08. Pesantren Al-fatah

33.1K 1K 31
                                        

Hari ini, hari yang tidak Ayla tunggu, hari yang sangat Ayla benci, rasanya Ayla ingin berteriak sekencang-kencangnya. Ayla sedang bersiap untuk berangkat ke pesantren, ia menatap dirinya dicermin, dan lihatlah tidak ada semburat bahagia diwajahnya. "Jadi ini semua bukan mimpi?" lirih Ayla.

Teriakan dari bawah membuyarkan lamunannya, ia segera turun kebawah, bahaya jika ia tidak segera kebawah. "SEBENTAR, BUN."

Sesampainya dibawah, ia disambut dengan senyuman manis dari ayah, bunda, bahkan abangnya yang ngeselin itu.

"MasyaAllah, anak bunda cantik banget." Puji bunda Hana.

"Aku memang cantik dari lahir, bun." Jawab Ayla percaya diri.

"Cie... yang mau mondok." Goda Rafka menyenggol bahu Ayla.

Ayla melemparkan tatapan tajamnya. "Diem, bang." Ketus Ayla.

Sontak Rafka memegangi dadanya dramatis. "YaAllah, apa salah saya, padahal cuman nanya." Rafka menatap langit rumahnya.

Bunda Hana dan ayah Haidar yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya. "Udah-udah, ayo berangkat." Suara ayah Haidar membuat Rafka menegakkan tubuhnya, lalu hormat. "Siap, ayah! lest go!" dengan perasaan senang ia jalan paling depan.

"Siapa yang mau mondok, siapa yang seneng. Gue aja yang mau mondok gak seneng." Gumam Ayla.

****

Menempuh waktu kurang lebih 1 jam, kini Ayla sudah sampai di pesantren Al-fatah. Pesantren dengan gedung berwarna hijau muda dan putih tissue. Pesantren al-fatah merupakan pesantren modern, yang diajar oleh ustadz/ustadzah berpengalaman. Banyak orangtua yang ingin memasukkan anaknya ke pesantren al-fatah, karena banyak lulusan yang kuliah di top PTN maupun PTS, bahkan bisa sampai luar negeri, jadi tak khayal jika pesantren itu banyak peminatnya.

Ayla memandangi pesantren itu seksama, tidak terlalu buruk pikirnya. Lingkungan yang bersih, dan gedung yang adem saat dipandang. Ayla melihat sekelilingnya banyak santri lalu lalang yang memakai pakaian syar'i, bahkan ada yang memakai cadar. Apakah Ayla bisa seperti mereka? pakai hijab saja kadang masih dililit atau pendek, tapi mereka benar-benar mengikuti syariat Islam. Ia masih terlalu jauh.

"Ayo nak, masuk. Kamu ngapain bengong aja?" suara bunda Hana membuat Ayla menoleh kearah bundanya, lalu menghampiri sang bunda.

"Bun aku gamau mondok." Cicit Ayla namun masih didengar oleh bunda Hana.

Bunda Hana menoleh menatap sang anak. "Loh kenapa? kemarin kamu bilang mau, kenapa sekarang berubah pikiran?"

Ayla menggeleng sebagai jawaban, jujur ia tidak yakin akan betah di pesantren, ia sendirian dipondok ini, tidak ada keluarga atau sahabat, apalagi Ayla ini anaknya tidak bisa jauh dari keluarga. "Udah dek, ayo." Rafka menggandeng tangan Ayla, Ayla hanya pasrah dibuatnya.

"Loh itu bukannya kak Rafka ya?" nanti salah satu santri.

"Kak Rafka sama siapa itu, kenapa dia gandeng cewek itu?"

"Mimpi apa gue kak Rafka datang kesini."

Begitulah ucapan yang Ayla denger selama dijalan, ia hanya mengabaikannya. Memang abangnya se-terkenal itu kah dipondok ini? padahal menurutnya biasa aja.

Tanpa terasa mereka sudah sampai didepan ndalem, dan disambut hangat oleh nyai Rahma. "Mari masuk Bu, pak." Ucap nyai Rahma ramah disertai dengan senyuman.

Bunda Hana tersenyum seraya mengangguk, lalu masuk kedalam mengikuti nyai Rahma. Nyai Rahma menyuruh mereka untuk duduk, dan Ayla duduk disamping bundanya. Ayla hanya diam, mendengarkan bundanya yang sedang mengobrol dengan nyai Rahma, ia seperti nyamuk saat ini. Fyi bunda Hana dan nyai Rahma adakah sahabat sedari duduk dibangku kelas 1 SMP.

ATHARLA [REVISI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang