5. Ancaman

37 15 2
                                        

"Cause I'm off my face, in love with you.

I'm out my head, so into you.

And I don't know how you do it.

But I'm forever ruined by you."


°°°


Latifah Maheswari adalah anak terakhir dari dua bersaudara. Kakak perempuannya yang berprofesi sebagai perawat sudah menikah dan tinggal dengan keluarga kecilnya jauh dari rumah orang tua. Berkat hal itu, beberapa tahun terakhir Tifa diperlakukan bak anak tunggal, terutama oleh sang mama. Sekecil apapun keputusan yang diambilnya, Mama harus ikut andil. Sebab menurut wanita itu, dia tahu apa yang terbaik bagi putrinya.

Akan tetapi, hal tersebut justru menjadi bumerang untuknya. Tifa yang berjiwa bebas tidak mau jika sepanjang hidup hanya menuruti kemauan Mama. Dia punya pilihan sendiri. Meski perempuan itu juga masih ragu dengan langkah yang diambil, paling tidak jika Tifa menyesal di kemudian hari, dia tidak akan menyalahkan orang lain dan bisa mengambil pelajaran dari keputusannya sendiri.

"Orang dikasih tahu biar bisa hidup enak kok malah bantah! Ini demi masa depan kamu juga!"

"Iya, Ma, aku tahu. Tapi kalau untuk sekarang, nggak dulu. Aku belum minat untuk jadi pegawai negeri."

"Terserah kamu! Mending nggak usah pulang aja kalau gitu! Jadi anak kok ngeyel, nggak nurut sama orang tua!"

Itulah yang membuat Tifa berakhir di kota perantauannya hingga sekarang. Memilih untuk mengumpulkan pundi-pundi uang berdasar pada kehendaknya sendiri. Selagi Tifa masih bisa bertahan hidup, cara apapun bakal dia lakukan selagi halal. Begitulah prinsipnya.

Berbeda dengan Mama, Papa tidak pernah sekalipun melarang. Pria itu menyerahkan semua keputusan pada Tifa. Sebab Papa yakin kalau putrinya sudah bisa bertanggungjawab akan jalan hidup yang dijalaninya.

Terkadang Papa juga menawarkan sejumlah uang saku, tetapi dengan sopan Tifa menolak. Sadar dengan hidupnya yang serba berkecukupan, justru membuat Tifa berusaha untuk menjadi pribadi yang mandiri. Kedua orang tuanya tidak selamanya ada. Perempuan itu hanya mau meyakinkan diri bahwa dia bisa bertahan tanpa bergantung pada orang lain.

Bukankah sejatinya setiap manusia memang hidup dengan dirinya sendiri?

"Assalamu'alaikum. Halo, Tifa?"

"Wa'alaikumussalaam. Iya, Pa, ada apa?"

"Kok lesu gitu. Udah makan?"

"Belum, habis ini. Papa udah?"

"Iya, udah barusan. Eh, Nafis tadi main loh ke rumah," ucap Papa memberitahu kedatangan sepupu Tifa itu ke rumahnya.

"Oh, ya?" tanggap Tifa sekenanya. Jujur dia bingung bagaimana harus merespons.

"Kamu kapan pulang? Di sini sepi."

"Kan ada Mama, Pa." Tifa membasahi kerongkongan dengan salivanya sebelum melanjutkan. "Kemungkinan aku pulang waktu liburan semester."

"Wah, masih lama, ya?"

Tifa menggumam sebagai jawaban kemudian melanjutkan, "Kabar Papa sama Mama ... sehat, kan?"

"Alhamdulillaah sehat." Sang papa memberi jeda beberapa detik sebelum kembali berbicara, "Kamu mau bicara sama Mama?"

Tifa refleks menggeleng. "Besok-besok aja deh, Pa."

Terdengar sebuah helaan napas dari ponsel. "Mau sampai kapan kamu sama Mama begini, Nak?"

Sebisa mungkin Tifa menguatkan diri untuk berbicara meski suaranya sedikit bergetar. "Pa, aku capek, mau mandi. Udahan dulu, ya?" Perempuan itu mendongakkan kepala agar cairan yang tertahan di pelupuk tidak lolos dari matanya. Tifa tahu Papa juga pasti sudah bosan mendengarkan alasan yang hampir sama tiap kali dia disinggung soal sang mama.

EMPATHYCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang