Chapter 6

164 9 0
                                        

Selamat Membaca
.
.
.
.
.
.
>⁠.⁠<

Di dalam ruangan yang penuh dengan aura maskulin yang dikenal sebagai markas mereka. Ruangan itu luas yang dipenuhi sofa kulit hitam dan layar besar di dinding. Ada mini-bar di sudut yang dilengkapi dengan kulkas penuh minuman energi dan camilan. Suasana modern namun santai itu seolah mencerminkan status mereka sebagai putra-putra dari keluarga kaya dan berpengaruh.

Cahaya layar televisi memantul di wajah Kiba, Sai, Sasuke, dan Gaara yang duduk bersila di lantai, jari-jemari mereka bergerak cepat di atas joystick PlayStation, sementara suara debat dan ejekan mereka mengisi udara. Mereka terpaku pada permainan dan tidak ada yang ingin kalah untuk setiap detik terasa seperti pertarungan hidup dan mati.

"Serang dari kanan, Gaara!" seru Kiba, suaranya tegang namun penuh semangat.

"Tutup mulutmu, Kiba!" balas Gaara dingin dengan matanya fokus pada layar. "Aku tahu apa yang harus kulakukan."

"Kau curang, Sai!" Kiba berseru frustrasi ketika Sai hampir mengalahkannya.

Sai hanya terkekeh dengan senyum tipis penuh ejekan terukir di wajahnya. "Bukan salahku kalau kau tak cukup pintar untuk mengalahkanku," balasnya.

Sasuke menggerakkan stiknya dengan tenang dan mata onyx-nya terfokus pada layar. "Kalian terlalu berisik," gumamnya, suaranya seperti desisan angin padang pasir yang tandus, namun cukup kuat untuk membuat Kiba mendengus kesal.

Di sudut lain ruangan tersebut, Naruto yang duduk di depan laptop yang pandangannya hanya tertuju pada layar yang penuh dengan tulisan. Jemarinya sesekali mengetik serta matanya yang bergerak cepat dari satu baris ke baris berikutnya. Suara berisik dari teman-temannya seperti angin lalu baginya, dia seolah tenggelam dalam pekerjaannya dan tak terpengaruh oleh keributan di sekitarnya. Hanya desahan pelan yang keluar dari bibirnya sesekali yang menandakan bahwa dia begitu fokus.

"Kau kalah, Kiba." ejek Sai sambil melirik ke arah Kiba.

Kiba melongo, tak percaya bahwa dia benar-benar kalah. "Sialan, Itu hanya keberuntunganmu saja," dengusnya pelan lalu menyimpan kontrolernya, beranjak berdiri lalu duduk disofa, begitupula dengan Sasuke dan Gaara.

Pintu markas terbuka perlahan yang menampilkan Shikamaru berjalan masuk dengan ekspresi bosan khasnya dengan kedua tangannya terbenam dalam saku celana. Langkahnya tenang dan malas, seolah berat beban dunia bertumpu di pundaknya. Tanpa banyak bicara, dia mendudukkan diri di sebelah Gaara yang tengah sibuk dengan ponselnya.

"Kau tampak lelah, kawan," ujar Sai sambil melemparkan kaleng minuman dingin ke arah Shikamaru.

Shikamaru menangkapnya dengan mudah, membuka kaleng itu dan langsung meneguk isinya. Sembari menelan, matanya melirik ke arah Naruto yang duduk tak jauh dari mereka yang fokus sepenuhnya tertuju pada layar laptop di depannya. "Sudah berapa lama dia di sana?" tanyanya dengan nada bosan.

Sai mengangkat bahu lalu menyandarkan tubuhnya dengan santai di sofa. "Sejak sejam yang lalu." ucapnya.

Mereka semua memang sudah terbiasa melihat Naruto seperti itu. Di saat yang lain menikmati waktu istirahat mereka di kantin, Naruto lebih sering memilih untuk tenggelam dalam pekerjaannya, memeriksa dokumen demi dokumen di depan laptop. Di usianya yang masih muda, sudah memikul tanggung jawab dalam membantu ayahnya untuk mengurus perusahaan ibunya- Uzumaki Corp, sementara ayahnya sendiri mengelola Namikaze Corp.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Nov 16, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Shadow Of LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang