— Aku masih bertanya-tanya. Robby, apa yang kamu pikirkan saat aku datang?
Aku cantik kan dengan gaun hitamku?
Ah, tapi kamu tak mungkin mengatakannya. Toh, Lisa pun terlihat sangat cantik malam ini.
Dalam suasana formal malam ini, ingin sekali rasanya aku duduk di dekat Robby. Namun sayangnya, bangku kosong yang tersisa bukan di sana. Pada akhirnya, aku memilih tempat di meja panjang yang bersebelahan dengan meja Robby. Meskipun jaraknya cukup dekat, tak ada alasan bagiku untuk bisa melirik ke arahnya, karena Robby duduk persis di belakangku.
Menu utama Gala Dinner adalah steak, salah satu makanan favoritku. Andai Robby yang duduk di hadapanku, pasti lengkaplah malam ini. Namun tak apa, beberapa kali mendengar tawanya dari belakang saja sudah cukup untukku.
Tidak hanya makan malam, kali ini ada juga sesi Wine Knowledge & Wine Tasting. Pihak restoran menjelaskan jenis-jenis wine dan mempersilahkan bagi peserta yang ingin mencicipinya. Malam ini untuk pertama kalinya aku mencicipi wine, cita rasanya cukup sulit kugambarkan. Pahit tapi hangat, mungkin seperti kisahku dan dia.
Sekitar pukul 21.00, rangkaian Gala Dinner selesai. Peserta diperbolehkan meninggalkan restoran dan melakukan aktivitas bebas atau kembali ke kamar masing-masing. Tentu saja tidak ada yang langsung kembali ke kamar. Kami berburu foto di tiap sudut hotel ini.
Semua menyebar dan sibuk mengabadikan momen yang mewah dan langka ini. Senyum tersebar di mana-mana. Tawa menggema di setiap sudut, bersahutan dengan live music yang dimainkan band hotel malam itu.
Aku pun tak ketinggalan. Setelah cukup banyak mengabadikan momen bersama teman-teman lainnya, seketika aku melihat Robby, Juan, dan Aryo yang sedang berfoto bersama di depan C's Restaurant.
"Beb, foto bareng mereka yuk," ujarku pada Mila yang sejak tadi bersamaku. Aku spontan saja, sepertinya kami belum ada foto bersama sejak sering duduk satu meja.
"Eh iya, ayook!" ujar Mila antusias dan berlari duluan menghampiri mereka.
"Ikut, ikuut," ujarku dan Mila setelah kami mendekat.
"Ayo, ayo, sini!"
"Berdirinya gimana?"
"Kau di sini aja. Dia di sana."
"Nah iya, aku disini."
"Gayanya gimana?"
"Gini aja, gini aja!"
Tiga laki-laki itu pun ikut heboh menyambut kedatangan kami yang ingin foto bersama.
"Udah belum guys? Siap yaa? Satu, duaaa..." ujar Ridwan yang bersedia mengambilkan gambar kami.
Klik! Klik!
Beberapa gambar pun diambil.
— Robby, masih ingat? Kamu berdiri paling ujung, tepat di sebelah kiriku. Gayamu mengangkat tinggi tangan kirimu ke atas dan tangan kananmu sedikit diangkat mengarah ke bawah, seperti membentuk garis miring. Namun kamu dekat sekali, rasanya malah seperti kamu hendak merangkulku.
Ingin sekalian saja kusandarkan kepalaku di bahumu. Namun, gila! Mana mungkin aku melakukannya.
"Nanti kirim ya, fotonya," ujarku pada Robby. Ternyata sejak tadi tadi HP-nya yang dipakai untuk berfoto.
"HP-mu bagus juga ya, Robby. Pinjam dulu lah bentar, aku mau foto di sana sama Rena," ujar Mila setelah melihat hasil foto-foto di HP Robby.
YOU ARE READING
Senandika Renata
RomanceSenandika: Artinya, wacana seorang tokoh dengan dirinya sendiri di dalam drama yang dipakai untuk mengungkapkan perasaan, firasat, atau konflik batin yang paling dalam dari tokoh tersebut. Renata: Dalam bahasa Latin, artinya terlahir kembali. Jadi u...
