ASA POV
Tidak ada kegiatan yang bisa gue lakukan di akhir pekan. Teman-teman gue sibuk semua. Raymond atau gue lebih sering manggil dia Rami sedang ada kerjaan di LA dari seminggu yang lalu. Arthur ada janji kencan dengan perempuan yang dia sebut sebagai pacar. Akhirnya hari Minggu gue habiskan dengan berdiam diri di apartemen seharian.
Menjelang sore, gue terbangun karena suara dering telepon, "sha, lagi nyantai gak? Jalan yuk!" Gue mengernyitkan kening, mengingat nama si pemilik suara. Rasanya agak asing di telinga. Bahkan gue belum menyimpan nomornya.
Baru dua kali bertemu, perempuan bernama Raisa ini sering bertindak impulsif. Mungkin karena pekerjaannya sebagai model membuat dia bertemu dengan banyak orang yang mengharuskan dia bertindak seimpulsif itu. Minta nomor gue duluan, mengajak makan siang duluan, langsung menelpon saat pesannya diabaikan, sekarang tiba-tiba ngajak gue jalan.
"Sekarang banget? "
"bisa jemput aku kan ya?" Tanyanya.
"Kayaknya dari tadi gue belum mengiyakan ajakan loe". Yakali gue baru bangun tiba-tiba diajak jalan. Tiba-tiba ditanya bisa jemput atau enggak. Nyawa gue aja belum sepenuhnya terkumpul.
"Eh. Sorry gue ganggu loe ya? Gue kira loe lagi free weekend gini".
"Engga ganggu sih, cuma gue baru banget bangun nih, lain kali aja ya? Sorry"
"Okay. Whenever you have time. Gue juga minta maaf ya Sha.. rest well, have a good time off" Raisa memutuskan panggilannya setelah mengatakan hal manis tersebut. Namun rasanya hambar di telinga gue.
Gue merutuki keputusan gue untuk banyak tidur di hari Minggu, sebab malam seninnya gue malah tidak bisa tidur sama sekali sampai jam tiga dini hari. Tidur hanya empat jam, habis itu bangun lagi buat siap-siap ke kantor. saat gue tengah berusaha membuka mata selebar mungkin sambil berjalan menuju wing kanan lantai dua puluh. Gue mendapati sosok hitam yang berdiri di depan pintu ruangan.
"Oh shit" jantung gue bekerja lebih cepat, sampai rasa kantuk gue hilang seketika. Perempuan itu malah terdiam tanpa rasa bersalah setelah membuat gue kaget setengah mati.
"Kamu ngapain sih berdiri dipojokan pintu, mana pake baju hitam lagi bikin kaget orang aja" gue masih merasa kesal karena dibuat kaget tadi.
"Saya enggak bermaksud membuat kaget, bapak sendiri yang bilang keputusan soal kemarin ditunggu hingga hari Senin. Saya akan mengambil kesempatan tersebut Pak".
" Good decision" gue menyunggingkan senyum tipis tanpa terlihat olehnya, mengeluarkan access card untuk membuka pintu ruangan.
"Apakah ada hal yang perlu saya ketahui berkaitan dengan perkejaan saya?" Tanyanya.
" The thing you have to learn first, jangan panggil saya Bapak. Saya belum setua itu untuk kamu panggil Bapak"
"And ,the second?"
"Kayaknya mbak sakura meninggalkan catatan di laci mejanya. Kamu bisa baca dan pelajari dulu itu. Ada penjabaran soal job-desc apa aja yang harus kamu kerjakan dari mulai datang sampai pulang". Setelah mengatakan itu dia mengangguk dan berlalu ke meja yang gue maksud. Gue mengangkat gagang telepon dan menekan beberapa angka di tombolnya. Bermaksud menghubungi bagian HRD yang mengurus soal kontrak kerja karyawan.
"Selamat pagi, pak Bobby udah dstang belum ya? "Ternyata orang yany mengangkat telepon adalah orang yang gue cari.
"Oh saya Pasha. Plan manager. Begini pak, terkait sekretaris yng menggantikan mbak sakura selama cuti, sudah ada penggantinya dan hari ini sudah mulai bekerja. Bisa segera di proses kontraknya?" Gue mengatakan itu sambil menatap ke arah orang yang tengah duduk dab sibuk membaca.
"Jadinya siapa penggantinya pak Pasha? Beberapa waktu lalu saya dengar dari staf. Bu sakura malah minta data salah satu staf katanya"
"Ya, bener pak. Gantinya Xaviera Putri Aurora. Salah satu staf perencanaan. Mungkin bisa ditarik staf lain untuk menggantikan posisi tersebut. Kemarin saya juga sudah meninjau kontranya, untuk sementara diperbarui sesuai dengan lamanya bu Sakura cuti aja" pandangan kami bertemu. Dia tidak sengaja menatap kr arah gue
"Baik Pak, terimakasih, saya tunggu.." panggilan tersebut selesai.
"Pak- ah, maaf saya belum terbiasa. Maksud saya, apa pagi ini anda mau sarapan atau kopi mungkin?" Tanya perempuan itu. Gue bingung tiba-tiba ditawari sarapan atau kopi.
" Hal itu tertulis dibuku? Tanya gue, dia mengangguk.
"Masuk ruangan, menyalakan AC, membereskan meja, mengecek tempat sampah, mengecek schedule dan berkas masuk, menawarkan sarapan, Snack, atau kopi.. lalu-"
"Cukup cukup, kamu gak perlu membacakan semuanya ke saya" gue ga nyangka mbak sakura menulis sedetail itu di buku catatannya. Gue berharap tidak ada tulisan aneh tentang gue di dalamnya.
"Saya hanya perlu kopi pagi ini, terima kasih sebelumnya" gue butuh kafein banyak agar kedua mata ini bisa tetap terbuka hingga sore nanti.
Xaviera benar-benar orang yang sangat cepat beradaptasi dan cukup cekatan, bahkan seharian itu dia bisa paham apa yang gue jelaskan dalam sekali tangkap. Menjelang pulang, dia belum beranjak, merasa tidak nyaman karena gue masih berada di ruangan.
"Kamu nggak akan pulang?"
"Emangnya saya boleh pulang sebelum anda pulang?"
"Buat apa dikantor kalo ga ada overtime ?" Gue mengatakan itu sambil bersiap-siap untuk pulang.
"Kamu belum punya access card ke ruangan ini. Bagaimana nanti kamu keluar ruangan kalo saya pulang duluan. Besok pagi kamu nggak perlu langsung naik ke lantai dua puluh. Langsung ke ruang meeting lantai satu di samping ruang HRD aja. Ada training managerial skill for secretary sampai jam sembilan. Udah ada email soal itu?"
Dia mengangguk sambil terburu-buru ikut membereskan barang-barangnya dan berjalan mengikuti gue di belakang. Tingkahnya malah terlihat menggemaskan, seperti anak kecil yang takut ditinggal.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Improptu Secretary [RORASA]
Fanfictionbukan GxG ya cuma pinjem visual nya aja, karena author gatau boygrup K-Pop lain selain treasure. sebagian juga terinspirasi dari nama pemain Clash of Champions ruang guru. karena pas bikin cerita ini lagi nonton COC 🤭
![The Improptu Secretary [RORASA]](https://img.wattpad.com/cover/375689052-64-k725041.jpg)