7. Ulang Tahun

26 4 1
                                        

"SELAMAT ULANG TAHUN, NEYA!" Sorak beberapa teman dekat Neya di dalam kelas XII IPA 1.

Hari ini adalah hari di mana Neya telah hidup selama delapan belas tahun. Ada yang berbeda dari perayaan-perayaan sebelumnya. Yang membedakan adalah ulang tahun hari ini menjadi ulang tahun dirinya versi seorang siswa karena tahun depan, pertengahan 2023, dia dan teman-temannya sudah dinyatakan lulus.

Pada jam mata pelajaran terakhir yang seharusnya diisi dengan pelajaran seni, mendadak tak ada kegiatan apapun. Iqbal, selaku ketua kelas, memberitahu bahwa guru seni sedang ada keperluan di luar sekolah. Beliau pun tak memberi tugas apapun.

Lalu, rintik gerimis perlahan membasahi tanah. Hujan semakin deras turun menerjang kota. Jakarta seakan memberi isyarat untuk merayakan hari ulang tahun Neya dengan bermain air di bawah hujan. Isyarat itu pun didengar teman-teman Neya.

"Mandi hujan, yuk!" seru Nana, teman sebangku Neya sejak kelas sepuluh.

"AYOO!" sahut Riko, cowok berkacamata yang hobi bermain game di pojok kelas.

Beberapa teman kelas Neya pun turun dari lantai dua dan tanpa ragu berdiri di bawah hujan. Neya yang sempat ragu, tiba-tiba ditarik Nana untuk ikut bermain hujan. Sebagian penghuni di dalam kelas pun kosong. Mereka sengaja membasahi diri dengan air hujan yang dingin itu. Beruntung tak ada petir yang bergemuruh.

Hari itu jadi hari paling mengesankan selama Neya melewati perayaan-perayaan di tahun sebelumnya. Ternyata hal semacam itu, yang Neya pikir biasa saja, akan jadi hal yang terkenang juga di hari ini.

"Gak kerasa ya, Ney. Udah hari keempat kita kuliah," seru Lian di sampingnya yang sedang sibuk merapikan sebuah binder ungu muda.

"Iya juga. Oh iya, main ke perpustakaan daerah yuk, Li."

Sedari dulu saat masih di Jakarta, tepatnya hari-hari setelah pengumuman diterima di Universitas Harapan Bangsa, Neya selalu penasaran bagaimana wujud perpustakaan daerah di tempatnya merantau. Pasalnya, hampir selama dua minggu sekali, dirinya pasti rutin berkunjung ke Perpustakaan Daerah Jakarta yang berada tepat di Taman Ismail Marzuki. Nuansa rak berwarna cokelat dengan penerangan yang mendukung sunyinya perpustakaan, membuat Neya merindukan suasana-suasana itu.

"Ayo! Gue mau baca novel Percy Jackson seri kedua, semoga ada deh." Lian menyetujui tawaran Neya.

Kedua gadis itu pun menaiki angkutan kota berwarna merah yang sejak lima menit lalu ditunggu di halte depan kampus. Hanya butuh waktu sekitar delapan sampai sepuluh menit untuk sampai di perpustakaan daerah.

Perpustakaan ini lebih kecil dibandingkan perpustakaan di Jakarta yang biasanya Neya kunjungi. Setelah pintu masuk, mereka disambut dengan meja registrasi untuk pengisian formulir pengunjung. Lian mengisi lebih dulu, Neya setelahnya. Tak jauh dari meja registrasi, mereka diwajibkan untuk meletakkan tas dan hanya membawa barang yang diperlukan.

Terdapat pintu pembatas antara ruang registrasi dan ruang baca. Tanpa ragu, Neya dan Lian melangkah masuk ke dalam ruang baca. Beberapa rak cokelat dipenuhi dengan buku-buku dari berbagai jenis, fiksi dan non-fiksi. Neya beralih pandang pada kumpulan rak berisi buku-buku fiksi dan menemukan satu buku yang menarik perhatiannya.

Novel itu berjudul "Angsa dan Kelelawar" karya Keigo Higashino. Asalnya dari Jepang, tetapi sudah ada yang versi terjemahan bahasa Indonesia. Walaupun berhalaman tebal, sampulnya sederhana, berwarna putih dengan sedikit warna hitam.

Neya mengintip sedikit dari balik rak buku, ternyata Lian sudah terduduk dengan tenang membaca seri Percy Jackson yang dicarinya. Gadis itu akhirnya memutuskan untuk membaca novel "Angsa dan Kelelawar".

Neya melangkah menuju kursi kosong di samping Lian dengan pandangan menunduk. Ia mulai membaca halaman pertama dari novel yang dipegangnya.

Bug!

Sial. Neya menabrak seorang laki-laki berkemeja hitam dengan celana bahan panjang berwarna cokelat tua. Yang lebih mengejutkan lagi, saat Neya mendongak melihat wajahnya, dia adalah salah satu komisi disiplin berkacamata sewaktu ospek kampus tempo lalu. Terkadang, rasa takut kepada komisi disiplin itu masih ada, entah apa yang ditakuti.

"Eh? Kang, maaf."

Jangan menduga bahwa kejadian selanjutnya adalah genre romansa dengan Neya dan laki-laki itu mengambil novel yang jatuh. Kalian salah besar jika benar-benar berharap ada momentum itu. Hal yang selanjutnya terjadi adalah dia yang berjalan meninggalkan Neya tanpa sepatah kata pun, sedangkan Neya masih dalam posisi berjongkok untuk mengecek keadaan novel yang dijatuhkannya tadi. Terlihat judes dan galak walaupun bukan lagi komisi disiplin. Pantas saja ia menjadi bagian divisi itu.

"Ih, lo liat gak? Ada kang komdis kacamata di sini."  Neya berbisik setelah dirinya terduduk di samping Lian.

Lian menghentikan kegiatan membaca bukunya, lalu mengedarkan pandang ke seluruh sudut ruang. "Mana? Nggak ada."

"Ih, beneran deh! Tadi ada."

"Udah keluar, maybe." Lian mengerutkan keningnya. "Eh, gue hampir lupa! Happy birthday, Neya."

Suara kecil Lian berhasil membuat Neya melupakan sejenak kejadian tadi. "Makasih!"

***

Neya dan Lian kembali melangkah masuk melalui gerbang satu-satunya indekos mereka setelah menghabiskan waktu di perpustakaan. Hari mulai gelap, lembayung menampakkan wujudnya. Setelah membuka gerbang, ternyata lima penghuni kamar lain sedang berkumpul di ruang tengah, ada Teh Izza, Teh Ola, Teh Ila, Teh Ai, dan Teh Bila. Rupanya sedang asyik menonton film melalui laptop.

"Eh, Neya Lian, sini ikutan!"

Tanpa menolak, keduanya menghampiri lima kakak tingkat mereka itu. "Nonton apa teh?"

"HAPPY BIRTHDAY, NEYA!" Kelima gadis penghuni indekos bersorak ramai serentak.

"Makasiiih, teteh-teteh!"

"Sama-sama!"

Keduanya pun terduduk. Mereka menyaksikan film

"By the way, kalian ada niatan untuk ikut organisasi gak? Join himpunan, yuk!"

"Nah, kan, mulai deh Izza."

Neya sedikit terkejut dengan ajakan Teh blabla. Namun, dirinya memang berniat untuk mengikuti organisasi di perkuliahan. Sesekali mencoba sesuatu yang tak pernah dicobanya saat SMA.

"Aku belum pernah ikut organisasi apapun di SMA, Teh. Paling ikut ekskul tari aja."

"Gak apa-apa, cobain deh. Jadi, di himpunan mahasiswa program studi PGSD di kampus kita itu ada Badan Legislatif dan Badan Eksekutif. Legislatif tugasnya mengawasi dan mengevaluasi kinerja eksekutif. Ibaratnya kalau di SMA, legislatif itu MPK, eksekutif itu OSIS-nya. Kalau dalam sebuah pemerintahan, yang berperan sebagai legislator itu ada DPR dan DPD."

"Wah, menarik. Kalo Teh Izza? Anak Hima juga, kah?"

Teh Izza mengangguk kuat. "Aku Badan Legislatif Komisi 4, komisi yang mengawasi dan mengevaluasi kinerja Departemen Pengabdian dan Kominfo."

"Oh ya? Aku dari awal sebenernya kepikiran mau join Hima, tapi bingung jadi apa. Kalo minat, sih, aku minat seputar desain, Teh. Aku juga suka melukis, mungkin akan ikut UKM kesenian juga."

"Nah, kebetulan banget! Ayo, join Hima dan gabung ke Komisi 4!"

"Halah, iklan mulu." Teh Ola melemparkan sebuah bantal kecil hingga tepat sasaran mendarat di wajah Teh Izza. "Jangan lupa join UKM keseniannya juga ya, Ney."

"Ah, sama aja, kan, lo!"

Perbincangan malam itu berputar dalam lingkup perkuliahan. Kelima kakak tingkat Neya saling menceritakan kehidupannya selama dua semester ke belakang. Selain fokus pada perkuliahan di kelas, mereka semua sibuk menjadi pengurus Himpunan Mahasiswa atau Unit Kegiatan Mahasiswa. Senang rasanya berbagi pengalaman. Sampai akhirnya Neya menyadari bahwa tidak ada pengalaman yang sepenuhnya baik walaupun itu diambil berdasarkan keputusan sendiri. Selalu ada celah untuk mendapatkan pelajaran hidup melalui orang-orang yang kita temui. Jadi, tak ada keputusan yang baik atau buruk atau organisasi yang layak dan tak layak. Keduanya tergantung bagaimana orang-orang di dalam itu.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 08, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

EVALUASITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang