Chapter 2

112 7 0
                                        

Astria Knyght Academy adalah institusi yang paling bergengsi dan tertua di Philos. Banyak ahli pedang planet ini dan Ksatria Grandis pernah belajar dan lulus dari akademi ini.

Didirikan untuk melatih para ksatria Pasukan Lightseeker yang hanya menjawab panggilan keluarga kerajaan. Ketiga asrama akademi memiliki spesialisasi teknik berpedang yang berbeda. Starhunter memiliki spesialisasi berupa penguatan. Moonchaser ahli dalam support, dan Rainbowrunner adalah yang terbaik dalam bertahan. Meskipun begitu mereka tetap saling menghormati satu sama lain dan senantiasa untuk bekerja sama.

Begitulah yang dipikirkan oleh para siswa dan aku, seorang Ketua Moonchaser, memiliki seorang musuh bebuyutan...

Dengan kata lain, bisa dibilang aku bersaing dengan seorang Ketua Starhunter bernama Xavier.

Keesokan harinya di siang hari, di depan Pedang Suci Sang Dewi, di tengah alun-alun akademi...

Siswi A : "Ayo cepat! Ketua Moonchaser dan Starhunter sedang bertarung lagi!"

Siswi B : "Kenapa seorang Moonchaser selalu mengganggu Yang Mulia Pangeran Xavier?"

Siswi C : "Para ketua kita adalah murid dari Grandis Knight. Saat teknik pedang terlibat, sulit menentukan siapa yang menang."

Siswi B : "Padahal akhir-akhir ini tenang. Kenapa sekarang mereka bertarung?"

Siswi C : "Babak penyisihan untuk bergabung dengan Lightseeker akan segera dimulai. Mungkin mereka sedang menentukan siapa yang akan mengisi posisi tersebut?"

Siswi A : "Bukankah mereka memiliki guru yang sama? Seharusnya mereka memanfaatkan waktu untuk sesuatu yang lebih berguna."

Siswi C : "...Mungkin mereka saling membenci satu sama lain."

Siswi B : "Pastinya begitu..."

Siswi A : "Kalau begitu mereka pasti benar-benar benci satu sama lain..."

Aku berdiri di tengah-tengah lautan manusia, mencengkram pedang di pinggangku. Yang berdiri di hadapanku adalah Xavier, tak tergoyahkan oleh gossip.

Xavier : "Kelemahanku akan terungkap setelah gerakanmu yang ke tiga puluh. Jatuhkan aku sebelum Comet Trail-ku menentukan hasil dari pertarungan kita."

Airiss : "..."

Aku hanya bisa menghela nafas setelah melirik ke sekelilingku.

Airiss : "Kenapa kamu selalu minta dikalahkan di depan umum waktu nggak punya alasan supaya nggak pulang ke rumah Xavier? Semua orang, sampai ibu mereka percaya kalau kita saling benci."

Xavier : "... Kita berdua sama-sama sekolah di akademi dan sang Ksatria Grandis adalah guru kita. Kamu adalah satu-satunya yang punya kesempatan menang dariku. Aku nggak mungkin kalah dari sembarang orang."

Airiss : "Hmph!"

Xavier : "Ini akan jadi duel kita yang terakhir."

Airiss : "Kamu bilang hal yang sama waktu kabur dari ujian akhir memasak! Profesor menghabiskan waktu sepanjang hari buat marahin aku karena merundung teman sekelas ku..."

Xavier : "...Maafkan aku."

Airiss : "Apa kamu nggak mau bertemu dengan Yang Mulia Raja? Itu kan alasanmu menyelinap pergi dengan tim ekspedisi."

Xavier : "Aku harap dia bukan ayahku."

Xavier menundukkan kepala dan membelai hulu pedangnya, jemarinya menyentuh gantungan di pedangnya. Jimat berbentuk bintang yang bersinar terang.. hampir membutakan mataku.

Airiss : "Baiklah. Kalau gitu ini yang terakhir. Aku juga punya permintaan."

Xavier : "Silahkan."

Sesaat aku menatap rumbai itu, kemudian ku alihkan pandanganku ke tempat lain. Dalam sekejap, aku menarik pedangku.

Shooting StarsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang