After The End (2)

147 16 0
                                        

Sebagian dedaunan di ibukota sudah menguning, udara yang awalnya hangat menjadi semakin dingin.

Pada peralihan musim semi ke musim gugur itu, acara besar yang dinanti-nanti seluruh negeri akhirnya dilaksanakan.

Bagian luar istana dipenuhi oleh orang-orang yang meluangkan waktu mereka untuk datang.

Hari itu, sebuah sejarah baru akan tercipta di negeri menara emas. Ratu pertama yang menjadi pemerintah tertinggi negeri akan dilantik.

Earlene akan menjadi wanita pertama yang berada di puncak tertinggi sebuah negara di benua barat.

Para Dantevale juga ikut menghadiri upacara pelantikan yang telah ditunda sampai berminggu-minggu karena masalah yang terjadi pertengahan musim semi lalu.

"Kenapa aku merasa aula nya jadi terlihat seperti altar doa," bisik Ayden pada Ayrece.

Ayrece mengedarkan pandangannya menatap sekeliling, ia tidak pernah melihat altar doa itu berbentuk seperti apa.

Namun, memang aula besar di istana ini tidak terlihat seperti biasanya.

Karpet merah dipasang memanjang dari pintu masuk sampai pada panggung rendah didepan sana. Sebuah podium emas terpasang dibagian kanan panggung.

Kursi-kursi untuk para tamu ditata dengan rapi di kanan kiri karpet panjang yang membelah ruangan besar itu.

Panji-panji berlambangkan kerajaan Brechordon yang dikelilingi lambang keempat bangsawan besar dipasang disetiap sisi ruangan.

"Bedanya hanya pada karpet dan posisi podiumnya. Biasanya pada sebuah upacara doa, karpet yang dipasang berwarna putih atau warna terang lain. Dan podium mereka terletak ditengah-tengah panggung," ucap seorang pria yang duduk dibelakang si kembar.

Ayrece menoleh kebelakang dan mendapati pria berusia tidak jauh dari ayahnya yang tidak lama dikenalnya itu. 

Namanya Nolan, ia adalah ajudan yang akhir-akhir ini dipekerjakan oleh Althare.

Atau lebih tepatnya dipekerjakan kembali, karena sebelumnya Nolan pernah bekerja untuk Althare sampai Ayden berusia tujuh tahun karena setelah itu Nolan menikah dan berhenti menjadi ajudan Althare.

"Apa mereka memakai podium emas juga untuk berdoa ?" tanya Ayrece.

"Tidak, karena para penyembah dewa atau dewi biasanya menerapkan hidup sederhana jadi podium yang mereka pakai biasanya dari kayu," jelas Nolan.

Ayrece mengangguk-angguk mengerti.

"Meskipun beberapa kuil besar pemuja Ethel di Ethelarius menggunakan podium perak yang bertatah berlian," ucap Nolan lagi.

Ayrece menghela napas kemudian menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Ia masih sangat tidak suka mendengar nama Ethel disebut-sebut.

"Apa kalian masih kesal karena dia ?"

Althare yang baru saja tiba mendudukkan diri disebelah Ayrece, ia baru saja melakukan pertemuan singkat bersama para bangsawan dan calon ratu mereka.

"Itu sudah sekitar dua minggu yang lalu, kan," tambah Althare.

"Berkahnya tetap ada sampai sekarang," ucap Ayden membalas.

Althare tersenyum tipis, reaksi si kembar benar-benar sama sepertinya dulu.

Pada dasarnya keduanya sama sekali tidak mengatakan kalimat penolakan dengan jelas, maka dari itu Ethel bisa memberikan berkahnya.

Ayden hanya mengatakan bahwa kegelapan dalam dirinya membuatnya tidak bisa menerima berkah Ethel, yang mana kalimatnya itu salah.

Eternal Winter (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang