Satu minggu berlalu setelah peristiwa besar di Brechordon itu terjadi. Berita tentang hal tersebut menyebar hingga keluar benua.
Karenanya, pada akhir musim semi itu Istana kerajaan Brechordon mendapatkan banyak sekali ucapan duka dari berbagai kerajaan.
Sebagian dari mereka benar-benar dengan tulus mengucapkan berduka, namun tidak banyak juga yang hanya mencari muka atau menyembunyikan kata sindiran dibalik kata-kata dalam ucapan mereka.
Brechordon adalah negara besar, apapun yang terjadi didalamnya tentu akan menjadi topik hangat banyak negara.
Entah negara sekutu maupun negara musuh. Kehancurannya memang sangat ditunggu-tunggu.
"Apa itu tidak nyaman, Tuan muda ?" Tanya Stephan saat mendapati Ayden melonggarkan cravatnya.
"Tidak, tidak apa-apa," jawab Ayden.
Ayden berdiri menatap dirinya di cermin. Hari ini adalah hari perayaan puncak musim semi di Dantevale.
Pesta rakyat tahunan yang biasa dirayakan di halaman kastil Dantevale itu akan menjadi lebih ramai kali ini.
Pasalnya, ini juga akan menjadi pesta perayaan kemenangan perang. Karena Istana masih dalam perbaikan, seluruh rangkaian acara akan dilakukan di Dantevale.
Pada hari itu juga Dantevale kembali didatangi para bangsawan dari seluruh negeri setelah sekian lama menutup wilayah.
Ayden menoleh menatap Stephan yang tengah menyiapkan sepatunya. Ia bekerja dua kali lebih keras selama seminggu ini karena menyiapkan kastil untuk menerima banyak tamu.
"Tuan muda, saya baik-baik saja. Jangan menatap saya seperti itu," ucap Stephan seraya menaruh sepatu Ayden dilantai.
"Kau menatapku dengan menyedihkan juga tadi, kenapa aku tidak boleh begitu ?"
Stephan terdiam, ia tidak tahu kalimat apa yang bisa menjawab pertanyaan Ayden itu. Memang benar Stephan sempat menatap Ayden seperti itu.
Tanpa sadar ia mengingat Ayden yang baru saja kehilangan kekasihnya dan harus melakukan perayaan ini dengan senyuman sementara belum lama ini ia berduka.
"Apa saya bisa pergi sekarang ? Saya perlu menemui Tuan Grand Duke," ucap Stephan mencari aman.
Ayden berdecih kecil kemudian melambaikan tangan pada Stephan mempersilahkannya untuk pergi.
"Anda bisa keluar lebih awal untuk menyapa para tamu," ucap Stephan lagi.
Helaan napas lelah terdengar dari Ayden begitu Stephan mengucapkan kalimat itu dan pergi begitu saja.
Namun, Ayden terlalu malas membuat alasan untuk tetap berada di kamarnya. Lagipula, itu bukanlah sikap yang baik sebagai putra dari Tuan rumah.
Usai memakai sepatunya, Ayden keluar dari kamarnya. Ia berjalan di selasar menuju ke tangga utama.
Baru beberapa langkah ia berjalan, seseorang berbelok dari persimpangan didepannya kemudian berhenti seolah menunggunya.
Rambut hitam legam dan gaun merah itu, meski dari kejauhan pun Ayden tahu siapa orang itu.
"Selamat pagi, Yang mulia Ibu Suri," sapa Ayden.
Dalam hatinya bertanya-tanya apa yang membuat Ibu suri menghalangi jalannya. 'Beliau tidak akan memintaku meng-esscort nya kan ?' batin Ayden.
Demelza tersenyum menatap Ayden. Tatapannya seperti orang yang sudah lama tidak bertemu. Itu membuat Ayden tidak nyaman.
"Bagaimana kabarmu, Tuan muda ?" tanyanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Eternal Winter (END)
Fantasi(COMPLETED) 15 tahun adalah waktu yang Ayrece habiskan tanpa mengetahui siapa dirinya sebenarnya, ia hanya terus berkelana dengan seorang gipsi yang ia panggil bibi. Namun secara tiba-tiba, saat ia datang ke sebuah tempat dimana salju tidak pernah m...
