weekend 2

328 21 11
                                        

ASA POV

Ketika gue banyak pikiran gue sering melampiaskannya dengan bekerja. Semacam pengalihan. Gue akan mengerjakan apapun sampai pikiran gue sibuk dan tak ada celah untuk memikirkan masalah. Itulah mengapa gue masih berada di kantor padahal ini weekend.

Siang ini harusnya gue ada perjalanan dinas ke Gorontalo, tapi tadi pagi pihak sana meminta meeting nya ditunda, untungnya temen-temen gue ngajak nongkrong malam ini. Terakhir kali gue nongkrongz rokok treasure luxury black milik Rami tertinggal dan kebetulan gue yang simpan. Dia menemui gue di kantor dengan alasan mengambil rokok  sekaligus menjemput gue. Padahal gue yakin kalaupun hilang, dia bisa membelinya lagi.

"Anak baik-baik loe kemana? Ngga ikut masuk juga dia?" Gue termenung memikirkan pertanyaannya. Gue baru ingat pernah menyebut Xaviera dengan sebutan"anak baik-baik" saat diskusi terakhir.

"Cuma meeting doank, nggak nyampe setengah jam, nggak butuh notulis juga"

"Make a bet?" Ajaknya tiba-tiba

"What kind of bet do you want to make?" Tanya gue

" Loe telepon sekretaris loe, minta dia dateng kesini terus kenalin ke gue. Gue penasaran sebaik apa dia?"

"Taruhannya sebelah mana? Itu sih minta dikenalkan doank"

"Belum selesai elahh, kalau ternyata gue bisa menaklukkan dia, membuat dia terpesona dengan gue, kartu kredit loe dua Minggu gue pegang. Kalau ternyata dia sebaik yang loe bilang, kartu gue loe yang pegang dan loe bebas melakukan transaksi apapun dengan kartu gue. Gimana?"

Gue memikirkan hal tersebut , diluar sedang hujan lebat. Rasanya kurang etis memintanya datang saat sedang libur seperti ini.

Tapi, kalo gue menolaknya dengan alasan kasian, Rami akan membuat konklusi macam-macam.

"Sure" gue mengambil ponsel dan menghubungi Xaviera.

"Loud speaker donk biar seru.." pintanya antusias. Gue berharap saat itu Xaviera memang lagi sibuk dan tisak sempat menjawabnya hingga taruhan tak jelas dengan Rami ini dibatalkan. Namun pada dering kesekian suara lembutnya terdengar.

"Halo, ada apa ya Bapak menghubungi saya?"

"Cancel penerbangan saya ke Gorontalo siang ini. Meeting nya ditunda, kamu reschedule sekarang, saya tunggu kamu dikantor, kebetulan saya lagi dikantor" Rami  tertawa saat gue dengan cerdas mendapat alasan untuk membuatnya datang.

"Sekarang banget , pa.. Bos? " Telinga gue merasa aneh mendengar panggilannya.

"Iya sekarang, itulah kenapa saya nelpon kamu sekarang, Xaviera"

"Kalo saya cancel dari sini, terus reschedule nya saya kerjakan sore ini bagaimana? Saya langsung ke Outlook secepatnya. Maaf sebelumnya. Sekarang saya lagi ada kegiatan penting sama temen-temen saya di In caffe"

"Bukannya bagus? Tempat itu ada dikawasan menteng kan? Kamu malah Deket ke kantor. Dua puluh menit juga nyampe"

" Apa nggak sebaiknya..."

"Saya nggak suka penolakan" Belum selesai dia bicara gue memutuskan sambungannya.

Gue makin merasa tidak nyaman saat melihat diluar hujan makin deras, kalau dibatalkan sekarang, pasti Xaviera sudah setengah perjalanan.

"Kenapa loe? Cemas banget kayaknya"

"Kalo dia ga Dateng? Berarti taruhannya batalkan? Bukan berarti gue yang harus bayar"

" Ayolah, blackcard aja loe punya banyak. Hal kayak gini bukan jadi masalah besar buat pewaris tunggal pemilik Brawijaya company, right?" Gue mendelik malas

" Yes, for Andrew Wijaya. But not for me as a planning manager" semenjak lulus kuliah. Gue nggak pernah menggunakan uang dari bokap. Bukan karena tidak diberi, lebih ke gue yang nggak mau menerimanya lagi, bodohnya gaji gue sekarang pun sejatinya dari dia juga. Sejak lulus S2 dan kembali ke Indonesia. Gue tidak pernah pulang ke rumah. Gue sudah tinggal di apartemen sendiri.

RORA POV

"Saya enggak suka penolakan" tegasnya. Ini yang ku maksud menjadi sekretaris job-desc nya nggak jelas.

Dengan lesu aku kembali berjalan menuju meja untuk mengambil tasku yang masih berada disana, sekaligus berpamitan dengan yang lain.

"Itu muka kenapa ditekuk begitu? " Kata Dian ketika aku kembali ke meja.

"Sorry banget nih, aku harus pergi sekarang" kataku memelas.

"Loh. Kenapa mendadak banget? Baru juga sepuluh menit yang lalu kuta ketemu , Ra" tanya Hana

"Ada urusan mendadak dikantor dan harus dikerjakan sekarang, new job, new boss itu artinya new disaster kan? " Jawabku

"Its okay,no prob, santai aja kali Ra, prioritaskan dulu aja apa yang lebih penting" kata kak Haris, kalo boleh jujur aku ingin menjawab kak Haris yang jadi prioritasku saat ini, tapi apa pedulinya, dia juga bukan siapa-siapa.

"Bener,santai aja. Nanti aju kirim ke kamu hasil rapatnya, tapi nanti traktir ya , pake gaji pertama!" Kata Mina.

Setelah mendapat Acc dari teman-temanku, aku pun berjalan ke halte didepan. Seseorang memanggilku

"Xaviera, kakak anter ya?"

" Nggak usah deh kak, nanti gimana rapatnya?" Kataku

"Kantor kanu deket kan dari sjni? Kamu lagi buru-buru juga. Mereka bukan anak kecil yang harus selalu dibimbing ketua pas lagi rapat, nanti yang lain juga dateng" jawabnya

" Lagian mau hujan juga kayaknya, kamu pasti gak bawa payung"

"Beneran gak usah kak, thank before. Mereka emang bukan anak kecil tapi mereka butuh kak Haris buat meredam kalo mereka udah mulai nge reog" jawabku.

"Yaudah tunggu sebentar disini" katanya. Kak Haris masuk lagi ke dalam kafe. Sepertinya hendak mengambil sesuatu yang tertinggal.

Beberapa menit kemudian kak Haris keluar lagi dari kafe dengan sebuah benda ditangannya" sebenernya ada yang mau kakak tanyakan sama kamu, tapi kayaknya timingnya kurang tepat kalo sekarang" katanya

"Nih, bawa buat jaga-jaga kalo hujan beneran" lanjutnya sembari menyerahkan payung lipat padaku

"Nanya tentang apa kak? Ini payung milik siapa?" Tanyaku. Tak mungkin payung bermotif kupu-kupu itu milik kak Haris.

"Itu payung punya Hana. Mmm maybe next time kakak kasih tau ya Ra" jawab kak Haris.

" Terus nanti kalo Hana pulangnya hujan gimana?" Lanjutku

"Hana bisa pulang bareng sama kaka, lagian rumahnya hana kelewat kok. Tuh sana ada bus, hati-hati ya . Kalo kamu nggak dapet kendaraan lagi atau pulang kemalaman, telepon kakak aja. Pasti diangkat kok" katanya

Bagaimana bisa rasa kagumku pada kak Haris menipis kalo dia selalu bersikap seperhatian ini padaku?

Kalo aku sebaik kak Haris, apa orang-orang tidak akan salah paham dengan sikapku? Karena lagi-lagi aku salah paham dengan sikap baiknya.

To be continued

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 03, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

The Improptu Secretary [RORASA]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang