After The End (1)

172 21 0
                                        

Pesta musim semi telah usai satu hari yang lalu, kini Dantevale kembali sepi seperti seharusnya.

Semua orang telah kembali ke tempat mereka masing-masing. Keluarga kerajaan, para Vatillian, dan bangsawan lain meninggalkan Dantevale pagi itu.

Para penduduk Lancos sudah kembali seusai pesta tadi malam. Dan sekarang, di tengah hari yang cukup cerah itu Althare dan si kembar berdiri diluar kastil menatap kereta kuda yang berjalan keluar gerbang.

Itu adalah kereta kuda yang membawa Arthelarius kembali ke kota perbatasan barat di Ruzellaim.

Benar, Arthelarius memutuskan untuk tetap melanjutkan kehidupannya sebagai Arthur tua pemilik toko buku di kota perbatasan.

Meskipun mungkin saja kesehariannya akan sedikit berubah setelah ia membuat seluruh tamu pesta terkejut kemarin.

Termasuk keluarga kerajaan dan tuan pemilik tanah Ruzellaim yang berkali-kali mengucapkan akan mengunjungi rumah dan toko bukunya di kota perbatasan.

"Kakek benar-benar akan sering mengunjungi kita kan ?" tanya Ayrece mendongak menatap Ayahnya yang masih memperhatikan kereta kuda yang kian menjauh.

"Kurasa begitu, jika dia tidak berkunjung kalian bisa pergi kesana untuk megunjunginya kan," gumam Althare.

Ayrece mengangguk kecil kemudian menatap Ayden yang hanya terdiam memperhatikan kereta kuda itu.

Ayden tidak begitu banyak berkomentar jika itu mengenai Arthelarius. Dihadapan kakeknya itu, ia hanya bersikap sopan seadanya tidak seakrab Ayrece.

Ayrece kurang lebih mengerti kenapa Ayden seperti itu. Arthelarius juga terlihat memakluminya, jadi tidak ada yang perlu dipermasalahkan.

Seiring berjalannya waktu, Ayden pasti akan menerimanya dengan baik sama seperti yang Althare lakukan.

"Kalian pergilah ke ruang tamu di lantai satu setelah ini, ada yang ingin menemui kalian," ucap Althare.

Ayden mengalihkan pandangannya menatap ayahnya yang sudah berjalan memasuki bangunan utama itu.

"Siapa ya ?" gumam Ayrece.

"Kita lihat langsung saja," ucap Ayden kemudian berjalan terlebih dulu, Ayrece menyusulnya.

Keduanya berjalan memasuki bangunan dengan banyak pertanyaan dikepala.

Seorang tamu yang ingin bertemu dengan si kembar, dan Althare tidak ikut menjamunya. Ini terasa cukup aneh.

Sesampainya didepan ruang tamu di lantai dasar, keduanya berhenti dihadapan pintu yang memisahkan selasar dan ruang itu.

Keduanya saling tatap, Ayrece merasakan sesuatu yang janggal dan ia tahu Ayden juga merasakannya.

Dengan segera Ayden mengulurkan tangannya kemudian membuka pintu itu.

Ruangan lenggang, tidak ada siapapun disana.

Ayrece sampai berjalan kearah sofa dan memastikan tidak ada yang bersembunyi di balik sofa atau dibawah meja.

"Ini aneh," gumam Ayrece seraya mendudukkan dirinya ke sofa.

Ayden yang masih berdiri di ambang pintu berjalan mendekati Ayrece. "Mungkin hanya perasaan kita saja," balas Ayden yang juga merasakan keanehan.

Meskipun apa yang mereka rasakan tadi benar-benar terlalu jelas untuk bisa disebut sebagai 'perasaan saja'.

Keduanya merasakan seseorang atau sesuatu dengan energi kuat yang super besar. Bahkan lebih besar daripada energi Althare.

Ayrece menyandarkan punggungnya di sandaran sofa, "Apa menurutmu Ayah membohongi kita ?" tanyanya.

Eternal Winter (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang