-dua-

49 32 14
                                        

KOMEN OY KOMEN📌

TINGGALKAN JEJAK KALIAN DI SINI📌

Happy reading sweetheart
Hope you all like this story



"Apakah aku harus kembali memperkenalkan diri?" ucap seorang remaja laki laki yang saat ini sedang berdiri tepat di depan Natasha.

"Rafael?" Ucap Asha berusaha menebak.

"Yeah, that's right," ucap Rafael senang.

Natasha hanya mengangguk-anggukkan kepalanya untuk memberi tanda jika dia paham.

"Kamu belum tau letak kantin kan? Ayo pergi ke sana bersamaku," ucap Rafael menawarkan.

"Tidak. Terima kasih," ucap Asha enteng lalu berdiri.

Natasha pergi meninggalkan Rafael yang masih diam di tempatnya tadi.

Terlihat sudut bibir milik Rafael naik, ia tersenyum karena merasa semakin tertantang untuk mendekati perempuan cuek seperti Asha.

Karena semangat membara yang ia miliki, ia berlari untuk mengejar Asha yang mungkin belum pergi jauh darinya.

Ia harus berjuang bukan?

Setelah beberapa saat berlari, ia berhasil menemukan Asha yang tampak kebingungan mencari letak kantin berada.

"Asha!" Ucap Rafael dengan nada sedikit tinggi.

Karena merasa seseorang telah memanggil namanya, Asha memberhentikam langkah kakinya lalu menengok ke belakang.

"Kenapa?" Ucapnya datar.

Rafael hanya cengengesan tanpa berniat untuk menjawab pertanyaan yang telah dilontarkan oleh Asha dan mulai berjalan mendekatinya sampai tersisa jarak 5 centimeter di antara mereka.

Karena merasa terlalu dekat, Asha dengan perlahan berjalan mundur untuk menghindari kontak fisik dengan Rafael.

"Jika tidak ada yang ingin kau katakan, aku akan pergi," ucap Asha.

"Ayo pergi bersamaku," ucap Rafael dengan menundukkan kepalanya dan memainkan rambut Asha.

"Singkirkan tangan kotormu dari rambutku!" Ucap Asha geram.

"Rambutmu sangat indah," ucap Rafael yang masih fokus memainkan rambut Asha dan sesekali menciumnya.

"Harumnya seperti melon, aku suka!" Ucapnya pelan.

Plak!

Tamparan halus telah Asha berikan kepada Rafael sebagai peringatan atas tindakannya yang tidak sopan.

"Jangan bertindak seenaknya," ucap Asha dingin.

"Kenapa tidak boleh?" Ucap Rafael tersenyum miring.

"Karena kau menyebalkan," ucap Asha pedas.

Rafael tersenyum senang, ia tidak dapat berkata kata lagi. Gadis di hadapannya ini sangatlah menarik.

"Menyebalkan? Baiklah kalau itu yang kamu mau," ucap Rafael senang.

Tanpa babibu lagi, Rafael menarik tangan Asha dengan lembut lalu menuntunnya pergi ke suatu tempat yang pastinya terlalu sepi untuk di tempati siswa siswi di sini.

Taman belakang? Rooftop? Gudang? Semua itu salah. Karena tempat yang di tuju eh Rafael bukanlah itu semua, melainkan perpustakaan.

Sampai di perpustakaan, Rafael membawa Asha ke suatu tempat paling pojok di antara rak rak berisi buku buku tebal yang berjejer rapi.

Dan sekarang, Rafael berbalik kemudian memeluk Asha tanpa permisi.

Grep!

"Ukh! Lepaskan aku," ucap Asha kaget.

"Diam," ucap Rafael pelan.

Asha benar benar tidak mengerti dengan pola pikir yang ada dalam diri Rafael. Kenapa dia dibawa ke perpustakaan? Kenapa ia malah dipeluk seerat ini?

Perlahan, Rafael mulai mengendurkan pelukannya pada Asha. Ia tersenyum lebar dengan ekspresi yang sangat menyebalkan di mata Asha.

Padahal jika gadis gadis lain melihatnya, dapat dipastikan mereka akan menjerit dalam hati masing masing karena pesona Rafael yang tidak main main.

"Sekarang apa? Kenapa kau aneh sekali," ucap Asha sebal.

"Bacakan aku buku kalkulus jilid 2, aku ingin tidur di sini," ucap Rafael santai.

"Hah, harusnya aku menendang selangk*nganmu tadi. Kenapa kau sangat aneh?" Ucap Asha heran.

Asha hendak pergi meninggalkan Rafael, namun pelukan yang tadinya mengendur, sekarang justru sebaliknya.

"Hei, aku tidak bisa bernafas!" Ucap Asha geram.

Kenapa ada orang aneh seperti Rafael dalam hidupnya?

"Mau aku peluk sampai bel pulang dibunyikan, atau bacakan aku buku kalkulus?" Ucap Rafael memberikan penawaran.

"Baiklah, aku akan membacakannya," ucap Asha pasrah.

Hitung hitung belajar bukan?

"Hahh.. bab pertama adalah integrasi. Integrasi adalah bla bla bla bla..."

30 menit berlalu, selama itu juga Asha terduduk dan membacakan buku kalkulus jilid 2 sesuai dengan permintaan Rafael dengan posisi menyenderkan kepalanya pada rak buku yang besar.

Pada menit ke 15, Rafael mulai tertidur nyenyak dengan posisi duduk dan kepala yang menunduk.

Tetapi karena Asha menyukai buku ini, Asha membacanya sampai bel masuk berbunyi.

Asha memutuskan untuk berhenti membaca lalu menutup bukunya. Ia berdiri lalu mengembalikan buku tersebut ke tempat asalnya.

Setelahnya, ia menengok ke arah Rafael yang masih tertidur dengan santainya.

Ia tidak peduli tentang itu, dan akhirnya memutuskan untuk kembali ke kelas tanpa niat untuk membangunkan Rafael.

"Dia berkata ingin tidur kan? Baiklah. Karena aku sangat perhatian, aku akan membiarkannya."

Hingga bel pulang berbunyi, terpantau Rafael masih santai tertidur di perpustakaan dengan posisi yang sama seperti sebelumnya.






not just ordinary gurlCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang