-lima-

33 16 17
                                        

Halo, mohon kesediaan kalian untuk memberi vote dan komentar :)

Happy reading!

|15+ terdapat sedikit kiss scene|

Suasana malam di sekitar rumah pohon sangatlah sunyi dan damai.

Semilir angin yang lembut membuat pikiran siapapun menjadi lebih tenang dan damai.

Seperti saat ini, rambut panjang milik Asha yang ia gerai terus berhamburan ke sana kemari dengan cantiknya.

Ia menatap langit malam dengan damai. Cahaya rembulan dan juga cahaya dari lampu lampu kecil yang berjejer membuat ia mampu melihat pemandangan sungai kecil yang berada di sekitar kawasan rumah pohon.

Air sungai yang jernih mengalir begitu tenangnya, membuat suasana di sekitar mereka, Asha dan Rafael. Menjadi sedikit romantis.

Mereka berdua terlihat begitu menikmati malam ini.

Duduk berdua di sekitar pelataran rumah pohon dengan menyenderkan kepala masing masing ke bantal yang telah tersimpan lama di rumah pohon.

"Asha suka coklat?" Ucap Rafael bertanya.

"Tidak terlalu," ucap Asha.

"Kalau ini mau?" Ucap Rafael dengan mengeluarkan banyak bungkusan snack yang beraneka ragamnya jenisnya.

Mulai dari wafer, coklat, keripik kentang, Pocky, dan makanan ringan yang lainnya.

Asha menengok ke arah jajanan yang ditawarkan oleh Rafael, kemudian meluruskan kembali pandangannya.

"Maaf, aku menolak," ucap Asha cepat .

"Hmm.. padahal rasanya enak," ucap Rafael sembari membuka satu bungkus keripik kentang berukuran jumbo dan memakannya.

Kriuk kriuk

Garingnya keripik kentang membuat Asha tergiur, tapi itu tidak sehat!

Asha menelan ludahnya saat melihat Rafael yang terlihat begitu menikmati camilan keripik kentang yang menggugah selera.

"Asha, lihatlah ke atas sana!" Ucap Rafael dengan menunjuk ke arah bulan purnama yang begitu tampak jelas dimatanya.

Asha mengikuti arahan Rafael dan mulai mendongakkan kepalanya untuk melihat bulan yang Rafael tunjukkan kepadanya.

Ia terpana dengan bulan itu, cahayanya begitu terang tetapi tidak membuatnya silau, ia justru merasa nyaman dan membuatnya ingin terus memandang ke arahnya.

"Hey Asha, bukankah bulan itu tidak mampu menandingi kecantikanmu?" Ucap seorang lelaki sembari menunjuk ke arah rembulan yang bersinar terang.

"Hah, apa maksudmu?" Ucap Asha dan reflek menengok ke arah Rafael yang sedang memandangnya dalam.

"Kamu cantik, lebih cantik dari bulan itu," ucap Rafael.

"Ewhh, rasanya geli ketika kau mengucapkan kalimat aneh itu padaku," ucap Asha membuang muka.

Dalam hatinya, entah kenapa ia merasa sedikit senang?

Rafael tersenyum ketika menyadari jika wajah Asha sedikit memerah.

Walaupun samar, ia bisa melihatnya dengan jelas karena kulit putih Asha yang begitu mencolok.

"Sangat menggemaskan," ucap Rafael tanpa sadar.

Asha menoleh begitu mendengar Rafael berbicara.

"Aku memang menggemaskan, tapi aku lebih suka dibilang mengesankan," ucap Asha tersenyum simpul.

Rafael terkejut melihat senyuman manis milik Asha untuk pertama kalinya.

Ia mendekatkan wajahnya kepada Asha dan segera membuang muka.

Hampir saja ia kelepasan.

Tahan Rafael!

Jangan membuat gadis itu menjauh darimu karena tindakan sembronomu!

Asha cuek cuek saja ketika melihat tingkah Rafael yang menurutnya aneh, karena ia sudah menormalisasikan hal hal aneh yang dibuat oleh Rafael.

Karena dia orang aneh, jadi jika perilakunya aneh wajar saja.

Dia kan orang aneh.

Begitu pikirnya.

"Asha," panggil Rafael secara tiba tiba.

"Kenapa?" Ucap Asha tanpa mengalihkan pandangannya pada Rafael.

"Tatap aku, dan lihatlah diriku."

Asha berdecak malas lalu dengan cepat ia menengok ke arah Rafael yang sedang memasang ekspresi serius yang jarang ia perlihatkan.

"Tampan," ucap Asha spontan.

Bagaimana bisa ada orang setampan Rafael? Di dalam tubuh yang begitu sempurna ternyata menyimpan makhluk aneh yang langka.

"Aku memang tampan," ucap Rafael dengan suara beratnya.

Tunggu, apa?

Suara berat?

Suara Rafael memang berat, tetapi kali ini 100× lebih berat hingga Asha merinding dibuatnya.

Karena takut, Asha reflek memundurkan wajahnya dari pandangan Rafael.

Rafael yang melihat itu, sedikit menyeringai senang.

Ia tambah memajukan wajahnya hingga kedua hidung mereka bersentuhan.

Ia menggesekkan hidungnya dengan gemas karena melihat ekspresi Asha yang datar bercampur bingung.

Karena terlalu gemas ia tidak sadar jika telah menempelkan bibirnya pada bibir ranum milik Asha dan  menggigitnya sampai mengeluarkan sedikit cairan kental berwarna merah.

Darah.

Asha yang terkejut karena tindakan Rafael yang tiba tiba, reflek memberikan bogeman mentah ke dada bidang milik Rafael.

Duak!

"Ahk, maafkan ak-"

Bugh!

"Kurang ajar! Kau telah merebut ciuman pertamaku!" Ucap Asha dengan nafas memburu.

Rafael terdiam, ia mengakui kesalahannya yang telah bertindak tidak sopan kepada seorang gadis.

Asha semakin marah ketika melihat Rafael yang hanya terdiam saja.

Ia menarik kerah baju milik Rafael dan mendekatkan bibir mereka.

Rafael yang melihat gerak gerik Asha menjadi was was.

Dan benar saja dugaannya.

Asha mencium bibir Rafael dengan pelan tetapi memabukkan.

Rafael yang terbuai dengan ciuman itu pun membalas, ia melumat bibir Asha dan menggigitnya pelan.

Asha memejamkan matanya ketika Rafael mengigit bibirnya, ia memutuskan untuk membalas apa yang telah Rafael lakukan padanya.

Ia menggigit bibir Rafael dengan brutal hingga mengeluarkan banyak darah.

Ciuman mereka terlepas dan mereka segera menghirup banyak oksigen yang terasa kurang untuk mereka.

"Sekali lagi?" Ucap Rafael menyeringai.




not just ordinary gurlCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang