"Iblisnya terus mengganggu, Saya harus membantu !" seru Ayrece pada Osmond yang menahannya.
"Tidak Lady, Tuan muda meminta Saya untuk menahan Lady agar tidak berada disana," ucapnya tegas.
Ayrece mendesis, entah sudah berapa kali ia berteriak-teriak sembari berusaha keluar dari kubah pelindung Osmond.
Padahal saat ini, ia bisa saja membantu Ayden. Meskipun Ayden benar-benar tidak terlihat membutuhkan bantuan sama sekali.
Randall yang semakin kehilangan ke-solid-annya itu tidak sepenuhnya bisa menahan serangan Ayden.
Akibatnya, sebagian besar serangan Ayden pada Algar kena telak. Algar benar-benar terlihat tidak baik-baik saja.
"Bangsawan sialan.." geram Algar sembari berusaha bangkit berdiri.
Ayden yang berdiri beberapa meter dihadapannya mendongak menatap Randall yang kini terlihat sedikit transparan.
Hanya sedikit saja energinya yang tersisa. Sementara Algar, terlihat sama sekali tidak memiliki energi.
"Sudah tidak bisa tertawa ?" tanyanya.
Tangan Ayden terangkat memunculkan asap kehitaman yang menari-nari diatas telapak tangannya siap menyerang. Dihadapannya, Algar terkekeh kecil.
"Meskipun akhirnya kau menang, jangan lupakan luka yang telah kuberikan padamu," ucapnya.
Ayden memang terluka, mata kirinya menghitam menyisakan iris matanya yang masih terlihat biru. Sebagian wajahnya, masih terukir ukiran gelap yang terasa sangat menyakitkan.
Di badannya pun terdapat beberapa luka. Tapi, apa yang Algar maksud dengan luka bukanlah hal tersebut.
"Pertunjukan yang kuberikan tadi, akan menjadi luka yang akan selalu kau ingat, tidakkah begitu ?" ucap Algar lagi.
Ayden mengatupkan giginya. Tangannya terkepal. Orang itu baru saja menyebutnya pertunjukan. Saat ia menunjukkan kematian pada seseorang.
SRIING KRAAAK !
Jika saja suara itu tidak muncul dari atasnya, Ayden mungkin sudah membakar habis Algar.
Ayden menghela napas melihat Ayrece yang sudah berdiri diatas bongkahan es nya dan mengitari Randall.
Tangannya terangkat mengeluarkan bunga-bunga es yang berjatuhan disekitar Randall. Randall pun melambai-lambai berusaha meraih Ayrece.
"Lihat ! Aku bisa memurnikannya."
"Maaf Tuan muda !" seru Osmond dari belakang, entah ancaman apa yang Ayrece lontarkan pada Pangeran itu sehingga ia melepaskannya.
"Lihatlah itu, saudariku tengah memberikanmu sebuah pertunjukan juga," ucap Ayden seraya berjalan mendekati Algar yang berdiri lemas.
"Heh ! Dia tidak akan bisa melakukannya," ucap Algar.
Ayden terdiam kemudian kembali menatap Ayrece yang terlihat senang karena bebas. "Benarkah ? Mari kita lihat," ucapnya.
Mungkin memang ini waktunya Algar mengakui kekalahannya. Karena setelah Ayden mengucapkan kalimat itu, perlahan Randall melebur.
Seperti kabut yang tersapu angin kencang, karena bentuk Randall benar-benar sudah tidak stabil pemurniannya berhasil dilakukan dengan mudah.
Algar terbelalak, dengan segera ia menghampiri Randall yang hanya menyisakan asap hitam tidak beraturan.
"Tidak mungkin, tidak mungkin," gumamnya sebelum kemudian keduan lututnya menyentuh lantai.
Ayden menghampirinya, "Bagaimana pertunjukannya ? Apa kau puas ? Apa kau bisa mati dengan tenang sekarang ?"
Algar menatap Ayden dengan tatapan benci yang lebih dari sebelumnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Eternal Winter (END)
Fantasy(COMPLETED) 15 tahun adalah waktu yang Ayrece habiskan tanpa mengetahui siapa dirinya sebenarnya, ia hanya terus berkelana dengan seorang gipsi yang ia panggil bibi. Namun secara tiba-tiba, saat ia datang ke sebuah tempat dimana salju tidak pernah m...
