Kedua matanya berkedip beberapa kali. Cahaya yang tiba-tiba masuk ke matanya membuatnya merasa tidak nyaman.
Althare berdiri ditempat dimana terakhir kali lingkaran sihir merah yang membawanya ke penjara bayangan terlihat.
Pencahayaan kamarnya masih menyala dan batu yang terakhir kali dilihatnya sebelum terseret ke penjara itu telah tiada.
Setelah sepenuhnya sadar, ia segera berjalan kearah balkon kamarnya. Dari sana ia dapat melihat lingkaran-lingkaran sihir pelindung dari penyihir istana.
Althare menunduk menatap telapak tangannya, ia menyadari hal lain telah terjadi.
"Tuan Grand Duke.."
Saat berbalik ia mendapati Gingee yang berdiri kaget didepan kamarnya. Althare hanya mengangguk sembari tersenyum tipis.
"Tuan bagaimana.. ?" ucap Gingee setengah ragu untuk bertanya, karena saat ini Althare terlihat seperti tengah terburu-buru.
"Gingee.. nanti dulu."
Althare berjalan melewati Gingee, menepuk pundaknya pelan dan keluar dari kamarnya.
Gingee berbalik mengikuti Althare, ia telah mengesampingkan pertanyaan besar yang muncul begitu melihat Althare telah bebas.
Althare berdiri ditengah-tengah tangga menuju pintu keluar mansion. Dari sana ia sudah dapat melihat ramainya halaman mansion Taranesse.
Tenda-tenda medis sudah banyak terpasang, orang-orang yang terluka memenuhi tempat itu.
Para penyembuh dan para pelayan berjalan berlalu-lalang melewati ruang depan. Mereka terlihat sangat sibuk, hingga tidak sempat menoleh saat berjalan.
"Para mayat hidup sempat keluar dari gerbang utama istana, sekitar tigapuluh orang terluka karena itu," ucap Gingee.
Althare mengernyit, orang-orang yang berada disana terlihat lebih banyak dari jumlah yang baru saja Gingee katakan itu.
"Sebelum itu terjadi, ada hal aneh." Gingee melangkah lebih dekat kearah Althare.
"Ratusan warga yang tinggal di dekat pintu utara istana melakukan hal aneh. Mereka berteriak-teriak, berlarian tidak karuan, bahkan ada yang melukai diri mereka sendiri," jelas Gingee.
"Apa belum ada keterangan penyebabnya ?" tanya Althare.
Jika belum mengetahui penyebabnya, mungkin para healer akan kesulitan menyembuhkan mereka.
"Tidak ada yang tahu, Tuan. Hanya saja itu terjadi setelah kabut hitam mendatangi pemukiman, dan para orang-orang yang menjadi korban itu.. mata mereka memutih," ucap Gingee.
Althare terdiam, ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan. Tampaknya ia sudah amat terlambat.
"Itu adalah efek kabut ketakutan, bagian dari elemen sihir bayangan," ucapnya.
Setelah mendengar itu, Gingee terperanjat seolah menyadari sesuatu. Dengan segera ia pamit untuk memberitahu para healer.
Althare juga beranjak dari tempatnya, ia melangkah menuju kearah halaman mansion.
Ia mulai bisa mendengar beberapa orang yang masih terpengaruh oleh kabut ketakutan. Jeritan-jeritan itu tentu membuat korban terluka lain ikut ketakutan.
Althare mendongak menatap kearah langit. Suasana menjadi lebih kelam karena langit yang menjadi sangat hitam seolah malam telah datang.
Perlahan, Althare mengangkat tangannya. Terasa masih nyeri karena luka hasil pertarungannya dengan Rozora.
KAMU SEDANG MEMBACA
Eternal Winter (END)
Fantasy(COMPLETED) 15 tahun adalah waktu yang Ayrece habiskan tanpa mengetahui siapa dirinya sebenarnya, ia hanya terus berkelana dengan seorang gipsi yang ia panggil bibi. Namun secara tiba-tiba, saat ia datang ke sebuah tempat dimana salju tidak pernah m...
