17. Kesibukan

28 4 0
                                        

I laugh at how we're polar opposites

I read him like a book, and he's a clueless little kid

Doesn't know that I'd stop time and space

Just to make him smile, make him smile

°°°

Dhiyo tersenyum tatkala menatap layar ponselnya. Balasan pesan yang Tifa kirim tak pernah membuatnya gagal mengangkat kedua sudut bibir itu. Bahagia. Mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan perasaannya.

Dan kini, dia makin merindukan perempuan itu. Akhir pekan lalu Dhiyo tak bisa menemuinya karena Mama punya urusan yang tak bisa diabaikan. Lelaki itu sangat ingin menemui Tifa, tetapi sebagai seorang kepala keluarga, Dhiyo tau mana yang tetap harus dia prioritaskan.

Oleh karenanya, dia bertekad untuk menemui sang pujaan hati akhir pekan ini. Rencananya tak boleh gagal. Semoga saja Mama dan Icha tak memiliki keperluan dadakan saat hari itu tiba.

"Weekend kamu senggang kan? Aku jemput, ya?"

Di seberang, Tifa terdiam sejenak usai mendengar pertanyaan yang Dhiyo berikan.

"Ehm, aku Sabtu ada kondangan, Mas. Minggunya buat reschedule jadwal les di hari Sabtu, jadi kayaknya belum bisa deh."

"Kalau malam?"

Terdengar helaan napas sebelum Tifa memberi jawaban.

"Aku nggak yakin sih. Takutnya nanti aku kecapekan dan kita malah nggak bisa ngobrol banyak."

Giliran Dhiyo yang terdiam.

"Maaf, ya, Mas. Aku juga mau ketemu kamu, tapi kalau minggu ini memang waktunya belum cocok."

"Iya, Tif. Nggak masalah. Kabarin aja ya kamu bisanya kapan. Nggak usah dipaksa."

"Padahal jarak kita tuh cuma beberapa kilometer, kenapa kayak antarprovinsi, ya?" keluh si perempuan.

Dhiyo tertawa kecil. "Mungkin ini cara semesta menguji seberapa bagus komunikasi kita?"

"Ceileh, semesta," ledek si perempuan, "udah dulu ya Mas, aku harus nyiapin bahan buat ngajar besok."

"Oke, Tif. Semangat ya, jangan tidur malam-malam."

"Iya, Mas juga. Bye!"

Setelah sambungan telepon ditutup, Dhiyo tersenyum kecut. Mungkin dia benar, semesta sedang mengujinya. Dia hanya harus lebih sabar menunggu dan memendam rasa rindunya sedikit lebih lama.

***

Tifa hampir menjambak rambutnya kalau saja dia tak ingat bahwa dirinya masih di lingkungan tempat kerja. Kepalanya pening. Mungkin sebentar lagi meledak. Minggu-minggu ini sekolah sedang mengadakan beberapa rangkaian acara dan dia bertugas menjadi penanggung jawab salah satunya. Hal tersebut cukup membuatnya kelimpungan.

Setiap hari dia pulang melebihi jam kerja yang semestinya. Jadwal les yang sudah ia atur sedemikian rupa menjadi agak berantakan. Beruntung, Tifa masih bisa menata ulang semuanya. Melelahkan memang, dan begitulah kehidupan.

Sekarang, dia tinggal harus membuat laporan. Batas pengumpulannya masih beberapa hari ke depan, akan tetapi beberapa pekerjaannya yang lain masih terbengkalai. Semua menumpuk dan membuat kepalanya berat. Tapi, bukankah ini yang Tifa inginkan?

"Nggak apa-apa nangis karena kerjaan, daripada nangis karena nggak punya kerjaan," rapalnya lirih dalam hati.

Hingga tiba di akhir pekan, Tifa memutuskan untuk mencari penghiburan. Sebab karaoke di kamar kos saja rupanya tak cukup, dia harus keluar untuk mendapatkan suasana yang lebih segar.

EMPATHYCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang