Udara dingin menusuk kulit, kabut yang menutupi pandangan dan salju tebal membuatnya kesulitan berjalan.
Faramond kembali merapatkan jubahnya yang memang tidak diperuntukkan untuk dipakai di cuaca sedingin itu.
Setelah menyelesaikan tugasnya meracik ramuan bersama Demelza dan mengobati korban luka yang tidak terlalu banyak, ia segera keluar dari kastil.
Sedikit cukup lama sampai tugasnya itu terpenuhi, karena mereka sama sekali tidak meninggalkan penyembuh di kastil Dantevale.
Faramond bahkan sempat berputar-putar di perpustakaan Dantevale yang lebih besar dari perpustakaan Istana untuk mencari cara menyembuhkan radang dingin.
Bagi penyihir yang jarang sekali menyentuh penyembuhan seperti dirinya, itu adalah tugas yang cukup melelahkan.
Apalagi Demelza yang sama sekali belum pernah menghadapi langsung teknik penyembuhan penyihir.
Meskipun Faramond yakin ia sudah mendalami teorinya karena tadi rasanya ia seperti melihat seorang penyihir penyembuh sebenarnya saat melihat Demelza.
"Ughh !" seru Faramond setelah yang kesekian kalinya menginjak tubuh seseorang yang terkubur dibawah salju.
Terkadang ia menemukan tangan atau kaki seseorang yang mencuat keluar dari gundukan salju. Sebagian besar dari mereka atau mungkin bahkan semuanya sudah mati.
Mereka pasti kehabisan napas setelah berjam-jam terkubur dibawah sana atau setidaknya mati terkena hipotermia karena cuaca benar-benar menjadi sangat dingin.
Faramond kembali mengedarkan pandangan, ia yakin ia sudah berada di perbatasan. Ia telah melewati perumahan terakhir sejak beberapa menit yang lalu.
Kabut tebal dan dingin itu mengganggu pandangannya, namun ia yakin yang berada di ujung sana adalah pepohonan hutan musim dingin.
"Dimana dia ?" gumamnya.
Ia kembali melangkahkan kaki dengan susah payah sembari mengedarkan pandangannya ke segala arah.
Sampai ia menemukan objek yang dicarinya, kedua mata Faramond menangkap salju yang setengah menggunduk dengan bercak merah disekitarnya.
Dengan segera, ia mempercepat langkahnya. Begitu ia sampai di gundukan salju itu Faramond menatapnya sesaat.
Itu benar merupakan apa yang ia cari-cari sejak tadi. Ia bersimpuh, kemudian menggali salju tersebut dengan kedua tangan telanjangnya.
Dinginnya salju menusuk kulit tangan Faramond, namun ia terus menggali tanpa henti sampai jari-jemarinya mati rasa. Namun, tangan yang mati rasa itu kemudian merasakan bulu halus yang tidak asing.
Begitu berhasil melebarkan galiannya, ia dapat melihat dengan jelas apa yang dicarinya. Seekor serigala besar tergeletak tak sadarkan diri dengan darah dimana-mana.
Dengan susah payah, ia menarik tubuh besar Whiskey dari tumpukan salju dingin itu.
Faramond terduduk lemas menatap Whiskey yang beberapa saat lalu sempat menemaninya dan Ayrece di medan perang.
Dengan perlahan, Faramond mengulurkan tangannya dan menyentuh badan Whiskey, mencoba merasakan kehidupan di sana. Ia tidak merasakan napas maupun detak jantung sama sekali.
"Kau sudah bekerja keras kawan, istirahatlah dengan tenang," ucap Faramond seraya mengelus kepala Whiskey.
Saat matahari mulai bersembunyi di sisi barat, mansion Taranesse masih saja ramai. Halamannya masih dipenuhi tenda-tenda medis.
KAMU SEDANG MEMBACA
Eternal Winter (END)
Fantasía(COMPLETED) 15 tahun adalah waktu yang Ayrece habiskan tanpa mengetahui siapa dirinya sebenarnya, ia hanya terus berkelana dengan seorang gipsi yang ia panggil bibi. Namun secara tiba-tiba, saat ia datang ke sebuah tempat dimana salju tidak pernah m...
