Aku tertidur ketika bersandar pada Xavier. Saat aku terbangun di keesokan harinya, hari sudah hampir siang.
Aku memeriksa apakah Xavier sudah bangun. Saat aku hampir tiba di kamarnya, pintunya telah terbuka. Dia berpakaian rapi, berdiri di depan cermin.
Airiss : "Xavier? Kenapa kamu..."
Aku mendekatinya. Ternyata dia berpakaian untuk bertemu dengan Yang Mulia Raja.
Airiss : "Kamu mau kembali ke istana?"
Xavier : "Aku nggak bisa lari terus-terusan. Aku akan menemuinya secara langsung kali ini."
Airiss : "Kau nggak perlu pergi, kalau nggak mau."
Xavier tetap diam. Dia mengambil pedangnya di dekat cermin. Hatiku tenggelam saat aku melihat rumbai itu.
Siapa yang tahu kapan kami akan bertemu lagi...
Airiss : "Aku pernah bilang punya permintaan sebelum duel kita. Boleh aku nanya?"
Xavier : " Kau boleh nanya sepuluh kali kalau itu bikin kamu senang."
Aku mencoba untuk menyemangati diriku. Dan...
Airiss : "Siapa yang ngasih rumbai bintang itu? Pacarmu?"
Xavier : "..."
Xavier menatapku sesaat. Dia tiba-tiba tersenyum.
Xavier : "Pada akhirnya, tiba juga waktunya. Ya, dari seseorang yang ku suka."
Airiss : "...!"
Aku tau pasti begitu, dan lagi aku merasa gelisah dia mengaku begitu mudahnya.
Airiss : "Lalu... Dia... Apa dia benar-benar seseorang yang kamu suka?"
Xavier : "Iya."
Airiss : "...Kamu sayang banget sama dia?"
Xavier : "Beda dari yang lainnya, kecemerlangannya punya tempat istimewa di hatiku."
Airiss : "..."
Aku mencengkream ujung mantelku. Penyesalan karena mengajukan pertanyaan seperti itu begitu nyata.
Airiss : "Kamu sangat menyukainya..."
Xavier : "Dia meninggalkaku bertahun-tahun yang lalu. Aku udah cari dia sejak saat itu."
Airiss : "Jadi, untuk alasan itu kau ikut tim ekspedisi? Buat nyari dia?"
Xavier : "Ah? Bukan, nggak gitu..."
Airiss : "Apa kamu nyimpan rumbai itu untuk mengingatnya?"
Xavier : "Aku nggak pernah melupakannya. Dialah yang melupakanku."
Airiss : "Kok bisa dia?"
Meskipun ini menjadi pembahasan yang menyedihkan, Xavier tidak sedikit pun kesal karena suatu alasan.
Xavier : "Kami ketemu lagi, tapi dia nggak punya ingatan tentangku. Dia malah nggak ingat kapan dia ngasih aku rumbai ini. Ada ekspresi tertentu yang muncul di wajahnya tiap kali kami ketemu."
Sambil berbicara, dia melirikku, terlihat tidak puas.
Xavier : "Itu adalah ketidaktahuan yang membahagiakan dan takjub."
Airiss : "Beraninya dia?!"
Melihat Xavier seperti ini, aku merasa kasihan.
Aku tidak menyesal lagi karena bertanya. Aku hanya merasa kesal atas penderitaan yang dia lalui.
Airiss : "... Xavier, aku ingin bilang sesuatu."
Xavier : "Apa itu?"
Aku menggertakkan gigiku, memutuskan untuk jujur padanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Shooting Stars
FanfictionLove and Deepspace Xavier's Myth - Shooting Stars Terjemahan Bahasa Indonesia MC : Airiss Cataluna Di Astria Knight Academy yang bergengsi, Airiss selalu terdorong untuk menjadi Grandis Knight di antara pasukan Lightseeker yang disegani, pelindung...
