Bagian 2

0 0 0
                                    

Senandung hujan yang turun membuat Nadin ingin tetap dalam posisi tidurnya. Udara dingin yang masuk melalui celah-celah atap membuat ia menaikan selimutnya. Sampai suara adzan subuh berkumandang.

"Ash-Shalaatu khairum-minannaum"

Suara muadzin yang begitu merdu itu masuk ketelinga Nadin.

"Hayya alal-falaah"

Nadin mengerjapkan mata saat suara itu mampu membangunkan tidurnya, meski masih terasa sangat mengantuk berat Nadin tetap memaksakan dirinya untuk bangun dan melaksanakan sholat subuh.

"Allahu Akbar, Allahu Akbar"

Nadin duduk, dan membaca doa setelah adzan selesai berkumandang.

"Allahumma rabba haadzihid da'watit taammah. Wash shalaatil qaa-imah. Aati muhammadal wasiilata wal fadhiilah, wab'atshu maqoomam mahmuudal ladzii wa'adtahu innaka la tukhliful mi'ad, aamiin. "

Nadin beranjak dan masuk kedalam kamar mandi, tidak lupa membawa serta handuk kedalamnya.

Air yang bertambah dingin karna habis hujan itu membuat tubuh Nadin menggigil. Tapi itu tidak menjadi masalah baginya. Setelah beberapa menit Nadin keluar kamar mandi, memakai baju mangset dan celana kerja lalu menggelar sajadah untuk melaksanakan sholat qobliyah subuh, dan sholah subuh sebelum ia berangkat bekerja.

Lantunan surah pendek terdengar dari mulut Nadin, ia yang mencoba fokus pada apa yang sedang ia lakukan. Melaksanakan sholat sunah 2 rakaat sebelum sholat subuh 2 rakaat.


(HR. Muslim) Dalam riwayat lain dikatakan:

"Dua rakaat sebelum Subuh itu lebih aku sukai daripada dunia dengan segala isinya." (HR. Muslim)

Setelah mengucapkan shalat terakhirnya, tidak lupa ia mengangkat tangannya memohon doa pada Sang Pencipta. Menceritakan beban di hatinya, rasa gelisah dan kekhawatiran dalam hatinya.

Tidak lupa Nadin mendoakan kedua orangtuanya, agar Allah melembutkan hati mereka terutama ayahnya. Memohon agar Allah mengampuni dosa dan menjaganya.

Sampai tidak terasa air matanya ikut mengalir. Rasanya lelah sekali menjadi dirinya, tapi ia tetap percaya bahwa Allah tidak akan menguji hamba-Nya melebihi batas kemampuannya.

Nadin semakin terisak kala teringat bagaimana sikap ayahnya pada sang ibu dan dirinya. Hatinya sudah lama merasa kesakitan, berkali-kali ia mencoba memaafkan Robi tapi begitu sulit baginya.

Nadin bersujud begitu lama, mencurahkan kesedihannya. Sampai ia lelah menangis dan pastinya saat hatinya merasa lebih baik karna sudah bercerita tentang resah dihatinya kepada Sang Pencipta.

⋆ ˚。⋆୨♡୧⋆ ˚。⋆

Nadin sudah sampai ditempatnya bekerja. Sudah hampir satu tahun ini menjadi rumah kedua baginya.

"Nadin, kamu gak tidur, apa abis nangis? Mata kamu bengkak gitu." kata Ambar menatap mata Nadin.

Nadin sedikit gugup. "Enggak, Mbar, aku abis nonton film dracin tadi pagi sebelum kerja, eh ternyata lagi part sedih, nangis bentaran doang padahal udah kayak gini." Jawabnya, yang jelas itu bukan kebenarannya. Nadin menatap samar pantulan wajahnya melalui layar handphone.

Kringg

Suara bel cafe berbunyi, menandakan ada pelanggan baru yang datang.

"Selamat pagi, Kak, selamat datang di Cafe KALALA. Mau pesan yang mana, Kak?" Ucap Ambar menyambut pada pelanggan yang baru datang.

BAHTERA (ON GOING)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang