Bagian 97. 'Kunjungan Istimewa'

138 18 0
                                        

Malam itu di mansion Taranesse, udara hangat yang amat kontras dengan suasana tengah hari tadi menemani tidur semua orang disana.

Semua tenda darurat telah dipasangi penutup sehingga para korban yang telah dirawat dapat tidur dengan lelap tanpa nyamuk dan udara dingin yang mengganggu.

Earlene yang tiba di mansion itu beberapa saat yang lalu berdiri di balkon yang mengarah ke halaman.

Kedua matanya menatap kearah sinar-sinar di halaman yang berasal dari puluhan tenda disana.

Ia merasa bersalah karena hanya bersembunyi dan kembali saat perang sudah selesai dan melihat orang-orang yang terluka.

Kedua tangannya tertaut, saling meremas satu sama lain. Saat ini ia adalah Ratu terpilih, namun ia merasa lemah.

Meskipun ia adalah keturunan langsung yang memiliki hak akan takhta, masih banyak orang lain yang lebih kuat daripada dirinya.

Sepanjang waktu ia menunggu di Lockenham ia terus memikirkan hal itu.

Ia yang menaiki tahta tanpa kekuatan apapun selain politik, apakah bisa memimpin dengan baik ?

Cklek !

Pintu menuju balkon terbuka, meskipun tidak membalikkan badannya Earlene tahu siapa yang mendatanginya.

Pastilah Tuan dari mansion ini yang telah ditunggunya.

"Yang Mulia, maaf telah membuat Anda menunggu," ucap Althare seraya melangkah kearah Earlene.

"Apa semua sudah baik-baik saja ?"

Althare terdiam menatap Earlene yang terlihat lemas. Raut wajah yang menunjukkan rasa bersalah menghiasi wajahnya.

"Semua baik-baik saja," jawab Althare.

Earlene kembali menatap halaman mansion, "Aku ingin bertemu dengan Osmond," ucap Earlene, diluar dugaan Althare.

Ia masih terdiam, menunggu Earlene melanjutkan kalimatnya.

"Apa dia juga baik-baik saja ?" tanya Earlene lagi.

Althare mengangguk, "Pangeran mendapat beberapa luka. Beliau langsung pergi ke Istana bersama Sir Gerard untuk membantu penyelidikan setelah mendapat pengobatan," ucapnya.

Earlene mendongak menatap Althare, ia terlihat ragu untuk mengatakan apa yang ada dikepalanya.

"Grand Duke.." ucapnya masih terlihat ragu.

"Apa kau masih percaya diri dengan kemampuan pedangmu ?" lanjutnya.

Althare mengangkat alis, berusaha menebak-nebak kemana arah pembicaraan mereka ini.

Asumsi awalnya adalah, Earlene akan memberikan perintah pertama darinya sebagai pemimpin dan merekrut Althare untuk melakukan sebuah tugas.

Yang mana dengan jelas Althare akan menolaknya jika saja asumsinya itu benar.

"Yang Mulia, Anda tahu karena tanggungjawab yang saya miliki saya tidak bisa lagi memegang pedang untuk keperluan politik," ucap Althare.

Earlene tentu tahu, karena berkah suci yang Althare sebut sebagai tanggungjawab itu ia tidak lagi bisa menggunakan pedangnya untuk beberapa hal tertentu.

Namun, Earlene sama sekali tidak berniat mendorong Althare untuk melakukannya.

"Bagaimana jika kau menggunakan kemampuan pedangmu tanpa menggunakan pedangmu ?" tanya Earlene lagi.

Althare mengernyit, apapun yang ada dikepala Earlene saat ini sepertinya itu akan ditentang oleh banyak orang jika ia harus sampai menggeret Althare seperti ini.

Eternal Winter (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang