terasa kalau dia sudah memperoleh dua putaran.

Langkahnya memelan ketika perempuan itu berusaha menilik jam lewat ponsel di sakunya. Tifa lalu menyadari bahwa ada sosok lain berjalan di belakangnya. Perasaan tadi cuma ada mbak-mbak sama sepasang suami-istri itu deh, ujarnya dalam hati sambil memastikan orang-orang yang dia maksud berada di seberang lapangan.

Tak mau ambil pusing, Tifa lanjut berjalan dengan langkah yang ia percepat. Sampai kemudian saat tiba di tikungan, dia sedikit menoleh dan melirik—tak ingin terlihat terlalu kentara—penasaran. Dia hanya bisa melihat sekilas jika itu sosok lelaki berdasarkan perawakan dan outfit yang dikenakan. Oh, orang mau olahraga juga. Merasa bukan sebuah ancaman, lantas Tifa mengeraskan volume musik yang didengarnya.

EMPATHYCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang