BAB 26

234 77 42
                                        

Pagi hari setelah insiden malam sebelumnya, suasana di rumah Agatha masih tegang

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Pagi hari setelah insiden malam sebelumnya, suasana di rumah Agatha masih tegang. Anggota Atlantis dan The Queen's berkumpul di ruang tamu untuk rapat darurat, tetapi suasana tenang itu tidak lama bertahan. Kertas teror dengan pesan mengancam “Kau akan mati!” belum sepenuhnya diatasi, dan ketegangan semakin meningkat.

“Sekarang kita harus lebih waspada,” kata Skala. “Teror ini menunjukkan bahwa pelakunya bisa jadi ada di antara kita.”

“Lalu gimana caranya kita tahu siapa pelakunya?” tanya Reyhan, wajahnya tampak cemas. “Kita gak bisa terus-terusan hidup dalam ketidakpastian kayak gini.”

“Aku rasa kita harus memeriksa satu sama lain,” ujar Keyla. “Kita gak punya pilihan selain mencari tahu siapa yang bisa jadi pengkhianat di antara kita.”

Usul Keyla menambah ketegangan di ruangan. Semua orang saling menatap dengan curiga.

“Jangan-jangan ada di antara kita yang sebenarnya bekerja sama dengan pelaku,” kata Naura, nada suaranya penuh keraguan.

Alva berdiri dan berkata, “Ini udah kacau banget. Kita harus memastikan semua orang punya alibi yang jelas malam tadi. Siapa tahu ada yang aneh?”

Semua anggota mulai memeriksa alibi masing-masing, dan setiap pertanyaan hanya menambah kecurigaan. Ada yang terlihat gak nyaman saat menjelaskan posisinya malam tadi. Saling tuding dan tuduhan mulai merebak di antara mereka.

“Kalau gitu, kenapa lo gak ada di tempat yang lo bilang?” tanya Skala kepada Dika, yang terlibat dalam diskusi dengan nada defensif.

Dika terlihat kesal. “Gue udah bilang, gue di kamar. Gue juga gak tahu kalau ada yang datang.”

“Kalau gitu, mana buktinya?” potong Naura. “Kita semua bisa dikhianati. Kalau ada yang gak beres, kita harus tahu.”

---

Suasana Memanas

Situasi makin panas. Setiap anggota geng mulai saling meragukan. Skala mencoba meredakan ketegangan.

“Gak ada yang keluar dari rumah ini tanpa sepengetahuan kita,” tegas Skala. “Kita harus memastikan gak ada yang bisa menyelinap keluar atau masuk.”

Di tengah kekacauan, Avka mencoba mencairkan suasana. “Gue rasa... kita butuh break sebentar. Jujur, gue stres banget. Bahkan muka Aksa yang biasanya cakep aja, sekarang bikin gue pengen nangis.”

“Eh, apaan lo! Gue cakep setiap saat, oke!” balas Aksa dengan nada bercanda, membuat beberapa orang tertawa kecil.

“Avka, ini serius,” kata Skala sambil menatap tajam.

“Gue tahu. Tapi kadang gue mikir, jangan-jangan pelakunya itu gue. Soalnya gue suka banget bikin masalah... sama perut gue sendiri,” kata Avka sambil mengusap perutnya.

Meskipun beberapa orang tertawa kecil, suasana tetap tegang. Skala mengatur strategi. “Kita harus pecah jadi beberapa tim buat investigasi. Gue, Agatha, sama Alva akan cek area luar rumah. Keyla dan Naura cek kamar satu-satu. Avka dan Aksa, lo dua cek dapur sama gudang. Alana, lo cek CCTV lebih detail lagi. Ada pertanyaan?”

MY BEST ENEMY ( SUDAH TERBIT) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang