Keesokan paginya, Xiao Zhan dan Wang Yibo masuk ke pertanian jari emas sambil membawa Wang Erbo. Semalam mereka berdua telah sepakat untuk memberitahukan keberadaan jari emasnya pada Wang Erbo supaya anak kecil itu melupakan kejadian kemarin sore dan membuatnya lebih bersemangat lagi.
Tentu saja Wang Erbo senang dan bersemangat setelah diberitahu tentang hal itu. Dia sudah tidak sabar untuk merasakan keajaiban yang dikatakan oleh kedua Gege-nya, jadi saat dia melihat tempat lain setelah menutup matanya, dia tidak bisa menahan kebahagiaannya.
Xiao Zhan dan Wang Yibo mengajak Wang Erbo untuk memanen tomat dan kubis yang sudah matang. Mereka membiarkan Wang Erbo menyalurkan kesenangannya terhadap pertanian jari emas dengan catatan tidak memaksakan dirinya hingga kelelahan.
Dengan adanya orang tambahan membuat waktu memanen tomat dan kubis menjadi cepat. Hanya membutuhkan waktu kurang dari satu jam, mereka telah selesai memanen.
Setelah tomat dan kubis dipanen, kini hanya tinggal tomat yang ditanam kemarin siang yang belum dapat dipanen karena waktu yang dibutuhkan untuk dipanen masih kurang. Semua tomat itu baru bisa dipanen jika waktu telah menunjukkan siang hari.
Karena hal itu, Xiao Zhan memutuskan untuk menjual tomat dan kubisnya besok pagi bersama tomat lainnya yang akan dipanen di siang hari nanti.
Sambil menunggu siang hari tiba, Wang Yibo menggunakan waktu yang ada untuk menanam sisa benih tomat di ladangnya.
Karena kejadian kemarin sore, Wang Yibo menolak Xiao Zhan untuk membantunya dan menyuruhnya menunggu di rumah bersama Wang Erbo. Kali ini Xiao Zhan tidak membantahnya. Dia dengan patuh menunggu di rumah bersama Wang Erbo.
Setelah kepergian Wang Yibo, Xiao Zhan mengajak Wang Erbo bermain bersama dengan beberapa anak ayam.
Tiba-tiba suara ketukan pintu membuat mereka sedikit terkejut. Senyum Wang Erbo menjadi kaku, dia dengan takut menatap Xiao Zhan yang juga menatapnya dan berkata, "Tunggu sebentar di sini bersama dengan anak ayam. Zhan Ge akan membukakan pintu."
Meski Wang Erbo enggan membiarkan Xiao Zhan membukakan pintu untuk orang lain, dia tetap mengangguk dengan patuh, lalu bermain lagi dengan anak ayam.
Setelah mendapatkan respon dari Wang Erbo, Xiao Zhan dengan tenang berjalan ke pintu depan dan membukanya untuk melihat sosok wanita paruh baya dengan rambut disanggul memegang keranjang bambu di tangannya.
"Bibi Xu," panggil Xiao Zhan ketika mengenali orang yang telah mengetuk pintu rumahnya.
Bibi Xu tersenyum melihat sosok Xiao Zhan yang telah membukakan pintunya. "Aku datang ke sini untuk membawakan pakaianmu yang sudah aku buat dalam beberapa hari kemarin."
Mata phoenix Xiao Zhan tertuju pada keranjang bambu yang dipegang oleh Bibi Xu, lalu mengalihkan perhatiannya kembali ke Bibi Xu sambil tersenyum dan berkata, "Mari masuk, Bibi Xu."
Xiao Zhan membuka lebar pintu rumahnya dan mempersilahkan Bibi Xu masuk terlebih dulu. Kemudian dia menutup pintunya kembali setelah Bibi Xu masuk ke rumah.
Karena rumah ini tidak memiliki kursi tamu, Xiao Zhan mengambil bangku kecil di dekat kamar untuk diduduki Bibi Xu. Sambil meletakkan bangku kecil di dekat Bibi Xu, dia berkata dengan sedikit malu, "Maaf Bibi, kamu harus menggunakan ini untuk duduk."
Bibi Xu melambaikan tangannya, "Tidak apa-apa. Ini baik-baik saja." Kemudian, dia duduk di bangku kecil itu.
Setelah duduk, Bibi Xu menyerahkan keranjang bambu yang berisi pakaian yang telah dibuatnya untuk Xiao Zhan. "Dari beberapa lembar kain yang diberikan padaku, Bibi telah membuatnya menjadi empat set pakaian dan tiga pasang sepatu untuk masing-masing keluargamu."

KAMU SEDANG MEMBACA
I Want To Be Rich [Ongoing]
FanfictionSetelah meninggal akibat penyakit kanker perutnya, Xiao Zhan menemukan bahwa dia telah menjadi seorang pengemis yang sangat kelaparan di Kabupaten Yong'an. *** Menjadi seorang pengemis yang sangat kelaparan membuat Xiao Zhan-mantan pewaris keluarga...