We're in pieces,
broken glass on the ground
God, I wish we could undo it,
can we figure it out?
°°°
Tifa tahu bahwa bekerja di bawah sebuah instansi pasti akan membuatnya sibuk. Namun, dia tak menyangka jika akan menjadi sesibuk ini. Perempuan itu benar-benar diributkan oleh berbagai hal, mulai dari kegiatan belajar-mengajar, kepentingan administrasi, hingga seminar peningkatan profesi. Semua harus dia jalani demi kelancaran karirnya.
Sampai-sampai, Tifa tak memiliki waktu senggang untuk sekadar mengurusi kehidupan romansa. Kisah cinta yang sempat dia cicipi, bukannya menunjukkan kemajuan, yang ada justru terbengkalai. Stagnan. Bahkan hanya dalam hitungan minggu, jalinan komunikasi antara dirinya dan Dhiyo sudah tak begitu intens lagi.
Tifa sadar dia ikut andil dalam ketidakmajuan hubungan mereka. Meski begitu, sejatinya ia hanya merasa lelah. Mengawali pekerjaan di pagi hari hingga selesai pada siang menjelang sore, cukup membuat perempuan itu kehabisan tenaga. Bahkan, hanya menanggapi pesan-pesan yang si lelaki kirim pada malam harinya pun tak tak sempat.
Lagipula, pertemuan mereka terakhir kali—yang mana terjadi minggu lalu, juga tidak berakhir baik. Kala itu, mereka bertemu di sebuah kedai mi yamin tak jauh dari kos Tifa. Tak banyak hal yang mereka bicarakan. Lebih tepatnya, Tifa yang menahan untuk tak bicara banyak. Antara dia yang merasa sungkan atau memang tidak merasa diberi kesempatan.
".... Kamu oke, Tif? Dari tadi aku perhatiin lebih banyak diam. Nggak kayak biasanya."
"Mas aja dari tadi nggak berhenti cerita. Masa aku mau nyela," jawab Tifa terdengar malas.
"Ya ampun, jadi kamu nunggu aku selesai? Padahal, beberapa kali aku udah jeda pembicaraan loh, tapi kamu juga nggak kunjung bersuara," jelas Dhiyo, "makanya aku lanjut cerita daripada kita diam-diaman."
Tawa kecil terurai. Namun, dari nadanya jelas terdengar bahwa itu bukanlah sebuah tawa senang. "Oke, emang aku yang salah."
"Tif, aku nggak ada nyalahin kamu." Sadar ada yang salah dengan arah pembicaraan mereka, Dhiyo berusaha menenangkan. "Kamu lagi nggak enak badan?"
Tifa lantas menggeleng. "Maaf, Mas. Kayaknya aku lebih baik pulang."
Dhiyo makin panik sewaktu Tifa mulai bangkit sembari menyeret tas selempang kecilnya. Makanan perempuan itu bahkan masih beberapa suap, tetapi sendok dan sumpit sudah disilangkan di atas mangkok. Gerakannya terlalu cepat sampai-sampai Dhiyo tak bisa mendahului dan Tifa sudah mengeluarkan uang guna membayar di kasir.
"Jangan, Tif, aku aja." Sayangnya, lelaki itu terlambat. Tifa membalik badan lalu bergegas ke tempat parkir. Dia meraih helm, mengaitkan tali pelindung kepala tersebut lalu menggantungnya di tangan. "Aku antar pulang, ya?"
"Aku jalan aja, kan deket," respons Tifa ketus. Sebenarnya perempuan itu tak ingin marah, rasanya kekanak-kanakan. Namun, entah kenapa dia tak bisa menghadapi Dhiyo lebih lama. Tifa merasa harus menjernihkan pikirannya.
Di sisi lain, Dhiyo dibuat pusing bukan main oleh sikap Tifa. Lelaki itu masih menawari beberapa kali, tapi si perempuan keburu menghilang dari kedai tersebut. Akhirnya, Dhiyo mengikuti pelan di belakang. Setidaknya, dia ingin memastikan Tifa sampai di gerbang kos dengan aman.
***
Begitu sampai depan pintu kos, Tifa menarik napas dalam. Dia lalu merogoh kunci yang sebelumnya disembunyikan di dalam sepatu tepat di sebelah pintu. Merasa kesulitan meraihnya, perempuan itu lantas membalikkan sepatu tersebut dan mengguncangnya kasar. Kunci itupun jatuh lalu dengan gesit dia mengambilnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
EMPATHY
General FictionTifa menjadi salah satu dari sekian banyaknya lulusan sarjana pendidikan yang enggan menjadi guru. Perempuan itu tidak suka terikat dengan instansi sekolah. Mengajar memang passionnya, tetapi mengurus administrasi bisa membuatnya sakit kepala. Tifa...
