15. Partner Ngobrol

30 7 0
                                        

I can't lose when I'm with you

How can I snooze and miss the moment?

You just too important

Nobody do body like you do


Tifa pikir pertemuannya dengan Dhiyo terakhir kali akan menjadi awal yang baru bagi mereka. Keduanya akan kembali dekat dan mungkin lebih dari semua yang sudah lewat. Namun pada kenyataannya, tak ada yang berbeda. Mereka tetap dua insan asing yang pernah saling mengenal.

Perempuan itu sempat ingin berinisiatif untuk memulai, tetapi dia tak seberani angan-angannya. Si lelaki pun tak ada pergerakan sama sekali, sehingga hal tersebut membuat Tifa berpikir ulang. Jangan-jangan Dhiyo waktu itu hanya tertarik sesaat dan kini sudah tak berminat lagi pada dirinya.

"Mas Cakra?" Tifa terhenyak tatkala mendapati panggilan dari sosok yang namanya terpampang di layar ponsel. Cakra belum pernah menelpon sama sekali. Jelas ini membuat perempuan itu terkejut.

"Halo, Mas-"

"Tif, sore ini ada acara nggak? Aku mau nyari hadiah buat sepupu perempuan. Bisa minta tolong temani?"

Tifa terdiam sesaat sebelum menjawab, "Nggak ada sih, tapi-"

"Aku jemput jam tiga, gimana?"

"Oke, Mas. Nanti aku share alamat kosku."

Tifa linglung untuk sementara. Mengapa perempuan itu mengiakan permintaan Cakra dengan mudahnya? Tifa seolah dibuat tak bisa menolak ajakan Cakra yang bisa dibilang mendadak itu. Lagipula dia memang tak ada kegiatan apapun, jadi apa yang harus dipusingkan?

***

"Mau cari apa Mas, sampai harus jauh-jauh ke Solo?" tanya Tifa begitu mereka tiba di salah satu pusat perbelanjaan yang jarak tempuhnya lebih dari satu jam dari kos si perempuan.

"Sepupuku sebentar lagi lahiran. Jujur aku juga nggak tau harus beli apa, makanya sekarang ngajak kamu ke sini siapa tau kamu ada gambaran. Seingatku kamu udah punya keponakan. Am I right?"

Tifa mengangguk membenarkan. "Iya, Mas. Berarti ini buat Mbak Dahlia, ya?"

"Loh, kamu kenal Dahlia?" tanya Cakra sembari membolakan sepasang matanya.

"Kita kan pernah ketemu. Kayaknya Mas udah lupa deh."

"Ah, iya! Sekarang aku ingat. Waktu itu kamu kayaknya lagi sama orang lain kan? Dhiyo kalau nggak salah." Lelaki itu menelengkan kepala berusaha mengingat-ingat.

Senyum kecil terulas, Tifa mengangguk kembali.

"Kamu teman kampusnya? Atau-"

"Kita jadinya mau nyari apa, Mas? Kalau perlengkapan bayi langsung ke situ aja." Tifa mengalihkan pembicaraan dan berjalan lebih cepat ke outlet yang dimaksud. Dia tidak sedang ingin membahas Dhiyo sekarang.

Beruntung Cakra tak mengungkit topik pembicaraan mereka beberapa saat lalu. Mereka kini fokus melihat-lihat perlengkapan bayi.

"Calon bayinya perempuan atau laki-laki, Mas?"

"Laki-laki, Tif. Sama kan kayak keponakanmu? Makanya aku nggak pikir panjang buat ajak kamu ke sini. Sekalian kita bisa jalan-jalan." Lelaki itu tersenyum lebar, seakan bangga berhasil membuat Tifa pergi dengannya.

Lebih dari tiga puluh menit mereka mengitari outlet perlengkapan bayi itu, hingga akhirnya Cakra setuju dengan sebuah setelan serta gendongan bayi pilihan Tifa dan membayarnya di kasir.

EMPATHYCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang