16. Bonbin Date

36 9 1
                                        

So I'm daydreaming

With my chin in the palm of my hands

About you, you

And only you





Besok adalah hari Senin, yang artinya Dhiyo harus kembali menjalani rutinitas sebagai manusia dewasa. Apalagi kalau bukan bekerja. Biasanya, pada Minggu sore atau malam lelaki itu akan langsung pulang ke rumah. Memanfaatkan sisa malam untuk istirahat dengan baik. Sehingga ketika bangun, dia tak merasa terburu-buru. Dhiyo selalu seteratur itu.

Akan tetapi, kali ini berbeda. Dia terlalu lelah untuk mengemudi lagi. Entah kenapa lelaki itu merasa energinya terkuras habis usai menemani sang mama jalan-jalan di mall tadi. Lebih tepatnya, usai agenda makan malam mereka dengan Tifa dan Cakra. Tak tau harus menyebutnya sedih, gelisah, atau kecewa. Dhiyo tak dapat mengidentifikasi perasaannya.

“Yo, Mama boleh ngomong bentar?”

Suara wanita itu membuat Dhiyo yang tengah berbaring tersentak dari lamunannya.

“Boleh, Ma. Masuk aja.”

Sang Mama membuka pintu kamar lalu duduk di tepi ranjang. “Maaf kalau terlalu ikut campur, tapi Mama cuma mau tau, kamu serius nggak sebenarnya sama Tifa?”

Dhiyo mengernyitkan dahi. “Kenapa Mama tiba-tiba nanya gitu?”

“Dikiranya Mama nggak tau apa kalau kamu suka sama dia? Kamu kesal kan lihat dia sama lelaki lain?" Wanita itu tersenyum mendapati ekspresi anaknya. Perkataan Mama tepat sasaran. "Tifa itu perempuan baik. Mama nggak mau kamu main-main sama dia. Kalau memang serius, kamu harus gerak duluan.”

Dhiyo diam sejenak, menatap mamanya.

“Tapi ... kayaknya dia udah sama Cakra—" Mama lantas mencubit Dhiyo cukup kencang, anaknya itu perlu disadarkan. "Aduh! Sakit, Ma!"

“Kamu nggak memperhatikan apa yang Cakra ucapkan? Mereka belum ada apa-apa. Atau jangan-jangan, kamu memang masih belum bisa melupakan Dahlia?"

"Bukan gitu, Ma. Aku udah nggak ada perasaan kok sama Dahlia. Cuma ...." Lelaki itu tak bisa melanjutkan kalimatnya. "Terus Dhiyo harus gimana, Ma?"

Mama tak menjawab. Wanita itu hanya mendecap lalu beranjak pergi dari kamar Dhiyo. Nampaknya dia terlalu lelah untuk mengurusi kisah percintaan sang anak. Biarlah manusia yang hampir berkepala tiga itu memikirkan sendiri solusi dari permasalahannya.

***

Tifa mengembangkan senyum ketika melihat anak-anak dengan percaya diri menunjukkan hasil karya mereka. Tema yang tengah dipelajari adalah hewan, dan Tifa memberikan tugas untuk menggambar hewan kesukaan mereka. Satu-persatu anak berdiri lalu menjelaskan apa hewan yang digambar dan alasan mengapa mereka memilih hewan tersebut. Tak jarang gambar yang mereka buat berhasil membuatnya mengulum bibir. Imajinasi anak memang kadang di luar dugaan.

Setelah jam mengajarnya selesai, Tifa kembali ke kantor guru. Dia tak sengaja meninggalkan ponsel di meja, sehingga belum sempat mengeceknya sedari pagi. Betapa terkejutnya perempuan itu tatkala mendapati sebuah pesan dari kontak yang sudah cukup lama tak muncul di notifikasi ponselnya.

Karena sudah telanjur dibuka, mau tak mau Tifa langsung membalas. Tak disangka-sangka, lawan chatnya itu juga merespons pesannya dengan cepat.

Wali Clarissa

Halo tifa

Hai, Mas...

EMPATHYCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang