23. Victimization

9 1 0
                                        

"Tapi..dimensi dunia naga sudah lama lenyap" Ujar ana memberitahu.

Haze tertawa.
"Setelah putramu king star tewas, han mengunci dimensi dunia naga..namun rohku berhasil lolos dan mengunjungi dimensi tempat putrimu sharna berada, namun lagi-lagi aku kalah dari putrimu, kristalku hancur menjadi debu, rohku terbelah terlempar ke dimensi ini dan menempati tubuh ini"

"Kamu.."

"Ya putri ana, perkenalkan.." Haze menyeringai sebelum menyebutkan namanya.
"King Avagar penguasa black kingdom"

"Bagaimana bisa kamu mengambil alih tubuh haze?" Tanya ana.

"Pemilik tubuh ini sudah mati bertahun-tahun yang lalu, storm yang membunuhnya, kami bertemu di hutan di saat kedatanganku ke dimensi ini, aku kemudian mengambil alih tubuh haze dan berhasil mengalahkan storm, aku dan storm bekerjasama untuk menguasai dimensi ini, aku bahkan harus bersusah payah untuk membuat sky agar berada di pihakku..pria itu sangat menyusahkan untung saja mudah menghasutnya saat ku bilang luna berselingkuh dan liam bukan anaknya, sky awalnya tidak percaya dan melakukan tes DNA tapi tentu saja sky tidak tau kalau aku telah menukar anaknya hahaha.. "

Ana terpana.
"Jadi itu yang membuat sky berubah jahat.. Semua gara-gara.. "

"Kekecewaan yang berubah menjadi kebencian.. Roh jahat akan lebih mudah memasuki tubuhnya, sekarang sky telah lenyap dan storm menjadi buronan semua karena kedatanganmu..aku harus memulai dari awal.." Haze alias avagar terlihat marah mengepalkan kedua tangannya.

"Yang mulia.." Storm tampak bergegas menghampiri avagar.
"Para ksatria tiba.."

Avagar mendengus kesal.
"Atasi mereka itu mudah bagimu, manfaatkan liam!"

Storm melirik ana sekilas sebelum mengangguk dan pergi keluar kamar.

Ana sekarang bisa mendengar suara ribut perkelahian dari luar kamar.

Sepertinya para ksatria sedang bertarung.
Apa mereka bisa mengalahkan storm batin ana khawatir.
Storm pasti menggunakan liam sebagai tameng untuk mengalahkan para ksatria.

"Aaaaargh.." Lamunan ana buyar saat merasakan luka akibat dari goresan yang di buat oleh avagar dengan kukunya di telapak tangannya.

"Gambar simbolnya!"perintah avagar.

Tubuh ana yang terlilit tali masih bisa menggambar karena tangannya di ikat di depan.
Ana menatap jijik kuku avagar yang tajam dan terdapat darah ana, lalu ana melihat telapak tangannya yang berdarah dan tidak kunjung sembuh, ini pasti luka sihir.
Lukanya akan butuh waktu lama dan akan menguras tenaganya agar bisa sembuh.
Tapi sepertinya ada yang aneh, kenapa gue nggak bisa menggunakan kekuatan ya..
Apa di luar sedang gerhana.

Ana tidak bisa membayangkan membawa avagar kembali ke dimensi dunia naga di masa lalu.
Itu akan berdampak pada banyak hal.
Semua yang telah terjadi akan berubah.
Avagar bisa melenyapkan semua orang yang ana cintai.

"Di luar sedang gerhana..kau tidak akan bisa membunuhku, wahai keturunan darah naga" Avagar menyeringai.

Dia tau kelemahanku.
"Aku tidak akan membuat simbol kecuali kau melepaskan teman-temanku" Ancam ana.

Avagar mendengus lalu mengangkat tubuh ana dari tempat tidur  dan membawanya keluar ruangan.

Ana mengikuti tanpa berniat melawan.

Di luar halaman rumah suasana tampak kacau balau.

Ana terlihat menahan emosi melihat kael, eva, sunny, green, zen dengan tubuh babak belur dan terikat tali yang sama dengan yang ada di tubuhnya dengan mulut tersumpal kain, tidak jauh darinya liam terbaring terikat di dekat storm yang kini sedang menindih tubuh seorang gadis yang menangis histeris.

Ana's Destiny (6) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang