Chapter 4

50 3 0
                                        


Xavier tidak pernah memberi tahuku apa yang terjadi.

Aku hanya bisa menduga ide samar berdasarkan potongan-potongan percakapan kami.

Jika aku tidak salah, insiden ini terjadi sekitar Upacara Gladius.

Itu adalah sebuah tradisi yang diturunkan dari generasi ke generasi. Hanya pemegang lightblade lah yang bisa membuktikan dirinya pantas untuk mewarisi tahta. Ujian itu dikenal dengan sebutan Upacara Gladius.

Di selatan ada Starfall Forest, tempat Wanderer membuat sarangnya. Xavier harus memasuki Hutan dan membunuh Wanderer itu sendiri.

Aku hadir pada hari semua orang pergi untuk melihat sang Pangeran berangkat.

Starfall Forest adalah tempat terpencil dengan Protofield yang tidak stabil. Di malam hari, kabut tebal menyelimuti pepohonan. Dedaunan bergemerisik tertiup angin diiringi kicauan burung misterius.

Ketika Xavier memasuki Starfall Forest, semua menjadi sunyi. Hutan itu adalah Wanderer yang diam-diam mengamati mangsanya.

Semua orang menunggu di pinggiran kota, bertanya-tanya apakah sang Pangeran akan kembali. Hari demi hari, Hutan itu tetap sunyi.

Mereka mengira Wanderer telah melahap sang Pangeran lalu pergi satu persatu.

Akulah satu-satunya yang masih menunggunya.

Xavier sering kali meninggalkanku seperti ini.

Ketika dia bergabung dengan tim ekspedisi. Kemudian ketika dia kembali ke istana bersama Royal Messenger. Aku selalu bertanya kapan dia akan kembali.

Dia selalu kembali dalam tenggat waktu yang dia katakan padaku.

Sebelum sang Pangeran memasuki Hutan, semua orang berdoa untuk keselamatannya. Disaat itu, Xavier berbisik di telingaku...

"Tujuh hari."

Setelah tujuh hari berlalu, malam itu tanpa bulan. Akulah satu-satunya yang masih menunggunya.

Sebelum fajar menyingsing, cahaya yang samar muncul dari dalam Hutan.

Semakin terang, lalu berubah menjadi sosok putih.

Xavier muncul. Lightblade menghilang menjadi bintik-bintik cahaya yang tak terhitung jumlahnya. Dia menghampiriku, dengan Protocore Wanderer di tangannya.

Tidak ada kegembiraan atau lega terlihat. Kepalanya tetap menunduk, Xavier memelukku dalam diam.

Apa yang dia temui atau lihat dalam tujuh hari itu masih menjadi misteri.

Membunuh Wanderer sudah sepatutnya dirayakan.

Tapi Xavier telah berubah sejak saat itu.

Seakan sebagian dari dirinya masih tertinggal di Starfall Forest.


***


Di tengah kunang-kunang yang bersinar di dekat patung, Xavier menundukkan pandangannya.

Xavier : "Aku nggak bisa jadi seseorang yang dia inginkan. Aku juga nggak akan pernah duduk di tahta yang dia tinggalkan."

Aku dan Xavier telah berjalan di jalur yang berbeda. Bodohnya diriku jika bilang bahwa aku memahaminya. Yang bisa kulakukan hanyalah menggenggam tangannya.

Airiss : "Kalau kamu adalah Raja berikutnya, aku janji akan terus berada di sampingmu."

Xavier : "Senang mendengar pikiranmu, tapi..."

Xavier tersenyum dan menatapku.

Xavier : "Apa kamu sudah yakin? Apakah menjadi pedang sang Raja adalah keinginanmu?"

Airiss : "Iya."

Xavier : "Lalu, gimana kalau aku nggak pakai mahkota itu?"

Airiss : "Apa..."

Sepertinya Xavier dan Yang Mulia Raja telah bertengkar, tetapi aku tidak pernah memikirkan kemungkinan jika orang lain yang akan menjadi Raja.

Airiss : "Kalau begitu aku akan jadi ksatria orang lain."

Suatu hari nanti aku harus mengucapkan sumpah kesetiaan, menjadi Ksatria Grandis, mengikutinya hingga ke ujung dunia, hanya kepadanya mataku tertuju, mengangkat pedang atas namanya....

Dan orang itu bukanlah Xavier... Aku tidak pernah membayangkan hal seperti itu bisa terjadi.

Xavier : "Aku nggak mau kamu jadi ksatria orang lain."

Xavier : "...Aku juga nggak mau membiarkanmu berada di sisi yang lain."

Airiss : "Xavier..."

Xavier : " Aku bisa pilih untuk nggak jadi Raja. Kamu juga bisa pilih untuk nggak bergabung dengan Lightseeker yang harus bersumpah setia pada keluarga kerajaan."

Airiss : "...?!"

Gagasannya berada di luar pemahamanku, namun dia menyatakannya dengan cara yang agak acuh tak acuh.

Xavier : "Philos nggak terikat. Kita bisa melakukan apa saja. Kenapa kamu harus mengikuti perintah seseorang, untuk menjadi seorang Gandis Knight?"

Airiss : "Guru kita bilang kalau beginilah seharusnya aku hidup. Kalau bukan begitu memangnya apa lagi yang bisa aku lakukan?"

Xavier : "..."

Xavier : "Aku akan membawamu ke Uluru."

Airiss : "Uluru?"

Xavier : "Di ekspedisiku yang terakhir, aku menemukan sebuah planet baru. Aku yang menamainya. Nggak ada Wanderer atau manusia terlihat. Hanya bunga-bunga. Hanya melihat sekilas, kita bisa melihat setiap planet di semesta. Yang biru, merah, pink..."

Airiss : "Bukankah katanya Philos sedang perlahan sekarat? Bagaimana bisa ada planet baru?"

Xavier menunduk. Kunang-kunang mendarat di kelopak forget-me-not.

Xavier : "Dengan datangnya musim semi, harapan akan segera mengikuti."

Airiss : "Musim semi... Seperti apa musim semi di planet lain?"

Xavier : "Aku udah rekam koordinat planet itu. Setelah aku menyelesaikan masalahku dan kalau kamu telah menyerah untuk menjadi Ksatria Grandis...

Xavier : "Ayo kawin lari. Habiskan sisa hari-hari kita di Uluru."

Shooting StarsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang