Tifa merapikan rambutnya usai melepas helm dan mengembalikannya pada driver ojol. Menata kembali surai panjang yang sedikit berantakan karena tekanan pelindung kepala yang ia kenakan. Bagian bawah kemejanya pun ia tarik, berharap kusut yang timbul akibat posisi duduk membonceng tadi bisa tersamarkan. Terakhir, perempuan itu mengeluarkan cermin kecil, memastikan riasannya tetap oke sebelum masuk ke lobby gedung di hadapannya.
"Nice. You look good!"
Tanpa kesulitan mencari, Tifa berhasil tiba di lokasi yang dituju. Dia melihat tempat itu sudah lumayan ramai. Jelas Tifa tak mengenal mereka dan itu sama sekali tidak menjadi masalah. Justru ia takut akan merasa kikuk jika bertemu dengan orang yang dikenalnya. Kecuali sang pemilik acara. Perempuan itu lalu menarik senyum tatkala melihat sepasang nama tertera di depan pintu masuk.
~ Cakra & Wulan ~
Tifa lantas tertawa kecil mengingat momen ketika Cakra mengabari bahwa pria itu akan menikah. Perempuan itu turut berbahagia. Tanpa pikir panjang, Tifa menyanggupi untuk datang ke acara yang lebih tua itu. Selama awal kepindahannya ke ibukota, Cakra banyak sekali membantu. Maka wajib bagi Tifa untuk menghadiri pernikahan pria itu sebagai bentuk penghormatan sekaligus ungkapan terima kasih.
Dengan riang Tifa melangkah menuju pelaminan di mana kedua mempelai berada. Akan tetapi, perutnya tiba-tiba bergemuruh. Dia baru ingat jika semalam dirinya menyantap mi pedas level lima. Tidak ada efek apapun yang muncul setelah menghabiskannya-setidaknya sampai beberapa detik yang lalu.
Seketika tangannya bergetar, tak kentara memang. Namun untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan terjadi di tempat itu, lebih baik ia bergegas.
Ini akan selesai dengan cepat. Ya, Tifa harus segera melakukannya. Hanya naik, mengucapkan selamat, lalu turun dan pulang. Selesai. Atau mungkin, mencari toilet terdekat.
Bukankah semudah itu?
"Selamat, ya, Mas!"
Tifa mengulurkan tangan kanan dengan senyum yang mengembang, menyembunyikan getaran dalam suaranya. Lelaki yang tengah berdiri di pelaminan itu kemudian menyambut jabatan tangannya dengan mantap.
"Makasih, Tif! Kamu ke sini sendiri aja?"
Memang harusnya sama siapa?
"Iya nih. Maaf nggak bisa lama-lama, Mas. Sekali lagi selamat buat pernikahan kalian!"
Lagipula tidak ada alasan juga bagi Tifa untuk berlama-lama di sana-di pelaminan.
"Selamat, Mbak!" Tanpa menurunkan kedua sudut bibirnya Tifa menyalami mempelai perempuan yang tidak dia kenal.
Lihat, semudah ini 'kan?
Setelahnya perempuan itu terbirit melarikan diri dari tempat tersebut. Meski sedikit kesulitan melewati kerumunan, Tifa berusaha mempertahankan kecepatan langkah kakinya, berharap agar lekas sampai di pintu keluar. Butuh beberapa langkah lagi dan dia berhasil. Namun, air di sepasang pelupuk mata itu jatuh mendahului keinginannya.
Dia merasa terharu ketika menemukan toilet tepat di samping pintu keluar venue.
Akibat terlalu bersemangat, perempuan itu hampir bertubrukan dengan sosok yang berjalan berlawanan arah dengannya.
"Oh, maaf!"
Tifa menunduk sembari mengucapkan kata yang sama. Dia tak punya banyak waktu. Perempuan itu harus segera-
"Tifa?"
Sedetik kemudian si perempuan mengangkat kepala hingga kedua pasang mata saling menatap. Hari ini sungguh penuh kejutan. Sebab dari puluhan orang di ruangan itu, mengapa harus Dhiyo yang hampir menabraknya.
°°°
KAMU SEDANG MEMBACA
EMPATHY
Fiksi UmumTifa menjadi salah satu dari sekian banyaknya lulusan sarjana pendidikan yang enggan menjadi guru. Perempuan itu tidak suka terikat dengan instansi sekolah. Mengajar memang passionnya, tetapi mengurus administrasi bisa membuatnya sakit kepala. Tifa...
