06. Kalimat yang pernah terdengar, namun kali ini berbeda rasanya

36.4K 1.1K 33
                                        

| HAPPY READING|

***

Ayla mengerjapkan matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk, bau obat-obatan tercium di hidungnya, dengan ruangan yang bernuansa putih. Saat hendak duduk ia memegangi kepalanya yang terasa pusing, dan ia baru menyadari — punggung tangannya terpasang infus, ternyata ia berada di rumah sakit. Ayla mengingat kejadian beberapa jam lalu, dimana ia menyelamatkan seorang anak kecil yang hampir tertabrak mobil.

Ayla melirik jam yang terpasang di dinding, menunjukkan pukul 16.33, ia membelalakkan matanya, ia harus segera pulang, orang tuanya pasti mencarinya, namun bagaimana caranya? selang infus masih setia berada di punggung tangannya, tidak mungkin ia copot begitu saja? tapi bagaimana dengan orang tuanya, pasti mereka khawatir.

"Gue harus gimana, shh." Ayla memegangi kepalanya kembali. kenapa sakit lagi batin Ayla.

Ceklek

Pintu terbuka — menunjukkan seorang pria yang tegap dan gagah, dengan jas berwarna putih dan stetoskop di lehernya, pria itu menghampiri brankar ayla. "Ada yang sakit?" pria itu adalah Athar.

Ayla masih melongo, ia baru mengetahui ternyata Athar ini seorang dokter. "Kenapa hey? ada yang sakit?" dari nadanya terdengar khawatir.

Ayla tersadar, ia menggeleng. "A-aku gapapa." Jawabnya.

"Aku mau pulang, dok."

dok
dok
dok

Kata-kata itu tergiang di otak Athar, baru pertama kali Ayla memanggil dirinya "dok" biasanya "kak" Athar sedikit mempermasalahkan itu, jatuhnya seperti pasien dan dokter yang sama sekali tidak saling kenal, padahal keduanya saling kenal, walaupun belum lama.

Mendengar permintaan Ayla, sontak Athar menatapnya tajam. Apakah Ayla tidak sadar? dirinya baru saja kecelakaan dan sekarang ingin pulang? hey, dimana otaknya.

"Kamu habis kecelakaan, kening kamu berdarah, dan sekarang dengan mudahnya kamu bilang mau pulang?" tanya Athar tanpa ragu Ayla mengangguk.

"Saya tidak mengizinkannya." Tegas Athar.

Mendengar jawaban itu membuat bahu ayla merosot, ia sangat anti dengan rumah sakit, dan sekarang harus menginap? ia tidak mau. Bahkan setiap Ayla sakit, ayahnya selalu  memanggil dokter untuk visit kerumahnya.

"Dok, ayolah. Ayah dan bunda pasti khawatir kalau aku belum pulang jam segini." Jelas Ayla, ia berharap Athar mengizinkan dirinya pulang.

Athar menatap manik hazel itu. "Orang tua kamu ada disini, mereka lagi dikantin." Jawab Athar.

Ayla menatap Athar tak percaya, siapa yang memberitahu ini? padahal tadinya ia tidak akan bilang kejadian ini, tapi sudah terlambat.

"Saya yang menelpon ayahmu." Ucap athar, seakan tau apa yang dipikirkan Ayla.

Ayla menghembuskan nafasnya, sudah pasti mereka khawatir, terutama sang bunda. "Dokter punya nomor ayah dari mana?" selidik Ayla, seingatnya ayah Haidar tidak sembarangan memberikan nomor ponselnya, kecuali orang itu penting.

Athar memikirkan jawaban yang tidak membuat Ayla curiga. Namun kenapa otaknya seketika menjadi lemot?

Ia berharap ada pertolongan untuk dirinya, agar tidak menjawab pertanyaan Ayla. Tidak mungkin kan ia jawab "saya menantunya" bisa-bisa terbongkar.

ATHARLA [REVISI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang