Well the faster that you come
The sooner that you leave
I must be going down
'Cause I can hardly breathe
I wish I was your joke
***
Dhiyo mengangguk dan berterima kasih pada pramusaji yang membawakan pesanannya; segelas es kopi dan sepiring french fries. Lelaki itu memandang jam di pergelangan tangan dan layar ponselnya bergantian. Tetap berusaha terlihat tenang. Walau sebenarnya, isi kepala itu cukup sibuk.
Dua hari yang lalu, Dhiyo memutuskan untuk menghubungi Tifa dan meminta untuk bertemu. Dia merasa mereka perlu bicara. Beruntungnya, si perempuan menyanggupi hal tersebut dan memberikan respons positif. Meski tetap saja, masih ada aroma kecanggungan di sela-sela chat keduanya.
"Maaf, Mas, baru datang. Udah nunggu lama?"
Tanpa babibu Tifa duduk di bangku seberang si lelaki. Dhiyo yang sedikit terkejut akan kehadiran perempuan itu lantas mengangkat kepala.
"Baru ... lima belas menitan. Ini juga baru datang," jelas Dhiyo mengerti Tifa berasumsi melalui pesanannya yang sudah tersaji di meja. "Kamu pesan dulu aja. Udah makan?"
Tifa menimang sementara sebelum kemudian menggeleng ragu. "Tadi langsung sekalian ngeles, jadi belum sempat. Mas nggak makan?"
"Makan kok," sahut Dhiyo lantas berdiri, "aku ambilin menunya kalau gitu."
Tifa menatap kepergian lelaki itu dengan sendu. Dia masih sama. Perhatian kecil yang Dhiyo berikan masih mampu menyentuhnya. Namun, ada sesuatu yang mengganjal. Kerlipan itu, sudah tak lagi semeriah dulu.
Dhiyo tiba dan membiarkan Tifa menulis pesanannya lebih dahulu. Tak lama kemudian, sang lelaki mengambil alih.
"Udah, Mas?" tanya Tifa melihat Dhiyo selesai meletakkan pulpen, "biar aku aja yang bawa ke kasir."
Sekembalinya perempuan itu menyerahkan pesanan, Dhiyo melontarkan pertanyaan untuk mengisi kecanggungan. "Kamu ke sini naik apa?"
"Tadi aku naik ojol, Mas," sahut yang ditanya. "Mas hari ini nggak ngelembur?"
Jujur Tifa tak benar-benar ingin menanyakan hal tersebut karena ada hal lain yang mungkin lebih cocok untuk ditanyakan. Akan tetapi, dia hanya berusaha untuk mengimbangi percakapan dan tak tau harus membawa bahasan apa.
Dhiyo menggeleng sembari tersenyum tipis. "Hari ini libur dulu lemburnya. Kamu yang keliatan lagi sibuk banget. Tapi masih enjoy kan sama kerjaan?"
"Iya, masih," ujar Tifa diselimuti kegugupan yang kentara. Dengan segenap keberanian, akhirnya dia mencoba memulai apa yang menjadi tujuan mereka bertemu, "ehm, Mas, untuk kejadian yang terakhir kali itu ... aku minta maaf."
Dhiyo hendak membuka mulut, tetapi lelaki itu menunda, berusaha menahan. Lantas ia menatap dalam sang lawan bicara, seolah memberi isyarat agar Tifa melanjutkan apa yang ingin dia sampaikan.
"Harusnya aku bisa ngomong baik-baik, bukan malah pergi seenaknya dan bikin kita jadi canggung kayak gini," lanjut perempuan itu. "Mungkin, karena baru kali ini aku punya lingkungan kerja beneran, jadi aku masih kebingungan dalam membagi energi untuk diriku sendiri dan orang-orang di sekitarku. Awalnya, semua menyenangkan, Mas. Seperti yang pernah aku sampaikan, aku merasa nyaman sewaktu sama kamu. Cuma entah kenapa, lama-lama aku merasa capek. Bukan karena kamu, atau karena apa yang ada di antara kita. Aku ... merasa kesulitan dengan diriku sendiri. Makanya pas terakhir kali kita ketemu, aku nggak bisa ngontrol dan akhirnya meledak. Maafin aku, ya, Mas."
KAMU SEDANG MEMBACA
EMPATHY
Fiksi UmumTifa menjadi salah satu dari sekian banyaknya lulusan sarjana pendidikan yang enggan menjadi guru. Perempuan itu tidak suka terikat dengan instansi sekolah. Mengajar memang passionnya, tetapi mengurus administrasi bisa membuatnya sakit kepala. Tifa...
